
Hari-hari Nayla, rasanya tidak jauh-jauh dari Tomy pada saat itu. Sampai dimana satu Minggu kemudian.
" Halo yah." Nayla yang sedang duduk di sofa ruang tamu tempat kostnya.
" Iya Nay. Bagaimana kabar kamu?"
" Aku baik yah, Bagas ingin bertemu sama ayah."
" Buat apa?"
" Nanti ayah pasti tahu apa maksudnya dia bertemu dengan ayah."
" Apa dia tidak jelas, kalau ayah kurang begitu suka dengannya."
" Ya, tidak sukanya itu kenapa yah."
" Kamu lupa." Ayah Nayla yang berusaha membangkitkan memory anaknya.
" Itu kan masa lalu, Bagas sudah banyak berubah."
" Tetap saja ayah tidak begitu suka dengan nya."
" Okay, kalau ayah tidak suka dengannya tidak masalah, bilang langsung ke dia, biar dia paham dan tidak kekeh lagi kepada ku dan meminta ku supaya mempertemukan nya dengan ayah."
" Itu kan kekasih kamu, kamu bisa bilang ke dia kan."
" Dia tidak percaya kalau bukan ayah langsung yang berkata kepadanya."
" Ya sudah, kapan dia ke rumah."
" Hari ini. Ini aku mau jalan pulang ke rumah ibu."
" Lha kamu dimana?"
" Maaf aku lupa bilang ke ayah, kalau aku sekarang dipindah di Surabaya Utara."
" Terus kamu ngekost?"
" Iya yah, aku ngekost."
" Ya sudah hati-hati. Ayah tunggu di rumah, kamu sama Bagas."
Percakapan lewat sambungan seluler antara Nayla dan ayahnya berakhir.
" Tom, aku pergi dulu ya." Nayla yang melihat Tomy bermain gitar di sofa ruang tamunya yang pintu utamanya terbuka lebar.
" Mau kemana kamu Nay?"
" Aku pulang ke rumah ibu aku dulu Tom."
" Hati-hati Nay." Tomy yang berdiri melihat mobil Nayla yang berjalan hingga hilang dari balik pagar tinggi yang menjulang.
****
" Aku pulang bu."
Ibu Nayla yang terlihat sibuk menyiapkan masakan untuk kedatangan putrinya. " Sudah sampai Nay."
__ADS_1
" Iya, Bagas belum sampai."
" Belum."
" Assalamualaikum." Terdengar suara Bagas yang berdiri di balik pagar yang belum sempat Nayla tutup setelah dia memarkir mobilnya.
" Masuk yang!" Ujar Nayla berdiri di dekat pintu utama rumahnya.
Bagas berjalan memasuki teras dan menuju ke arah Nayla berdiri. Ibunya Nayla yang menghampiri keduanya pun di sambut dengan Bagas yang meraih tangan ibunya Nayla untuk dicium punggung tangannya. " Siang Tante."
" Iya Gas, gimana kabar kamu?" Tanya basa-basi ibunya Nayla.
" Baik tante."
" Katanya akan pergi ke rumah ayahnya Nayla."
" Iya Tante, kita langsung pergi aja ya."
" Tidak masuk dulu, minum dulu."
" Terimakasih tante, tidak usah." Bagas dengan lagak santunnya di depan ibunya Nayla.
" Kita pergi dulu ya Bu." Nayla yang berjalan beriringan dengan Bagas menuju mobil Bagas yang terparkir di depan pagar rumahnya.
" Hati-hati!"
" Iya Tante." sahut Bagas.
Nayla dan Bagas yang memasuki posisinya masing-masing di dalam mobil. Mobil berjalan menuju ke arah rumah ayah Nayla yang tidak begitu jauh dari rumah ibunya.
Di dalam mobil, tidak mungkin mereka tidak bersuara. Bagas mencoba melunakkan suasana yang terkesan berbeda dari sebelum-sebelumnya. " Kamu sudah makan belum?"
" Kamu juga sudah beri tahu ayah kamu tentang kedatangan ku."
" Iya sudah."
" Terus katanya apa?"
" Lihat saja nanti. Kamu kan tidak percaya dengan ku."
" Bukan begitu Nay."
" Ya sudah tidak usah tanya." Nayla yang sepertinya sudah malas menjalani kisah cinta dengan Bagas yang dia sendiri juga tidak tahu mengapa dia begitu dingin dan maunya uring-uringan dengan Bagas.
