Nayla

Nayla
Bagas Yang Memaksa Untuk Bertemu Dengan Ayah Nayla


__ADS_3

" Mencari kerja untuk sarjana ekonomi itu sedikit susah Nay. Kamu tahu kan."


" Baru begini saja kamu sudah mengeluh. Apa iya aku tidak memikirkan kembali untuk mau diajak menikah dengan kamu."


" Nay, kamu itu kenapa sih. Kamu seperti bukan Nayla yang aku kenal dulu."


" Gas, keadaan yang membuat aku harus berpikir seperti ini. Kamu tahu nggak, aku susah payah banting tulang untuk menghidupi diriku sendiri sampai sekarang. Sementara orang yang mau menikah sama aku hanya memasang tangan dibawah meminta uang kepada papanya, lali uang itu datang dengan sangat mudahnya dan begitu pula dipakai untuk semaunya."


Bagas mematung menunduk mendengarkan nasihat sang kekasih.


" Izinkan aku bertemu dengan ayah kamu. Biar aku tenang dan jelas apa mau ayah kamu."


" Kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Okay."


" Bukan aku tidak percaya, biar hatiku lebih tenang saja Nay."


" Minggu depan saja akan aku atur pertemuan kamu dengan ayah aku. Kamu yang ke Surabaya dan kita akan bicara dengan ayah aku."


" Okay." Bagas terlihat optimis namun sebaliknya dengan Nayla yang tahu betul seperti apa ayahnya.


Ditengah-tengah pertemuan mereka. Ada sebuah pesan masuk di ponsel Nayla.


Nay, kamu dimana? Aku kesepian nih di kost sendiri. Pesan yang dikirim Tomy kepadanya dan diikuti puluhan emoticon menangis hingga membentuk barisan panjang selarik.


Nayla hanya melihatnya di depan layar utama ponselnya tanpa membuka aplikasi pesan tersebut yang menandakan bahwa pesan tersebut sudah terbaca dan centang biru hingga menyebabkan prasangka dari Tomy mengapa dirinya tidak membalas pesannya padahal sudah membacanya. Nayla berusaha mengalihkan pandangan dari ponselnya. Dia duduk berhadapan dengan Bagas dengan menikmati pemandangan hijau gunung yang sangat indah menyejukkan mata dan pikiran hingga sore hari tiba dengan tidak terasanya yang mengharuskan mereka berpisah.


" Aku pulang dulu ya."

__ADS_1


" Nay, sebentar lagi! aku masih kangen, hampir satu bulan kita tidak bertemu." Bagas yang merayu Nayla untuk sebentar lagi tinggal dan masih duduk di hadapannya menikmati senja.


" Besok aku harus kerja."


" Sayang, aku merasa kamu telah berubah tidak seperti dulu."


" Sudahlah, aku pulang saja, aku tidak mau kita bertengkar hanya persoalan aku sudah berubah, dari tadi kata itu yang kamu ucapkan." Nayla yang beranjak dan berdiri dari tempat duduknya.


" Sayang, baiklah." Bagas yang menyerah akan sifat keras Nayla.


Nayla berjalan ke arah mobilnya dan melajukan mobilnya, tak lupa dia juga membuka kaca jendela mobilnya dan memberikan lambaian tangan perpisahan kepada Bagas. Terlihat jelas Bagas berdiri dengan wajah yang kurang bahagia dengan pertemuan kali ini dengan sang kekasih.


