
...☆☆☆☆☆☆☆☆☆...
"Assalamu'alaikum, Nayla!" ucap Fahmi memanggil Nayla dari luar rumah, Nayla keluar dan mempersilahkan Fahmi masuk.
"Ibu mana Nay?" tanya Fahmi.
"Ibu di rumah bu RT, hari ini ada kerjaan katanya," jawab Nayla.
"Kerjaan apa Nay?" tanya Fahmi sekali lagi.
"Biasalah kerja dapur, ibu kan bisa masak apa aja, masakannya juga enak, jadi bu RT emang sering minta ibu buat masakin," ucap Nayla.
"Masakan ibu emang luar biasa, coba kalo mama yang masak, rasanya pasti kurang garam, atau kalau nggak garamnya kelebihan," ucap Fahmi tertawa mengingat Ibunya.
"Tapi pas aku ke rumah kamu, masakan tante enak banget kok Fah," ucap Nayla.
"Enak lah, Mama selalu beli makanan, dia juga kan sering minta ibu buat masakin," ucap Fahmi, "Nay, buku-buku kamu mana?" tanya Fahmi.
"Bentar aku ambilin," Nayla masuk ke dalam kamarnya dam keluar membawa beberapa buku yang akan mereka baca sore ini.
"Oh ya Nay, aku lupa, nih buku yang kemarin, makasih ya, puisinya bagus-bagus," Fahmi menyodorkan buku yang ia pinjam dari Nayla kemarin. Nayla menerimanya.
"Nay aku pengen buku yang kamu baca tadi pagi, kamu udah selesai baca kan?" tanya Fahmi.
"Udah kok, nih bukunya," ucap Nayla memilah buku-buku di depannya dan memberikan novel pinjaman Satya pada Fahmi. Fahmi menerimanya dan langsung membacanya.
Sementara itu, Nayla keluar dan pergi ke dapur samping rumah, ia mengambil dua porsi nasi goreng dan dua gelas air putih, kemudian membawanya ke dalam rumah, dan menghidangkannya di tempatnya membaca.
"Fah, aku bawa camilan nih," Nayla duduk di depan Fahmi dan menghidangkan nasi goreng itu di depan mereka. Fahmi menengok ke arah Nayla dan piring yang dibawanya.
"Camilannya nasi goreng?" tanya Fahmi melihat Nayla dengan sedikit tertawa.
"Bukan termasuk camilan sih, tapi yang penting ada makanannya, biar mulut juga ikut bekerja," Nayla ikut tertawa.
"Boleh juga, tapi enak kan?" Tanya Fahmi.
"Enak dong, meskipun bukan ibu yang masak, tapi rasanya enak kok," ucap Nayla. Fahmi menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.
"Pantesan rasanya beda sama masakan ibu, ternyata kamu yang masak," ucap Fahmi.
"Emang rasanya gimana?" tanya Nayla.
"Enakan masakan ibu," ucap Fahmi tanpa dosa sambil menikmati nasi goreng di depannya.
"Nggak apa-apa, yang penting aku bisa masak," ucap Nayla.
"Nay, novel ini aku bawa ya, nggak mungkin aku baca semuanya sekarang,"ucap Fahmi melihat Nayla.
"Iya, tapi balikinnya cepetan ya Fah, soalnya itu punya orang," ucap Nayla.
"Bukannya ini punya perpustakaan sekolah?" tanya Fahmi mengangkat buku itu.
"Bukan, itu punyanya kak Satya," ucap Nayla. Fahmi hanya menganggukkan kepalanya, "bukunya dijaga ya Fah, soalnya itu bukan punyaku," ucap Nayla.
__ADS_1
"Takut banget bukunya rusak," ucap Fahmi melihat Nayla.
"Ya takut lah Fah, itu kan punyanya kak Satya, kalo punyaku sih gapapa," ucap Nayla.
"Kak Satyanya dihargain banget nih ya," ucap Fahmi tersenyum aneh.
