
Satu bulan kemudian. Persiapan keduanya untuk melaksanakan ijab Qabul untuk keesokan harinya. Mempersiapkan diri agar badan lebih segar dan ijab Qabul terlaksana dengan lancar.
Kring...Kring...Bunyi ponsel Tomy yang berdering. " Halo..."
" Buka pintunya!" Tut...Tut...sambungan telepon berakhir begitu saja. Suara seorang wanita misterius yang tengah malam sebelum ijab qabul antara Tomy dan Nayla akan di laksanakan.
" Suara itu tidak asing." Tomy lantas bergegas membuka pintu.
Ceklek. Suara gagang pintu. Tampak berdiri seorang wanita dengan rambut tergerai berdiri membelakanginya. Raut wajah Tomy sesaat panik melihat sosok wanita yang berdiri sekitar sepuluh langkah kaki di depannya. Tarikan nafas bimbang mulai terasa.
" Aku dengar kamu akan menikah besok." Suara wanita yang masih belum menoleh ke arah Tomy.
" Wi-dia." Gerakan bibir Tomy tanpa bersuara. Hembusan nafas Tomy mulai keluar sesak dari dalam dadanya. Dia bingung harus menjawab apa dan bersikap seperti apa.
" Mengapa kamu tidak menjawab? Kamu tahu apa yang terjadi hingga aku bisa sekarang berdiri di depan kamu?"
" Kita, jangan bicara di sini." Tomy masuk mengambil kunci mobil dan meraih tangan Widia. Jantungnya serasa bergetar, karena sesungguhnya dia ingin memeluknya, namun, semua dia urungkan karena dia tersadar. Kedua bola mata keduanya saling tatap begitu dalam. Bola mata penuh harap dari Widia kepada Tomy. " Masuklah! Kita bicara di luar."
__ADS_1
Widia pun mengikuti titah Tomy, dia kemudian masuk mobil yang dimana Tomy sendiri yang membukakan pintu mobil untuk Widia.
Di dalam mobil yang telah melaju perlahan dengan dinginnya malam yang tak pernah padam dari keramaian. Tomy memberhentikan mobilnya dan mulai bicara menatap ke arah Widia. " Kamu kemana saja?"
Widia menoleh ke arah Tomy dengan mengeluarkan bulir-bulir bening dari pelupuk matanya. " Setelah kita ketahuan menikah diam-diam dari Ayah, Ayah langsung mengurungku dan tidak boleh keluar dari rumah. Ayah juga menyita ponselku. Satu bulan setelah aku dikurung, aku sakit. Dalam keadaan sakit ayah tetap menyuruh pengawal untuk mengawasi ku 24 jam. Sering aku berusaha kabur selama lebih dari enam bulan ini, namun aku selalu gagal. Semua cara sudah aku lakukan untuk mengelabuhi ayah supaya aku bisa keluar dari rumah dan pergi menemui kamu." Suara bergetar diiringi sesenggukan tangisan Widia. " Hingga entah Ayah tahu kabar burung dari mana dan berkata dengan sangat bangganya bahwa kamu akan menikah. Dan aku sekuat tenaga pergi dari rumah sampai-sampai aku bertindak di luar batas memukul ayahku dengan benda tumpul di bagian kepalanya hingga dia tergeletak, tidak sadarkan diri. Yang aku pikir pengawal ayah. Aku sendiri terkejut ketika ayah, yang aku pukul dengan benda tumpul. Aku tidak tahu apa yang terjadi nanti." Widia kemudian menoleh ke arah depan kaca mobil dengan perasaan bimbang. Tangisannya belum berhenti. " Aku ingin kamu hentikan pernikahan kamu Tom, aku mohon." Tangan Widia yang meraih tangan Tomy, Widia juga berlutut memohon kepada Tomy. " Aku mohon Tom, ayo kita lari, aku takut dengan ayahku."
Tomy yang tidak tega terhadap apa yang sudah dialami oleh istrinya itu. Tomy menundukkan wajah dan tanpa sadar meneteskan air matanya. Widia adalah istri yang sangat dicintainya dan ditunggunya selama ini. Tomy menarik Widia dan memeluknya erat. " Wid, jangan tinggalkan aku lagi ya." Tomy yang memeluk dan mengelus rambut Widia.
