
Tomy langsung mencium bibir Nayla dengan penuh hasrat.
Tubuh Nayla yang terhentak ke dinding karena Tomy tidak memberinya waktu untuk menahan ciuman bibir darinya. Nayla berusaha melepaskan dengan jari jemarinya. Namun seperti sia-sia, Tomy bahkan tidak memberinya ruang karena tubuh Tomy yang menindih dan menahan tubuh Nayla yang bersandar di dinding. Nayla benar-benar tidak bisa bergerak. Tubuh Tomy yang cukup kekar membuat Nayla hanya bisa pasrah setelah upayanya berusaha melawan keberingasan Tomy yang sedang dipengaruhi oleh alkohol. Ciuman bibir penuh dengan hasrat Tomy bukanlah sebentar. Nayla dibuat sesak dan hanya uget-uget dengan menggerak-gerakan kakinya ke lantai dan kedua tangan yang mengepal memukul berulang kali punggung Tomy. Namun lagi-lagi upayanya tidak berhasil, hingga Tomy melepaskan ciumannya. " Huh...huh...huh..." Nafas keduanya tersengal- sengal dengan guyuran air shower yang membasahi keduanya. Pakaian Nayla dan juga Tomy juga sangat berantakan. Nayla yang memakai baju terusan tersibak tidak karuan hingga terlihat menerawang. " Nayla." Tomy kemudian sadar setelah melihat wajah Nayla dengan jelas.
Nayla kemudian berdiri dan berusaha keluar dari kamar mandi dan hadapan Tomy.
" Nay...Nay..." Tomy yang berusaha meraih jemari Nayla.
Nayla berhenti dan tidak melanjutkan langkahnya.
Tomy berdiri, melangkahkan tubuhnya di hadapan Nayla. " Nay, maafin aku. Aku pikir kamu..." Tomy yang bingung harus bilang apa pada Nayla.
" Lain kali jangan mabuk ya! kalau menyusahkan orang lain."
" Nay aku minta maaf Nay." Tomy yang berusaha menggenggam kedua tangan Nayla dengan erat.
" Lepaskan Tom."
" Aku tidak akan lepaskan, sebelum kamu maafkan saya."
" Tomy lepaskan." Suara lirih namun terlihat sorot mata penuh murka dari Nayla.
Tomy sepertinya sudah gila. Tomy yang biasanya suka bercanda, namun malam ini berubah seperti seorang pria yang haus akan cinta dari seorang wanita. Entah apa yang ada di benaknya. Dia justru mendorong tubuh Nayla hingga terhimpit ke dinding. Sorot mata Tomy memandang dalam kedua bola mata Nayla. Nayla yang nafasnya keluar berantakan karena tatapan Tomy yang hanya berjarak kurang dari sepuluh centimeter. Nayla kemudian menundukkan wajahnya dan memejamkan mata. Dia bisa saja teriak untuk minta tolong. Karena ada satpam penjaga. Tapi dia dan Tomy akan sangat direpotkan jika gara-gara kejadian malam ini membuat masalah untuk kedepannya. Nayla hanya diam. Mengikuti apa mau Tomy. Namun Tomy melepaskan cengkraman tangannya dan memukul dinding tepat di sisi wajah Nayla. " Ah." Teriak murka Tomy kepada dirinya sendiri.
Nayla mematung. Seperti melihat Tomy sedang depresi hingga harus lari ke minuman alkohol. Hari sudah benar-benar larut malam dan menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Dia tidak mungkin keluar dari tempat kost Tomy biarpun kedua dinding melekat. Nayla berusaha tidak marah kepada Tomy. Dia membuang nafas dan menstabilkan emosinya, lalu menghampiri Tomy yang sedang duduk di ranjang dengan membungkuk dan memegang kepalanya. Nayla mengambil handuk. " Kamu sebaiknya pergi mandi Tom." Nayla memberi handuknya ke Tomy.
Tomy memandang ke arah Nayla dan mengambil handuk. Dia berdiri dan beranjak dari tempat dimana dia duduk dan pergi ke kamar mandi. Sementara Nayla yang sudah lancang dan berganti baju dengan memakai kemeja sembarang milik Tomy.
__ADS_1
Nayla yang langsung sibuk di area dapur dan membuat roti bakar dan secangkir teh hangat untuk mereka berdua.
