
...☆☆☆☆☆☆☆☆☆...
Para siswa berbincang-bincang di kelas, ada yang berkejar-kejaran, ada yang ribut, ada juga yang membaca buku untuk mengisi jam kosong. Nayla duduk di bangku paling pojok di belakang. Ia mengisi jam kosong kali ini dengan membaca novel yang dipinjamkan Satya kemarin. Ia memilih bangku paling belakang agar bisa berkonsentrasi karena bangku-bangku yang ada di depan sangat ribut karena perbincangan teman-temannya.
"Si cantik khusyuk banget sih bacanya," Fahmi tiba-tiba bersuara di dekat Nayla. Entah kapan Fahmi disana, Nayla tak menyadarinya karena terlalu khusyuk membaca buku. Ia menoleh dan tersenyum.
"Fah, Sejak kapan duduk di sini?" tanya Nayla.
"Sejak kamu fokus banget sama buku itu," jawab Fahmi, ia menopang dagunya.
"Berarti kamu udah lama di sini dong?" tanya Nayla.
"Ya, begitulah," Fahmi mengangkat pundaknya, "kamu baca apaan sih, kok bisa-bisanya sampe nggak sadar ada orang ganteng di samping kamu," ucap Fahmi percaya diri.
"Ih, narsis banget sih Fah," ucap Nayla tertawa.
"Aku kan emang ganteng dari lahir, kamu nggak sadar?" tanya Fahmi.
"Kepedean banget tau nggak," ucap Nayla kembali membaca buku, "aku baca novel, mau baca? Ceritanya bagus banget Fah," ucap Nayla kembali menghadap Fahmi. Fahmi merebut novel itu dari tangan Nayla.
"Fahmi apaan sih, aku kan masih baca," ucap Nayla hendak merebut novel itu, tapi dia kalah cepat dari Fahmi.
"Bentar, aku mau liat sebagus apa sih novelnya sampe-sampe sahabatku yang cantik ini nggak sadar kalo ada orang paling ganteng di sampingnya," ucap Fahmi yang membuat Nayla memutar bola mata malas mendengar perkataan sahabatnya. Fahmi membuka Novel itu, terlihat dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Nayla hanya diam memperhatikan.
"Novelnya emang bagus sih, tapi kok nggak ngomong kalo ada novel gini, nanti kalo kamu udah selesai baca, kasih aku ya, aku juga mau baca". ucap Fahmi memberikan novel itu pada Nayla.
"Kalo kamu mau, nanti sore kamu datang ke rumah buat ambil," ucap Nayla.
"Kamu baca sampe habis aja dulu, baru kamu pinjemin ke aku," ucap Fahmi.
__ADS_1
"Aku baca beberapa halaman lagi juga habis," ucap Nayla lanjut membaca tanpa menoleh ke arah Fahmi.
"Yaudah nanti aku ke rumah, sekalian, aku juga mau balikin buku yang kemarin," ucap Fahmi. Nayla hanya mengangguk. Mereka duduk berdua di belakang dengan Nayla yang sedang membaca dan Fahmi memperhatikan Nayla.
Bel berbunyi menandakan waktu istirahat telah tiba. Semua siswa keluar dari kelas masing-masing dengan tempat tujuan yang berbeda-beda, ada yang pergi ke kantin, ada yang ke mushalla dan berbagai tempat lainnya. Sedangkan di kelas VIIIB Nayla dan Fahmi masih setia duduk di bangku belakang.
"Nay, kamu nggak keluar?" Tanya Fahmi karena Nayla tidak beranjak sedikitpun dari bangku itu, Nayla juga sudah menutup novel yang ia baca sejak tadi.
"Nggak Fah, aku mau di sini aja, aku mau tidur sebentar," ucap Nayla melipat tangannya di atas meja dan menyembunyikan wajahnya di sana. Ia memang mengantuk karena tadi malam ia tak bisa tidur.
"Yaudah kalo gitu aku ke kantin ya," ucap Fahmi bangkit dari duduknya. Nayla hanya mengangguk di dalam lipatan tangannya. Fahmi keluar dari kelas.
Nayla mencari posisi yang nyaman untuk terlelap sebentar. Setelah nyaman dengan posisinya, Nayla memejamkan mata.
Awalnya ia benar-benar memejamkan mata, tapi lama-kelamaan dirinya teringat pujian Satya yang mengatakan dirinya cantik, mengingat itu, Nayla tersenyum. Ah, tiba-tiba hatinya bergejolak ingin bertemu dengan Satya.
