
Nayla yang mulai membuka matanya dan celingukan mengedarkan matanya ke seluruh ruangan yang tidak asing baginya.
" Sudah bangun kamu Nay."
" Tom." Nayla mengernyitkan dahinya.
" Kamu tenang saja Nay, aku tidak apa-apain kamu kok. Sebaiknya kamu mandi, aku tunggu sarapan di dapur ya. Kamu bisa pakai lagi kemeja aku deh Nay sepertinya." Tomy yang menutup pintu kamarnya dan menunggu Nayla mandi.
Beberapa menit kemudian, Nayla yang keluar dari kamar tidur Tomy disambut dengan Tomy yang berdiri di depan pintu kamarnya. " Happy birthday Nayla...Happy birthday Nayla...Happy birthday...Happy birthday...Happy birthday Nayla." Tomy yang menyanyikan lagu happy birthday untuk Nayla dengan kedua tangan yang membawa kue black forest coklat dengan di kelilingi Cherry yang menyegarkan mata.
" Astaga Tomy." Senyum sumringah dari bibir Nayla. Terlihat, meskipun mata Nayla masih sembab yang tidak bisa dia sembunyikan, namun ada kebahagiaan kecil yang Tomy coba berikan kepadanya.
" Make a wish dulu, baru tiup lilinnya."
Nayla memejamkan mata sebentar dan meniup lilinnya. " Terimakasih ya Tom." Nayla yang mencoba tegar dengan semua yang baru saja terjadi di hidupnya.
" Sekarang mari kita potong kuenya." Keduanya berjalan ke meja makan dan memotong kuenya.
" Udah agak baikan belum Nay."
Nayla yang terkejut dengan pertanyaan Tomy dan menoleh ke arah Tomy " Maksudnya?"
" Maaf ya Nay sebelumnya, aku mendengar kamu bicara ngelantur pas kamu mabuk, apa benar Bagas menikah kemarin?"
Nayla mengangguk dan menundukkan kepalanya.
" Kok bisa Nay dia ninggalin kamu begitu saja. "
" Dia merasa persyaratan dari ayah aku terlalu berat baginya Tom."
Tomy yang meraih dagu Nayla dan menghadapkan pandangan Nayla ke arahnya. Jarak tatapan mereka sangat dekat sekali, hingga jantung Nayla berdebar tidak karuan.
" Nay, apa kamu mau menikah dengan ku?"
Nayla yang gugup langsung menoleh ke arah kue yang ada di meja makan. Dia mengalihkan pertanyaan Tomy yang bisa saja Tomy hanya menghiburnya belaka. " Kita makan kuenya yuk." Nayla yang ingin duduk namun lengannya di raih oleh Tomy agar tetap berdiri. " Aku serius Nay. Itu kalau kamu mau sih."
" Kamu apaan sih Tom, lalu bagaimana dengan Widia."
" Widia sepertinya tidak akan kembali. Dia juga meninggalkan ku begitu saja, tanpa ada kabar."
" Tapi kalian kan sudah pernah menikah, meskipun itu siri."
" Itu kalau kamu mau Nay, aku siap nikahin kamu, kalau kamu dan ayah kamu menerima ku."
__ADS_1
" Kalau kamu tidak keberatan, aku siap kamu kenal kan ke ayah kamu."
Nayla yang masih terdiam. Antara sedih karena ditinggalkan Bagas menikah atau harus senang karena ternyata Tomy mengajaknya menikah diluar dugaannya selama ini. " Apa kamu serius Tom."
" Apa aku kelihatan bercanda Nay. Apa kamu menolak ajakan ku menikah."
" Bukan, bukan begitu maksud aku Tom. Ya sudah nanti aku kenalkan kamu sama ayah aku."
Senyum mengembang Tomy diikuti dengan wajah kemenangan. Keduanya sama-sama tersenyum lebar.
Maafkan aku Widia, sepertinya memang ini caraku untuk melupakanmu. Aku akan menikah dengan Nayla Wid. Tomy yang memandang wajah Nayla dengan senyum kemenangan karena ingin mengecap kebahagiaan kembali setelah ditinggalkan Widia, dan sama sekali selama enam bulan ini Widia pergi tanpa kabar.