Tomy yang keluar menuju ke arah dapur dimana Nayla sibuk menyiapkan apa yang bisa di santap larut malam sambil berbincang melewati malam tanpa mengingat apa yang sudah terjadi.
" Nay." Tomy yang memandangi Nayla dari ujung rambut hingga ujung kepala.
" Maaf aku lancang pinjam kemeja kamu." Dengan santainya Nayla menjawab dengan rambut yang masih basah dan diikat sembarangan.
Tomy menggarukkan kepala berulang. Dia bingung harus berkata apa kepada Nayla.
" Siapa Widia?"
" Kenapa kamu sebut nama itu?"
" Ya, kamu mungkin tidak ingat karena kamu mabuk. Tapi kamu mencium ku tadi sambil sebut nama Widia. Apa kamu pikir aku Widia?"
" Apa hak kamu bertanya seperti itu?"
" Apa susahnya tinggal jawab?"
Tomy yang terlihat malas jika harus mengungkit dan menyebut nama Widia. Karena baginya Widia adalah masa lalunya. " Dia mantan istriku."
Nayla lemas mendengar jawaban singkat Tomy. Bibirnya kelu. Bingung harus berkata apa.
" Kamu sudah menikah Tom? Bukannya kamu pernah berkata kepadaku kalau kamu belum menikah."
" Maksud aku dia istri siri ku."
__ADS_1
Nayla mengernyitkan keningnya. Dia benar-benar kecewa dengan Tomy. Dia pikir Tomy adalah orang yang suka bercanda dan selalu ada buatnya akhir-akhir ini. Namun entah mengapa hati Nayla bagaikan teriris mendengar Tomy berkata demikian. " Sekarang Widia dimana?"
Kedua pundak Tomy menyembul " Aku tidak tahu Nay."
" Kok bisa."
Orang tuanya tidak menyetujui dia menikah dengan ku. Makanya aku putuskan menikahinya secara siri supaya aku dan dia tidak berdosa jika harus berkumpul bersama.
Sepersekian detik Nayla memejamkan matanya. Sepertinya aku telah salah menilainya. Huft Nafas Nayla yang keluar panjang tak beraturan.
" Jadi kamu mabuk hari ini karena frustasi memikirkannya."
Tomy mengedipkan kedua matanya sebagai jawaban atas pertanyaan Nayla.
" Aku minta maaf Nay sama kamu atas perbuatan ku tadi." Tomy yang meraih kedua tangan Nayla dengan kedua tangannya. Kedua tangan Nayla digenggam oleh tangan Tomy karena Tomy menyesal terhadap perbuatannya kepada Nayla. " Maafkan aku sekali lagi ya Nay."
Nayla menganggukkan kepalanya. Keduanya menikmati roti bakar dan secangkir teh panas untuk menghangatkan tubuh mereka sampai tidak terasa jam menunjukkan pukul 04.00 dini hari.
" Aku sepertinya harus balik ke kamar kostku."
" Iya Nay, terimakasih. Sekali lagi aku minta maaf."
Nayla yang berdiri dan beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari tempat kost Tomy menuju kamar kostnya.
Dibalik pintu utamanya, bulir-bulir bening menetes dari pelupuk matanya. Tubuhnya perlahan tersungkur ke lantai karena dia bingung dengan perasaannya yang sepertinya memiliki harapan besar kepada Tomy. Tidak menyalahkan Tomy. Hanya Nayla yang merasa Tomy memberikannya perhatian lebih akhir-akhir ini membuat salah arti, hingga Nayla menaruh harap terhadap Tomy. Namun semua tidak seperti apa yang disangkakan, Tomy ternyata mencintai bahkan sudah menikah siri dengan seorang wanita yang bernama Widia. Bahkan ikatan mereka seperti masih kuat biarpun mereka tidak bersama. Bahkan Tomy merasa depresi karena Widia.
Tolol...Tolol kamu Nay. Mengapa kamu bisa berharap lebih sama Tomy. Bukan salah dia kalau dia hanya memberi perhatian sebagai teman, kamu saja yang tolol, karena menganggap kebaikannya adalah bentuk perhatian. Dasar terlalu percaya diri kamu Nay. Kesal Nayla pada dirinya sendiri.
__ADS_1