Nayla menghela nafas, karena perasaan inilah yang membuatnya tidak bisa tidur semalam. Nayla melihat pintu, berharap Satya masuk ke dalam kelasnya.
Mengapa rindu ini begitu berat, beban ini juga memberatkan, tapi mengapa melihatmu, semua beban terasa ringan, hatiku bahagia tanpa aku tau sebabnya, aku berbunga-bunga, jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya, pipiku juga merona. Tapi aku harap ini bukan cinta, aku tak mau mencintai orang yang salah sebelum waktunya, lebih tepatnya aku tak mau mencintai manusia sesempurna dirimu.
Fahmi masuk ke dalam kelas setelah beberapa lama ia keluar, ia terlihat menenteng plastik yang berisi makanan. Tapi, kenapa wajah Fahmi memerah, apakah karena terkena sinar matahari? Tapi hari ini kan gerimis, ah sudahlah, Nayla tak mau ambil pusing.
"Nay, makan dulu," Fahmi duduk di dekat Nayla dan mengeluarkan semua isi palstik itu.
"Wajah kamu kenapa Fah?" tanya Nayla, sebenarnya ia tak mau bertanya, tapi ia begitu penasaran.
"Emang wajah aku kenapa?" Fahmi balik bertanya. Nayla terdiam dan menggeleng. Nayla menangkap sepertinya Fahmi sedang marah, jadi ia urung untuk bertanya, mungkin Fahmi habis bertengkar dengan temannya di luar fikir Nayla.
"Makan Nay," ucap Fahmi.
__ADS_1
"Makasih Fah," ucap Nayla, Fahmi mengangguk.
Mereka menikmati makanan mereka sembari berbicara ringan, tentunya Nayla tak lagi bertanya mengenai wajah merah Fahmi, menurutnya itu disebabkan karena terjadi sesuatu di luar.
Nayla meneguk minuman di tangannya, kemudian memasukkan bungkus-bungkus makanan itu ke dalam plastik untuk dibuangnya.
"Biar aku yang buang Nay," ucap Fahmi merebut plastik itu dari tangan Nayla.
"Nggak apa-apa Fah biar aku aja," ucap Nayla yang sudah hampir sampai di pintu kelas.
"Nggak usah, biar aku aja yang buang, mending kamu lap meja itu biar bersih," ucap Fahmi menunjuk meja tempat mereka makan tadi, Nayla menurut.
"Yaudah," ucap Nayla kembali ke meja itu dan mengelapnya dengan tisu. Sedangkan Fahmi keluar dan membuang sampahnya di bak sampah yang ada di luar kelas.
Setelah meja itu bersih, Nayla kembali duduk di sana, ia menghadap pintu menunggu Fahmi yang keluar terlalu lama, padahal hanya membuang sampah. Tapi tak sengaja, Nayla melihat seperti bayangan seseorang yang sedang melihat ke dalam, tapi bayangan itu langsung menghilang ketika Nayla melihat kembali ke arah pintu.
"Mungkin itu Fahmi kali ya?" Nayla bertanya-tanya, "tapi kenapa nggak masuk? Mungkin aku salah liat," ucap Nayla meyakinkan diri. Nayla ingin melihat ke luar, tapi ia sangat takut, Fahmi juga belum kembali dari tadi, membuat Nayla semakin merinding, apalagi ia hanya sendiri.
Tak lama kemudian Fahmi kembali ke kelas, Nayla menceritakan tentang bayangan yang tak sengaja ia lihat di balik pintu, tapi Fahmi tak merespon apa-apa membuat Nayla jengkel dan tak ingin bercerita lagi.
"Kamu salah liat kali Nay," ucap Fahmi setelah terdiam sangat lama, membuat Nayla semakin jengkel.
"Tapi tadi itu jelas banget Fah, aku juga mikirnya cuma salah liat aja, tapi bayangan orang itu jelas banget Fah," Nayla kembali bercerita.
"Mungkin itu cuma siswa yang lagi lewat Nay," Fahmi mengelus kepala Nayla.
"Mungkin juga sih," Nayla terlihat berfikir. Ia mencoba untuk melupakan masalah tadi dan membicarkan hal lain dengan Fahmi agar rasa takutnya hilang.
Bel berbunyi membuat pembicaraan mereka terhenti, mereka berjalan ke bangku masing-masing.
__ADS_1
"Yang tadi nggak usah difikirin Nay, aku yakin itu cuma siswa yang lewat, kalo nggak lewat, berarti dia lagi iseng-iseng aja," ucap Fahmi menenangkan Nayla.
"Iya Fah," Nayla tersenyum dan duduk di bangkunya.