Nay...Nay...kamu telah berubah. Semenjak kamu bekerja dan banyak uang, kamu lupa kalau kamu pernah melewati susah dan itu hanya bersama ku. Bahkan ketika ayah kamu memutuskan hubungan kita, kamu berusaha mempertahankan hubungan kita dengan diam-diam. Dan sampai detik ini. Seperti kamu sudah lupa dengan usaha jalinan cinta kita yang telah kita perjuangkan lebih dari tujuh tahun. Apa yang membuat kamu berubah menyerah seperti ini Nay? Pandangan Bagas yang membayangkan hal indah masa-masa bersama Nayla dari SMA hingga kuliah. Sulit baginya, ketika sang kekasih seperti sudah tidak ingin memperjuangkan hubungannya bahkan sampai memberi tenggang waktu dalam memperjuangkannya dengan dalih untuk menyemangati. Seperti ada rasa pengkhianatan di dalamnya. Namun Bagas tidak mau lebih jauh untuk ingin tahu tentang apa saja yang dilakukan Nayla. Sebuah konsekuensi dari hubungan jarak jauh. Namun kali ini berbeda ketika Nayla menantinya untuk kuliah di Perguruan Tinggi yang sama. Bagas seperti melihat Nayla sudah tidak mencintainya lagi seperti dulu. Mungkin memang karena jarak yang memisahkan sekaligus Nayla yang sibuk dengan pekerjaannya dan keadaannya yang membaik. Berbeda dengan dulu yang dia sangat terpuruk ketika rumah tangga kedua orang tuanya hancur lebur. Ekonominya yang terjun bebas tak terkendali, membuat Bagas lah jalannya untuk tetap tegar tegak berdiri mengahadapi kenyataan pahit dalam hidupnya. Tapi apakah ini adil? jika dimasa sulitnya dia bersama ku, namun untuk masa bahagianya dia harus bersanding dengan orang lain. Bagas yang telapak tangannya mengepal menggenggam penuh dengan tanda tanya dan amarah dengan tatapan sorot mata tajam dan bibir yang penuh murka.


Dua jam perjalanan yang di tempuh Nayla untuk kembali ke kota Surabaya. Mobil Nayla yang terparkir sudah terparkir di depan kost.


" Tom, aku pulang." Teriak Nayla dari teras dimana mobilnya terparkir.


" Astaga, jam berapa ini sudah tidur." Nayla yang melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan duduk di samping Tomy.


" Kamu dari mana Nay?"


" Aku dari Batu Malang."


" Pantesan aku ketuk-ketuk pintu kamu tidak ada yang jawab. Ternyata kamu pergi."


" Enak kamu Nay, habis kangen-kangenan sama Bagas ya."

__ADS_1


" Apaan sih. Nih aku belikan bakso buat makan malam kamu." Nayla yang memperlihatkan bakso di hadapan Tomy.


" Tahu aja kamu Nay, kalau aku lapar. By the way, terimakasih banyak ya."


" Eh, aku ada durian lho di kulkas. Dapat dari kantor. Banyak banget Nay. Bantu habisin ya!" Tomy dan Nayla yang menuju ke arah dapur Tomy. Dan Tomy yang membuka kulkas dan mengambil durian dalam sebuah kotak kedap udara.


" Nih, duriannya, jangan bilang kalau kamu tidak suka duriannya."


" Salah, suka banget tahu."


" Ahai, baguslah kalau begitu. Ini kamu bawa dan simpan di kulkas, untuk yang akan kita makan bersama, ada lagi." Tomy yang mengambil kotak kedap udara untuk kedua kalinya.


" Dapat berapa kotak?"


" Tiga kotak Nay. Sekarang aku makan bakso dulu dan kamu makan durian."


Tomy dan Nayla yang duduk bersebelahan menikmati apa yang ada dihadapannya.


Sampai mulut Nayla yang terlihat berantakan akibat memakan durian. Dengan sigap tangan Tomy yang mengambil satu helai tisu. " Ya ampun Nay, makannya pelan-pe...lan dong." Ujar Tomy dengan menyapu pinggir bibir Nayla. Mata keduanya bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Entah apa yang dirasakan mereka berdua dengan sorot mata yang demikian. " Kamu itu seperti anak kecil saja Nay, makan duriannya." Tomy yang langsung memberi candaan untuk suasana tegang sekian menit yang baru saja terjadi dengan Nayla.


Nayla yang mengambil tisu dari tangan Tomy dan melanjutkan menyapu pinggir bibirnya yang berantakan karena daging durian.


Suasana kembali normal dan keduanya melanjutkan makan masing-masing.


Tomy juga mengambilkan minuman kaleng yang ada di dalam kulkasnya untuk Nayla.


" Manis kan Nay duriannya."

__ADS_1


" Manis banget sih ini, enak, dagingnya juga tebal." Nayla seraya menganggukkan kepalanya.


Bersambung


__ADS_2