
Kebahagian mulai terpancar dari dalam rumah Nayla. Kesibukan pagi itu dengan banyaknya saudara dan juga tamu tetangga yang hadir ingin menyaksikan prosesi akad Nayla dan Tomy.
" Kamu sudah siap Nay?"
Nayla menoleh mengarah ke ibunya yang sedang menempelkan lengannya di pundaknya. Senyuman dan binar mata yang sangat bahagia terpancar dari wajah Nayla. " Aku deg-degan Bu."
" Ibu keluar dulu ya. Kamu atur irama jantungmu supaya tidak berdebar." Senyum ibu Nayla yang meledek anaknya.
Sementara di tempat kost Tomy. Ibu dan ayahnya begitu juga beberapa saudara yang menginap disana panik bukan main ketika mendapati Tomy tidak ada di kamarnya dan begitu juga mobilnya juga tidak ada di depan teras.
" Apa sudah kamu hubungi ponselnya yah?"
Seorang wanita paruh baya yang berjalan mondar-mandir dengan jari yang sesekali dia gigit karena saking paniknya.
" Sudah aku coba berkali-kali namun nomornya dimatikan."
" Apa yang terjadi dengan anak kita yah?" Wanita paruh baya yang kebingungan dan menangis karena takut terjadi sesuatu hal terhadap anak laki-lakinya.
" Tenanglah ma, coba hubungi Nayla. Beri tahu keadaan yang sebenarnya di sini. Biar mereka tidak cemas menunggu kita."
__ADS_1
Satu jam berlalu dari waktu yang sudah tertera di undangan yang tersebar. Ibu Nayla dan beberapa tamu undangan yang hadir tampak sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan mereka. Tak terkecuali Nayla sendiri yang sesekali mencoba menghubungi ponsel Tomy namun tidak aktif. Namun prasangka Nayla tidak memikirkan hal jauh hingga Tomy meninggalkannya saat prosesi akad akan dilangsungkan. Nayla hanya berpikir mungkin Tomy dan keluarganya tengah mempersiapkan acar yang akan dimulai, jadi wajar saja kalau mereka akan sedikit terlambat.
" Nay, apa kamu sudah coba hubungi Tomy."
" Sudah Bu, kita sabar saja dulu."
Kring...Kring...Suara ponsel yang langsung diangkat oleh Nayla yang dikira dari Tomy.
" Halo Tante."
" Nay."
" To-my tidak ada bersama kami Nay, Tante juga tidak tahu kemana dia pergi dan Tante juga bingung Nay." Suara wanita yang tadinya bergetar sedikit demi sedikit mulai jelas menyampaikan keadaan sebenarnya dengan segala kepanikan.
Tanpa sadar Nayla meneteskan bulir bening dari pelupuk matanya. " Tante, kita akan tunggu sampai Tomy datang."
" Nay, apa kamu tidak mengerti maksud tante? Tomy tidak ada Nay, entah kemana dia pergi, Tante juga bingung. Terus bagaimana acara akadnya?"
" Mungkin Tomy ada urusan yang harus diselesaikan Tante, jadi Tomy harus pergi dulu. Tante jangan panik ya!"
__ADS_1
Percakapan keduanya berakhir. Nayla mematikan ponselnya dan menangis sejadinya di pelukan ibunya. Ibunya yang menatap wajah putrinya tidak kuasa menahan air mata. " Kita tunggu sampai siang Nay, kalau perlu sampai sore. Siapa tahu memang Tomy ada urusan yang harus diselesaikan."
" Jahat sekali dia Bu, hiks...hiks...hiks..."
" Kamu tenangkan diri kamu dulu. Ibu akan keluar dan bicara dengan bapak penghulu."
Nayla menganggukkan kepalanya dan menatap ke arah ibunya dengan kesedihan yang luar biasa. Dia sendiri sampai bingung mengapa percintaannya lika-liku dan berakhir nelangsa seperti ini. Nayla mengambil ponsel yang ada di meja dan berusaha menghubungi Tomy kembali namun lagi-lagi semuanya sia-sia. Nayla menangis kembali dan meratapi kisah cintanya.
Sementara sang ibu Nayla sudah memberikan penjelasan kepada tamu undangan dengan apa yang terjadi. Tamu undangan pun meninggalkan tempat dimana prosesi akad akan dilangsungkan.
" Kasihan Nayla." Salah satu tamu undangan yang hadir
" Kok bisa calon suaminya tidak bisa hadir disaat akad akan dilangsungkan." Seorang tamu undangan lainnya.
Waktu dengan cepatnya berlaku hingga sore hari. Nayla yang masih menggunakan kebaya menangis di atas ranjangnya. Tisu berserakan di semua lantai kamarnya. Tangisnya tidak terbendung lagi. Kesedihannya begitu dalam menyesakkan dada. Rasa malu juga tak terelakkan lagi. Itu semua karena kesalahannya begitu mudah dan percayanya terhadap seorang pria.
Sementara Tomy meninggalkan kota Surabaya dengan Widia dan akan memulai lembaran baru yang jauh dari keluarga keduanya. Mereka akan hidup mandiri dan mulai menata masa depan bersama. Tanpa rasa bersalah sedikitpun terhadap Nayla karena telah meninggalkannya di saat prosesi akad akan digelar. Tomy justru merasa bersalah karena membiarkan Widia selama ini hidup seperti di neraka yang diciptakan oleh ayahnya. Bahkan sesalnya dia tidak bisa menolongnya malah mencari cinta lain yaitu Nayla.
Tomy dan Widia sampai di kota kecil yang jauh dari kehidupan kota Surabaya. " Kita akan mulai hidup baru sayang." Tomy yang mencium punggung tangan Widia dan menatap ke arah depan dari kaca mobilnya. Widia membalas senyum bahagia dan menoleh ke arah Tomy. Hidupnya akan berwarna ketika bersama suami yang dia perjuangkan. Meninggalkan neraka yang selam hampir satu tahun menyiksanya.
__ADS_1
Sementara Nayla yang masih menangisi nasib cintanya. Menyesali mengapa dia begitu percayanya terhadap janji manis Tomy kepadanya.