Nayla

Nayla
tujuh (7)


__ADS_3

Pagi itu, Fahim datang bersama Kang Tedjo, Fahim, tidak lupa Randy juga diikutsertakan. Fahim meminta izin menebang beberapa potong bambu di belakang mushala untuk membuat kamar khusus bagi Sinar. Inilah saatnya, pikiran Haji Sahrawi berdering, saatnya ia menunjukkan bahwa ia peduli dengan warganya.


"Jangan menggunakan bambu. Nanti cepat rusak, Djo." Haji Sahrawi menatap Kang Tedjo. "Sana, ambil kayu jati di belakang rumah. Triplek, paku, papan, dienggo saja kalau memang diperlukan."


Fahim mengucapkan terima kasih. Tadinya mau minta bambu, tak tahunya Haji Sahrawi malah memberikan kayu dan kebutuhan lainnya. Dengan sigap, Randy membantu Fahim dan Kang Tedjo membawa material yang dibutuhkan untuk membangun rumah bagi Sinar. Randy sempat bertanya kepada Fahim siapa Sinar? Dan untuk apa ini semua? Fahim langsung menjelaskan semuanya.


Ketiganya bahu membahu membuat kamar kecil di ruang tamu rumah Masriya. Ide membuat bilik kecil itu berasal dari Siska setelah melihat dan mengamati Sinar. Di beberapa sekolah yang menangani anak\-anak dengan kebutuhan khusus, biasanya anak ditempatkan dalam satu ruangan bersama satu pendamping. Mereka tidak bisa disatukan dengan anak\-anak lain. Tahap isolasi ini dilakukan sampai si anak bisa mengendalikan diri dan memahami keberadaan orang lain di sekitarnya. Sinar, di mata Siska, sudah cukup lama hidup dalam dunianya sendiri yang tak mengenal interaksi sosial dengan orang lain. Untuk itu, langkah awal yang akan ditempuh Siska adalah mengisolasi Sinar dalam satu ruangan khusus. Siska sudah menghitung resiko. Sinar mungkin akan melakukan penolakan dan pemberontakan.


Menjelang siang, Izar muncul dan ikut membantu Kang Tedjo, Fahim, serta Randy. Mereka istirahat ketika tiba waktu shalat zhuhur dan ashar. Bersamaan dengan jatuhnya matahari ke pangkuan cakrawala, kamar Sinar siap dipakai.


"Bagaimana, Sis?" tanya Fahim kepada Siska yang datang sore itu bersama Nay.


Sekali lagi, Siska memeriksa ruangan itu untuk memastikan bahwa tempat itu cukup kuat menahan dorongan dan amukan jika sewaktu\-waktu Sinar berontak.


Siska mengacungkan dua jempol. "Terima kasih semuanya"


*Tuhanku, izinkan aku dari ruangan kecil ini membuka mata hati Sinar untuk melihat kebesaram ciptaan\-Mu*, Siska memanjatkan doa dalam hati.


Besok, seluruh kualitas keilmuan, kemampuan, serta kekuatan kesabarannya akan diuji di kamar ini.


"Oh, ya. Kenalkan Siska ini Randy" ucap Fahim.


Randy dan Siska saling berjabat tangan. Siska terpesona dengan wajah Randy. Hingga deheman Fahim membuat Siska kaget dan melepaskan tangannya.


Sedangkan Nay sejak datang ia hanya menunduk tak berani mengangkat wajahnya. Dadanya kembali bergemuruh, jantungnya kembali berdetak tak beraturan. *Ya Rabb, tenangkanlah diriku*, lirihnya dalam hatinya.


*****


Sore berikutnya Fahim mengajak Randy kerumah Mbah Nah. Setelah mendengar cerita pilu Mbah Nah membuat Fahim dan Randy membuang napas panjang. Meski sudah berkali-kali mendengar ceritanya, Fahim tetap saja sesak dada mendengarnya. Randy menerawang jauh. Seperti melihat dirinya dalam versi berbeda. Seandainya bundanya mengucapkan kalimat yang sama, barangkali hidupnya bakal sengsara selamanya. Jadi, untuk inilah Fahim mengajaknya kesini? Bercermin dari kisah Mbah Nah semata?

