Nayla

Nayla
Bagas Menikah Tepat Di Hari Ulang Tahun Nayla


__ADS_3

" Aku minta maaf ya Nay."


" Bukan salah kamu, tapi takdir kita memang harus begini." Nayla yang tidak mau berlarut dengan air mata yang sudah terkuras.


****


Nayla yang hancur hatinya berkeping-keping bagaikan pecahan puzzle. Dia duduk terkulai lemas di atas ranjang seperti tidak ada gairah lagi. Ibunya yang sudah kesekian kali menyuruhnya untuk makan, namun dia tak kunjung pergi ke meja makan setelah percakapannya dengan Bagas berakhir tadi siang.


" Kamu tidak boleh pesimis seperti ini Nay."


" Aku hanya tidak menyangka saja Bu, Bagas mampu melakukannya, memutuskan menikah dengan wanita lain secepat ini. Aku pikir dia akan berusaha lebih keras mencari pekerjaan dan kita menikah. Aku juga salah, akhir-akhir ini aku sibuk dan komunikasi ku buruk. Mungkin ada celah baginya untuk mendekati wanita lain, begitu juga dengan aku yang di belakangnya dia, diam-diam bahkan memberi harapan kepada Rama."


Huft Hembusan nafas Nayla yang berantakan. " Sekarang aku kena batunya sendiri Bu."


" Bukan kena batunya, dia bukan jodoh kamu. Sekarang kamu makan ya."


" Aku tidak nafsu makan Bu." Nayla menggelengkan kepalanya.


" Kamu mau sakit Nay."


" Aku balik saja ke Surabaya Bu."


" Makan dulu Nay." Ibu Nayla yang berusaha mencegah putrinya kembali ke kost di malam hari padahal besok adalah hari Minggu dimana putrinya libur kerja.


Nayla yang tidak menghiraukan nasehat ibunya dan bergegas masuk ke dalam mobil dan mengeluarkan dari teras rumahnya untuk menuju kostnya.

__ADS_1


****


Tomy yang mengintip dari balik jendela ruang tamunya yang melihat kedatangan Nayla.


Tomy yang tahu dari buku alumni SMA nya yang menunjukkan foto dan tanggal lahir semua siswa dari alumni sekolah SMA nya, bahwa sekitar satu minggu lagi Nayla ulang tahun. Tomy sepertinya sudah merencanakan party kecil untuk Nayla.


Satu Minggu kemudian, tepat di hari ulang tahunnya dia mendengar Bagas sudah mengucapkan janji suci dihadapan penghulu dengan wanita pilihannya. " Tega banget sih dia, menikah, dihari ulang tahunku. Apa segitu sakit hatinya yang akhir-akhir ini dengan sikapku padanya, dengan semua syarat yang berikan ayahku. Aku benar-benar tidak mengerti isi hati pria." Nayla yang membuang ponselnya ke atas ranjang karena melihat update status Bagas di aplikasi pesannya. " Aaaaaaaaaa..." Teriak Nayla di dalam kamar mandi dengan air shower yang membasahi tubuhnya. Air matanya berderai menangis keras seperti tidak rela melihat Bagas bersanding dengan wanita pilihannya. Tubuh belakangnya yang menopang pada dinding perlahan turun dan duduk tak berdaya dengan guyuran air shower. Tangisnya pecah menyatu dengan aliran air yang membasahi sekujur tubuhnya.


Sangat lama dia duduk lemas meratapi percintaannya yang karam. Hingga dia mencoba tertatih berdiri dan menegakkan kakinya. Setelah dia mengeringkan tubuhnya dan berganti baju. Nayla duduk di depan cermin meja riasnya. Kedua matanya memerah dan terlihat sembab. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan ingin melupakan kesedihannya, yang seharusnya ada kebahagiaan di hari ulang tahunnya.


Nayla yang keluar dari tempat kostnya, dengan mengendarai mobil diikuti oleh Tomy yang sudah sedari tadi ingin memberikan kejutan untuknya.