"Bukan masalah dihargai atau nggaknya Fah, tapi kalo bukunya rusak, aku mau bilang apa ke kak Satya," ucap Nayla.
"Aku jaga kok Nay, tenang aja, nggak akan rusak kalo bukunya sama aku," ucap Fahmi memasukkan suapan terakhir nasi gorengnya.
Nayla membaca sambil sesekali mengerjakan pr sekolah, ia sibuk memilih buku yang akan dibawanya untuk besok, agar tidak lelah memilih dan belajar nanti malam fikirnya. Saking sibuknya, ia sampai tidak tahu kalau Fahmi sudah ketiduran di depannya.
"Fah, kamu udah kerjain pr matematika kan, kalo belum, besok aku kasih tau jawaban sama caranya ya," ucap Nayla tanpa melirik fahmi.
"Hmm," Fahmi hanya berdehem
"Kamu udah buat cerita juga kan Fah?" tanya Nayla.
"Hmm."
"Bagus lah kalo udah, tau sendiri ibu Layla kayak gimana"ucap Nayla tersenyum sambil masih menulis.
"Fah, asik banget sih baca bukunya, ngomong kek," ucap Nayla.
"Fah."
"Fahmi!" Karena tidak ada jawaban, Nayla menoleh ke depan, dia menganga melihat Fahmi yang tertidur sambil memeluk buku.
"Jadi dari tadi aku bicara sendiri? Dasar Fahmi," Nayla berdecak melihat Fahmi yang sedang meringkuk di lantai. Nayla merapikan bukunya, setelah itu dia membangunkan Fahmi.
"Fahmi," Nayla mengguncang bahu Fahmi sedikit keras, dan ternyata berhasil, Fahmi terbangun.
"Hmm, Nay," ucap Fahmi setengah sadar.
"Jangan tidur di lantai, nanti kamu sakit, kamu tidur di sana aja ya Fah," Nayla menunjuk tikar yang digelar di samping Fahmi, Fahmi menoleh.
"Nggak usah Nay, aku pulang aja, kalo aku lanjut tidur di sini, takutnya sampe petang, aku juga belum kasih tau mama kalo ke sini", ucap Fahmi dengan suara serak khas bangun tidur.
"Yaudah, tapi hati-hati ya, soalnya kamu kayaknya masih ngantuk, aku takut kamu tidur di jalan," mendengar itu, Fahmi menoleh ke arah Nayla yang tersenyum, Fahmi ikut tersenyum.
"Nggak mungkin lah Nay, lagian rumahku deket banget, yaudah aku pulang dulu ya," Fahmi bangkit dan berjalan menuju pintu.
"Fah, jangan lupa bukunya," Nayla menunjuk buku yang akan dipinjam oleh Fahmi. Fahmi berbalik dan mengambil buku yang di tunjuk Nayla.
"Aku lupa," ucap Fahmi tersenyum, "kalo gitu aku pulang," pamit Fahmi. Nayla mengangguk.
"Hati-hati, jangan sampe salah rumah," Nayla tersenyum.
"Ck iya," Fahmi langsung pulang karena dia benar-benar mengantuk.
Setelah Fahmi pulang, Nayla langsung merapikan buku-bukunya dan membawanya masuk ke dalam kamar, menatanya hingga rapi. Dia duduk di kursi belajarnya, mengambil buku dan pulpen, laku menuliskan sesuatu di sana.
...☆☆☆☆☆☆☆☆☆...
__ADS_1
Nayla berada di dalam perpustakaan, hari ini adalah jadwalnya mengembalikan buku yang ia pinjam satu minggu yang lalu. Nayla menaruh buku yang ia pinjam sesuai tempatnya di rak buku, kemudian memilih buku yang akan dia pinjam lagi untuk dibacanya. Buku cerita adalah buku yang wajib ia cari. Setelah mendapatkan buku yang ia inginkan, Nayla mencari buku lainnya. Setelah mendapat tanda pinjam di bukunya, Nayla segera keluar dari perpustakaan dan mencari Satya untuk mengembalikan novelnya. Nayla sudah mencari Satya di dalam perpustakaan, tapi ia tidak menemukan Satya di sana. Sebenarnya dari kemarin ia akan mengembalikan novel itu, tapi dia selalu lupa, Satya juga tidak pernah terlihat di belakang sekolah.