__ADS_1


Tidak. Itu hanya pembukaan yang kadang Mbah Nah lakukan jika hatinya sedang gundah. Dengan ngudo roso seperti itulah, ia menyembuhkan lukanya.


Inti kedatangan Fahim adalah untuk dua jam berikutnya. Sekitar enam atau tujuh ibu setengah baya datanh dan mengerubunginya. Beberapa diantaranya membawa buku catatan.


Selanjutnya adalah pemandangan seorang gutu muda yang tabah menghadapi kakunya lidah-lidah tua. Tak ada bedanya bunyi alif dan ain.


"Bukan nga mbah, tapi a'," Fahim menyengaukan vokal A-nya. "Aa'lamin, boten ngalamin, monggo diulang."


"Oalah, angel tenan tho, yo."


Randy duduk di kaki tiang menahan tawa melihat ulah santri taman tua-tua ini. Tapi, ia salut dengan Fahim yang sabar membimbing satu demi satu murid-muridnya yang semuanya ia panggil mbah. Bila sudah agak mirip dengan makhraj-nya, Fahim nilai cukup. Memaksakan sempurna sama dengan menggenggam asap saja.


"Pucuk ilate dikeluarkan sedikit. Tsa. Tsa sanes sa, nggih?"


"Nggih"


"Mas Fahim ki malah dagel wae"


"Yang telurnya satu di bawah huruf apa?"


"Baaa."


"Telurnya tiga?"


"Saaa."


Fahim membetulkan. Tsa.


"Telur dua?"

__ADS_1


*****


Pelajaran hari ini selesai. Usai mengosongkan gelasnya, kepala Fahim berdenging seperti ada yang menyanyi --belajar diwaktu muda seperti menulia diatas batu. Belajar diwaktu tua seperti menulis diatas air--.


Lirik tadi belum lengkap. Harusnya diikuti ini. Batu yang terus ditetesi air lama-lama akan berlubang juga.


Seminggu tiga kali, Fahim menjadi tetes-tetes air diatas batu-batu yang telah berusia setengah abad lebih. Target utamanya memang melubangi. Tapi jika tidak, membasahi pun sudab lebih dari cukup. Setidaknya, Mbah Nah sudah setahun belajar dengan Fahim, kini ia sudah lumayan fasih membaca al-Faatihah.


Lebih dari itu, hati Mbah Nah memang sedang bungah. Dan, itu yang akan dibagikan kepada Fahim.


"Leres, Mbah"


"Mosok mbahe, goroh, tho? Wong arep tindak haji kok goroh, iso ciloko mbahe."


Fahim bertahmid. Impian Mbah Nah menjadi tamu Allah akan segera menjadi kenyataan tahun depan. Jelas apa, Fahim gembira. Ia termasuk salah satu yang giat mendorong dan meyakinkan Mbah Nah untuk naik haji meski Mbah Nah merasa belum baik ibadahnya. Salah satu yang membuatnya tidak PD, ya, itu tadi, tidak lancar membaca kitab suci.


Mendadak, Mbah Nah melirihkan suaranya, "Mbahe mbok didongakke, cah bagus."


Fahim balik bertanya mendoakan untuk apa.


"Anak simbah gelem muleh." ujar Mbah Nah. Tangannya yang keriput menarik ujung kebaya untuk mengusap kedua matanya.


Randy terenyuh. Lagi-lagi, ia seperti melihat bundanya dalam wujud yang berbeda. Seorang ibu yang menangis menunggu kepulangan anaknya.


"Sehabis shalat, saya akan berdoa semoga Allah mempertemukam kembali simbah dengan anak Mbah dengan cara yang Allah kehendaki sendiri."


"Amiiin. Amin."


Aminnya-nya seorang ibu disambut ribuan malaikat dan bedengun diterbangkan ke hadapan-Nya. Dia yang punya kehendak langsung menjawab. Jawaban yang tak pernah dipikirkan siapapun. Jawaban yang tinggal menunggu datangnya tanggal.{}

__ADS_1


__ADS_2