Keduanya saling suap-suapan makan kue black forest dengan penuh keceriaan. Suka cita dan senyum mengembang tampak dari wajah keduanya. Nayla sudah tidak merasakan sedih seperti yang dialaminya kemarin. Hari ini wajahnya berganti menjadi ceria karena Tomy lah yang menjadi sumber kebahagiaannya.
***
" Halo yah, ayah dimana?" Nayla yang menelepon ayahnya lewat sambungan telepon selulernya.
" Ayah sedang makan siang di Lotus Nay, ada apa Nay?"
" Aku ingin bertemu dengan ayah sama mengenalkan pasangan aku yah."
" Kamu datang saja ke Lotus ya Nay."
" Deg-degan nih Nay."
" Masa sih." Nayla yang menaruh kepalanya tepat ke dada Tomy.
Hahaha Keduanya tertawa bersama, Tomy berusaha menautkan lengannya di pundak Nayla dan mengecup rambut Nayla. Nayla seperti merasakan cinta orang dewasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Nayla dan Tomy sampai di Lotus. Nayla melihat ayahnya yang sedang menikmati makan siang sendirian.
" Ayah." Nayla yang mencium punggung tangan ayahnya.
" Selamat siang om." Tomy yang mencium punggung tangan ayah Nayla.
" Silahkan duduk, kalian sebaiknya pesan makanan dan makan siang dulu. Mbak." Ayah Nayla yang memanggil pegawai resto.
" Iya pak, ada yang saya bantu."
" Tolong daftar menunya ya mbak."
" Baik pak, ini."
__ADS_1
" Aku pesan es lemon tea dua sama bakso dua ya mbak." Menu yang sama untuk keduanya.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka. bertiga berbincang. " Yah, kenalin ini Tomy, kekasih aku, Tomy sudah bekerja di sebuah Bank BN*. Aku harap ayah merestui hubungan kami ya."
" Berapa lama kalian saling kenal."
" E..." Tomy yang ingin menjawab pertanyaan dari ayah Nayla kemudian di sela oleh Nayla. " Kita udah lama kenal yah, Tomy teman SMA aku. Kita bertemu kembali secara tidak sengaja dan akhirnya kita sama-sama cocok dan ingin menikah."
" Apa benar, kalian sudah mendalami karakter masing-masing. Ayah hanya tidak ingin kamu merasakan seperti ayah, yang merasakan gagal dalam berumah tangga."
" Ayah bisa lihat Tomy kan, terlihat Tomy lebih dewasa dibanding kekasih Nayla yang dulu."
" Iya, ayah ikut saja apa katamu, asal dia memiliki pekerjaan yang layak, tetap dan karir cemerlang tanpa embel-embel campur tangan kedua orang tuanya."
" Aku mengerti yah."
" Pesanannya pak." Pegawai resto yang menghidangkan dua mangkok bakso dan dua gelas Ice lemon tea.
" Terimakasih mbak." Sahut Nayla.
" Sama-sama, silahkan menikmati."
" Silahkan dimakan nak Tomy, om sudah makan tadi."
" Baik om."
Nayla dan Tomy yang menikmati bakso dan ice lemon tea nya. Setelah keduanya selesai menikmati makan siang mereka dan menyingkirkan mangkok dan gelas yang ada di atas meja. Ketiganya melanjutkan perbincangan yang sempat terhenti oleh makan siang.
" Rencana kalian bagaimana, menikah dimana?"
" Nanti aku bicarakan lagi setelah kita berunding ya." Nayla yang menoleh dan berkata sepakat kepada Bagas untuk membicarakan tentang acara pernikahannya.
" Ya sudah, ayah ikut saja apa kata kamu."
" Terimakasih yah."
" Ayah, harus balik ke kantor lagi ya."
" Oh, iya yah." Nayla dan Tomy yang mencium punggung tangan ayah Nayla.
" Kalian hati-hati ya."
" Iya yah."
__ADS_1
Ayah Nayla yang meninggalkan Lotus begitu juga dengan Tomy dan Nayla yang harus membicarakan acara untuk pernikahan mereka.