Widia terlihat jelas bahwa dia menganggukkan kepalanya meskipun dalam pelukan Tomy. Lama keduanya berpelukan. Tomy kemudian melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Widia. " Kamu pasti belum makan." Karena terlihat sekali dari pakaian dan wajah yang tampak berantakan dari Widia. Tomy merasa bersalah melihat istrinya seperti itu. " Kita cari makan dan baju untuk kamu."
Widia menahan tangan Tomy. " Kamu janji kan tidak akan menikah besok. Bagaimanapun aku masih istri kamu bukan?"
Melihat istrinya yang seperti tidak terawat. Berbeda sekali penampilan Widia sekarang dengan saat mereka masih bersama. Tomy merasa bersalah dan terus menyalahkan dirinya sendiri, betapa bodohnya dia yang malah menganggap Widia telah meninggalkannya padahal Widia telah tersiksa oleh sikap ayahnya yang berusaha memisahkan hubungan keduanya.
Tomy mengelus pipi istrinya dengan jemarinya. Widia pun menggenggam jemari yang mengelus pipinya dengan tangan kanannya dan menciumnya berulang kali jemari tangan milik Tomy.
Setelah keduanya mencari makan dan beberapa pakaian. "Untuk sementara kita booking hotel dulu sayang, baru kita akan cari kost yang baru."
__ADS_1
Widia mengangguk dengan tatapan mata sayu penuh cinta. Perasaan bahagia karena masih merasa berharga dimata suami yang dia tinggalkan selama hampir satu tahun tanpa kabar. Tapi benar adanya memang dia dikurung oleh ayahnya supaya tidak menemui Tomy lagi.
Mobil akhirnya sampai di sebuah hotel. Dan keduanya memesan kamar untuk bermalam. Berjalan beriringan menuju sebuah kamar hotel dengan perasaan damai dan saling bergandengan. Sesekali berpelukan untuk meluapkan kerinduan keduanya. Hingga masuk dalam sebuah kamar hotel dimana keduanya akan bermalam.
" Aku mandi dulu ya sayang."
Tomy mengangguk. Tomy duduk di sudut ranjang hotel dengan memandangi fotonya dengan Nayla.
" Apa itu wanita yang besok akan kamu nikahi?" Tomy terkejut karena Widia tiba-tiba sudah berdiri di samping belakangnya.
" Ah sudahlah. Aku akan matikan ponselnya." Tomy menuju arah meja dan meletakkan ponselnya.
" Apa sebaiknya kamu tidak katakan sekarang, supaya besok semua tidak cemas mencari keberadaan mu."
" Apa kamu sudah gila? Sudahlah."
Tomy yang memeluk Widia dan menciumi are a wajahnya dengan hasrat seorang suami yang menanti kembali istrinya. " Aku janji, kita tidak akan terpisah lagi seperti kemarin." Tomy yang memanggut kedua sisi wajah dengan kedua tangannya dan menatap binar wajah Widia.
__ADS_1
Begitu juga dengan Widia yang sangat merindukan sekali pertemuan ini. Hingga bibir saling bertaut antar keduanya tak terelakkan lagi. Hubungan suami istri yang lama dinanti keduanya tak bisa dihentikan. Tidak terkendali rasanya hasrat keduanya hingga keduanya sangat terbuai dengan peristiwa malam itu. Suara ******* demi ******* Widia menikmati cinta yang diberikan Tomy untuknya. Jeritan-jeritan manja keluar dari bibir Widia yang merasakan surga kembali setelah melewati hidup bagaikan di neraka ketika ia dikurung oleh ayahnya sendiri. Ayahnya begitu sangat kejam hingga memisahkan dirinya dan Tomy yang sudah menikah secara agama. " Sayang I Love you." Widia yang berkata lirih di dekat telinga Tomy dan mulai menempelkan lidahnya di telinganya Tomy. Adegan-adegan nakal keduanya seperti tidak terkendali. Hasrat keduanya yang sangat lama terbendung oleh kerinduan yang tak bisa mereka jelaskan lewat kata.