" Nayla masuk klub." Tomy yang bertanya-tanya ada apa gerangan dengan Nayla. " Ada yang tidak beres sih ini."


" Mbak aku pesan whisky."


" Baik."


Suara dentuman musik yang sangat keras memekik di telinga. Nayla meneguk satu botol whisky dengan memasukkannya berulang-ulang sampai kepalanya sudah tidak tahan lagi dan menaruhnya di atas meja bar.


Namun Nayla masih meraih botol whisky dan menuangkannya ke dalam gelasnya dengan sempoyongan mencoba bangkit dari kepala yang dia letakkan di atas meja Bar.


" Nay...Nay...Stop Nay!" Tomy yang mengambil gelas yang berisi whisky yang siap diteguk oleh Nayla. Tomy memegangnya dan menyingkirkannya.


" Jangan halangi aku Tom!" Nayla yang mencoba meraih gelas berisi whisky dari tangan Tomy.

__ADS_1


" Nay, sudah Nay."


" Jangan ikut campur urusanku." Nayla yang murka tepat di depan wajah Tomy yang hanya berjarak kurang dari sepuluh centimeter.


" Mbak whisky lagi."


Tomy yang pasrah dan hanya duduk di samping Nayla. Dia melihat Nayla yang sudah mabuk berat karena minum Whisky. Tomy tidak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa menemani Nayla tanpa bisa melarangnya. Dia hanya menjaga Nayla dari tangan jahil pria yang berusaha menggodanya.


Setelah Nayla puas dengan minumnya dan mabuk berat Tomy membawa Nayla masuk ke dalam mobilnya meskipun jalannya Nayla dengan sempoyongan.


" Kamu kejam Bagas. Harusnya kamu cari pekerjaan tetap, apa susahnya Bagas. Kamu tega menikah di hari ulang tahun aku." Kata-kata ngelantur Nayla yang terdengar jelas di telinga Tomy.


Bagas menikah hari ini. Tomy yang mengemudikan mobilnya untuk segera pulang ke kost.


" Tujuh tahun lebih kita bersama, akhir-akhir ini memang aku sibuk, aku memang cuek sama kamu supaya kamu ada semangat buat perjuangin cinta kita, namun kamu malah menyerah dan memilih menikah dengan wanita lain." Tangisan Nayla yang sedang mabuk berat dan tidak sadar apa yang diucapkannya.


" Ah, sial." Tomy yang memukul setirnya dengan sisi tangannya karena kunci tempat kost Nayla pasti ketinggalan di tas Nayla yang berada di mobilnya yang tertinggal di parkiran. Tomy sesaat terdiam, untuk kembali lagi sepertinya tidak mungkin karena sudah larut malam.


Tomy kemudian menggendong Nayla masuk ke dalam kostnya. Tomy yang akan meletakkan tubuh Nayla di sofanya seperti tega dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.


Tomy membaringkan Nayla di atas ranjangnya. Matanya yang terpejam dengan riasan wajah yang sangat cantik dengan rambutnya yang tergerai dan pakaian yang terlampau minim dengan atasan tanktop warna ungu dan rok mini di atas lutut. Tomy hanya bisa menelan ludah memandangi tubuh Nayla dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Tomy kemudian melepas sepatu yang dikenakan Nayla. Tomy menutup tubuh Nayla dengan selimut dan duduk di sisi kanan dimana tubuh Nayla terbaring. Tomy yang menatap wajah Nayla dengan sangat dekat sembari menutup selimut membuat Tomy seperti tidak kuat menahan hasratnya karena lama ditinggal oleh Widia. Hembusan nafasnya terengah-engah seperti ingin melampiaskan kepada Nayla yang ada di hadapannya. Namun Tomy langsung berdiri dan tidak ingin melanjutkan apa yang ada di kepalanya. Tomy melangkahkan kakinya keluar kamar, sesekali memandangi Nayla yang tertidur pulas.


Tomy memilih tidur di sofa ruang tamunya hingga pagi hari. Nayla yang belum ada tanda-tanda bangun dari atas ranjangnya membuat Tomy mempersiapkan sarapan pagi untuk keduanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2