" Sudah cari kerja belum?"
" Belum."
Nayla kemudian membanting punggungnya dan menyandarkan separuh tubuh bagian atasnya pada tempat duduknya. Memberi isyarat pada Bagas bahwa dia pasrah dengan sikap Bagas yang menurutnya kurang greget dalam mencari pekerjaan.
" Cari kerja kan juga tidak mudah Nay."
Nayla yang tidak menggubris Bagas " Masuk gapura sini!" Nayla yang memberi petunjuk arah masuk ke dalam perumahan menuju ke rumah ayahnya.
Beberapa menit kemudian, mobil Bagas berhenti di depan pagar bercat putih dan rumah dengan dinding warna putih berpadu dengan abu-abu tua. Nayla dan Bagas keluar dari mobil.
" Masuk Nay." Teriak ayahnya Nayla yang sudah duduk di teras.
__ADS_1
Bagas mencium punggung tangan ayah Nayla. Ayah Nayla sepertinya sudah mempersiapkan kedatangan anak perempuannya dan juga kekasihnya. Di atas meja sudah disuguhkan dengan aneka kue dan roti begitu juga dengan minuman yang menyegarkan suasana panas cuaca hari itu.
" Silahkan duduk mas!"
" Iya om." Bagas merasa bergetar kala berhadapan langsung dengan ayahnya Nayla. pernah dia bertemu sebelumnya namun kali ini jantungnya berdegup kencang terdengar berantakan.
" Apa mas Bagas, Nayla bilang ke om, kalau mas Bagas ingin bertemu dengan Om."
" Iya om, jadi saya rencananya ingin sekali hubungan saya dan Nayla bisa lanjut ke jenjang yang lebih serius."
" Om, tidak masalah. Mari kita lupakan yang lalu. Karena pada kenyataannya sekarang kalian masih bersama."
" Terimakasih om." Bagas tersenyum bagaikan mendapatkan angin segar.
" Tapi ingat Bagas, om tidak akan menyetujui kalian menikah, sebelum kamu mendapatkan pekerjaan tetap dan layak."
" Tapi saya punya usaha om."
" Usaha apa?"
" Sayur Hidroponik yang hasil panennya sudah saya distribusikan ke hotel-hotel. Dan ini masih ingin mengembangkan lebih jauh lagi om."
" Begini ya nak Bagas, om tahu orang tua kamu kaya raya. Itu bukan jaminan buat om lantas dengan mudahnya menikahkan kalian begitu saja. Om sangat menghargai usaha kamu. Tapi disini boleh kamu memiliki usaha, namun om berharap alangkah baiknya memiliki pekerjaan tetap supaya ada penghasilan tetap setiap bulannya. Jelas ya maksudnya nak Bagas."
" Iya om."
" Untuk masalah itu, kamu bisa berunding dengan Nayla. Karena bagaimanapun yang akan menikah itu Nayla bukan om."
" Iya om."
" Silahkan diminum dan dinikmati hidangan sederhana dari kami."
" Iya om terimakasih."
Nayla juga berbincang dengan ayahnya untuk melepas rindu mereka karena lumayan lama mereka tidak berbincang bersama. Tiga jam waktu yang dihabiskan Nayla dan Bagas di rumah ayahnya. " Aku pulang dulu ya yah."
" Iya Nay, adikmu tidak pulang."
" Minggu depan kayaknya pulang yah."
" Ya sudah hati-hati kamu di kost."
" Iya."
" Om, saya pamit dulu." Bagas sembari mencium punggung tangan ayah Nayla.
" Iya hati-hati nak Bagas."
Nayla dan Bagas berjalan keluar menuju ke mobil Bagas dan masuk ke dalamnya. Bagas yang melajukan mobilnya perlahan keluar dari gapura perumahan. " Sudah lega kan?"
" Lumayan Nay."
" Bingung aja sih, mengapa harus ada syarat memiliki pekerjaan tetap. Apa ayah kamu tidak suka punya menantu yang memiliki usaha sendiri."
" Ya, punya pemikiran sendiri dalam hal itu."
" Terus gimana dengan kamu."
__ADS_1
" Ya ada benarnya kan. Kamu tidak apa-apa juga kan sambil cari kerja sambil usaha. Misal dapat pekerjaan tetap, bagus dong. Kamu bisa bayar karyawan buat menjalankan usaha kamu."
Bersambunh