Nayla mencari Satya di ruangan osis. Kali ini dia tidak takut di marahi pak kepsek, karena sekolah juga sudah pulang, dan tentunya pak kepsek juga.
"Tok tok tok," Nayla mengetuk pintu ruangan osis.
Cek lek.
Salah satu anggota osis perempuan keluar, dia sepertinya wakil osis, karena Nayla sering melihatnya berjalan ke mana-mana dengan ketua osis.
"Cari siapa dek?" tanya perempuan itu.
"kak Satya ada?" Tanya Nayla tersenyum.
"Satya? Ada kok, bentar ya, saya panggilin," perempun itu tersenyum dan masuk ke dalam.
Setelah menunggu beberapa saat, Satya keluar dan menyapa Nayla.
"Nayla, gue kira siapa, apa kabar, lama banget kita nggak pernah ketemu?"
"Baik kak, mmm aku kesini cuma mau ngembaliin buku ini aja" Nayla tersenyum menyodorkan novel itu kepada Satya, Satya membalas senyum Nayla dan mengambil buku itu dari tangan Nayla.
"Sebenarnya aku mau kembaliin kemarin, tapi aku ngak pernah liat kak Satya," ucap Nayla merasa tak enak hati pada Satya.
"Kapanpun lo mau balikin terserah lo, kalo lo mau ambil juga nggak papa," ucap Satya menyodorkan buku itu pada Nayla. Nayla menggeleng
"Aku nggak mungkin ambil buku kak Satya," ucap Satya.
"Gue punya banyak banget novel di rumah, kalo lo mau lagi, gue bisa bawain lagi besok," ucap Satya.
"Nggak usah kak, aku baru aja pinjem buku di perpus, tebel-tebel juga bukunya," Nayla menunjukkan buku yang dipinjamnya dari perpustakaan. Satya mengangguk.
"Kalo gitu kapanpun lo mau, jangan malu minta sama gue," Satya tersenyum. Nayla mengangguk.
"Yaudah kak, aku pulang duluan," ucap Nayla.
"Lo pulang sama siapa?" Tanya Satya melihat Nayla hanya sendirian.
"Aku pulang sendiri," jawab Nayla.
"Temen lo yang kemarin ke mana, kok nggak bareng sama dia?" Satya menanyakan Fahmi.
"Dia aku suruh pulang duluan kak, kalo gitu aku duluan ya kak," Nayla berbalik, tapi tangannya ditahan oleh Satya. Nayla menoleh, dia gugup.
"Aku anterin ya?" tawar Satya.
"Ng... nggak usah kak, aku sendiri aja, lagian rumah aku deket kok," ucap Nayla berusaha melepaskan tangannya dari Satya.
"Udah nggak papa, yuk gue anterin," Satya menggandeng tangan Nayla menuju parkiran.
"Nggak usah kak, beneran," Nayla semakin gugup kala Satya menggandeng tangannya, pipinya juga mulai panas.
"Udah lo tenang aja, gue nggak akan nyulik lo kok, yuk naik, lo tunjukin aja jalannya dimana," ucap Satya menghidupkan motornya.
__ADS_1
"Tapi kak...," Nayla terlihat ragu, ragu karena dia akan duduk sangat dekat dengan Satya dan itu pasti membuatnya tak bisa mengendalikan perasaanya.
"Naik aja, biar lo cepet nyampe rumah," ucap Satya memaksa. akhirnya Nayla pasrah dan naik ke motor Satya. Satya melajukan motornya dengan Nayla yang memberi petunjuk jalan.