Nayla

Nayla
enam (6)


__ADS_3

Sambutan sepuluh menit Haji Sahrawi berisi satu kalimat inti. "Wahai Anak muda, makmurkan mushala ini. Masa depan Islam ada di pundak lalian." Usai menghabiskan segelas teh hangat, Haji Sahrawi dan sesepuh kampung mengundurkan diri.


Kang Tedjo diminta Haji Sahrawi menemani para pemegang usia muda. Kang Tedjo sendiri termasuk golongan mogol. Tua belum, muda juga tidak. Merasa dirinya orang awam, Kang Tedjo menyiapkan dirinya untuk bantu\-bantu saja. Sementara, yang muda\-muda menyiapkan diri berdiskusi, mengadu pendapat, mencari alasan, dan merumuskan kegiatan yang terbaik untuk kampung Jalil.



Ustadz Reza membagikan proposal yang ia buat dengan semangat seorang calon magister manajemen. Terketik rapi dalam kalimat\-kalimat berwibawa yang ia sarikan dari pengetahuan dan pengalaman puluhan kali membuat karya ilmiah. Tulisan menunjukkan siapa penulisnya.


Fahim membiarkan proposal itu tergeletak di depannya. *Ini bukan Masjid Salman, Ustadz*!


"Ada hal penting sebelum membahas program kegiatan." Ustadz Reza memulai pidatonya.


"*Ana* perhatikan mushala ini tidak atau belum memiliki nama seperti masjid\-masjid atau mushala\-mushala yang lain. Oleh karena itu, *ana* usul bagaimana kalau malam ini kita beri nama. Mushala ini dengan..." Ustadz Reza jeda sejenak. Keningnya berkerut, lalu berucap dengan lantang penuh tenaga, "*Baitu Muttaqin*. Artinya, rumah orang\-orang yang bertakwa. Atau, *Baitul Jannah*, rumah penghuni surga. *Masya Allah*, indah sekali. *Subhanallah*."


"Bagaimana? *Antum* setuju?" Ustadz Reza mengedarlan pandangan ke semua hadirin.


Kang Tedjo beringsut ke teras, takut dimintai pendapat.


"Mushala ini sebenarnya sudah punya nama, Ustadz" semua mata tertuju pada Fahim yang memecah kebisuan. "Bahkan sebelum mushala ini berdiri."


"Oh, *afwan*. Maaf, *ana* tidak tahu, *Akhi* Fahim. Kalau boleh *ana* tahu, apa namanya?"


"Ketika pertama kali batu fondasi diletakkan, orang sekampung memanjatkan niat untuk membangun mushala kampung Jalil. Saat mereka bergotong royong, mereka juga menyebut mushala Jalil. Semua orang, tua muda, anak\-anak, dan remaja juga menyebut mushala jalil.begitu juga ketika ada yang mau ke mushala, mereka bilang mushala jalil. Jadi tanpa proses penamaan formal, mushala ini telah bernama mushala jalil, yang bermakna mushalanya orang kampung jalil, mushala milik orang jalil, tempat shalatnya orang jalil, dan mushala kebanggaan kampung jalil."


Dari tempatnya, Kang Tedjo manggut\-manggut sambil menggumam, "Nah, *iki* baru pas. Cocok. Sreg aku."


"Kurasa nama itu lebih cocok, lebih mewakili, dan pas dengan kenyataan yang ada." tegas Fahim.


"Tapi, setahu *ana*, nama\-nama mushala atau masjid menggunakan bahasa Arab." Ustadz Reza belum menerima pendapat Fahim.


"Kalau itu masalahnya, tinggal ditambahkan *al* saja. Mushala *Al\-Jalil*. Sudah mirip bahasa Arab, kan?"


Sungguh tidak ada niat untuk melucu, namun apa daya, setiap mulut punya penguasanya masing\-masing. Ketika hadirin tertawa, Fahim hanya bengong.

__ADS_1


Ustadz Reza memerah muka. Ia kembali kedalam cangkang dirinya. Diam dan serius. Ia tidak mau melanjutkan debat soal nama mushala yang berujung menyakitkan. Sang ustadz tidak siap menerima kearifan sederhana masyarakat kampung jalil.



Pembahasan selanjutnya mirip penyuluhan kesehatan mantri puskesmas kepada ibu\-ibu hamil. Apa yang harus dilakukan dan apa yang perlu dihindari. Ustadz Reza membicarakan isi proposalnya. Pengajian rutin malam jumat untuk bapak\-bapak. Kaum hawa kebagian malam minggu. Sedangkan, anak\-anak mengaji saban sore, senin hingga jumat agar melek bahasa al\-Qur'an.


Tidak ada bantahan, sanggahan, komentar atau saran. Semua kegiatan disetujui. Semua program diketuk palu tiga kali.


*Tok...tok...tok*!


Para remaja yang biasanya *angon* dan *ngarit* terlalu kaget untuk menerima hal\-hal baru dalam waktu sesingkat ini. Bahkan, mereka butuh berpikir memahami kalimat\-kalimat yang diucapkan Ustadz Reza, seperti *ana, antum, akhi, ukhti*, kajian, *thabalul ilmi*, dan entah apalagi. Sepanjang ingatan mereka, Fahim, kakak penjaga mushala, tidak pernah bicara seaneh itu meski sudah bergaul dengan mereka lebih dari setahun lalu. Fahim berbicara dengan bahasa mereka. Fahim memahami mereka. Mereka menghormati Fahim sebagai pemuda bersahaja, namun tetap bisa menjawab pertanyaan yang mereka ajukan. Mereka menerima Fahim sebagai dari bagian kehidupan mereka sehari\-hari.



Mereka sama halnya dengan Kang Tedjo saat pertama kali bertemu dengan Ustadz Reza yang dikenalkan oleh Haji Sahrawi.


"Insya Allah. Senang berkenalan dengan *Antum*." Reza menyalami Fahim dan Kang Tedjo.


Setelah mereka pergi cukup lama, kang Tedjo bingung sendiri. "*Jenengku ki Tedjo kok diceluk antum. Piye, tho*?"


Hati seorang gadis yang memiliki paras cantik dibalut hijab berwarna nude bedesir aneh. Ia tak pernah merasakan desiran aneh itu ketika bersama Fahim. Akan tetapi, berbeda saat memandang pemuda yang duduk disamping kiri Fahim. Hatinya berdesir, dadanya bergemuruh ia menundukkan pandangannya hingga rapat selesai.


Nay terkejut saat Fahim mengakatakan pemuda itu akan menjadi bagian dari mereka dan menyatakan bahwa dia adalah temannya. Ditambah lagi, Rida sahabat dekatnya sendiri, sudah lebih dulu tahu pemuda itu. Bahkan, adiknya sendiri, Izar, juga bilang sudah ketemu beberapa kali juga dengan pemuda itu.


"Nay."


Rida berlari-lari di belakangnya. Nay memperlambat langkahnya.


"Tak golek i je," kata Rida menjajari Nay. Lihat! Keduanya sama tingginya.


"Saiki wis ketemu. Ada apa Rid?"


"Kangen kamu aja, Nay. Lama ndak ketemu, tho?"

__ADS_1


Nay nyengir. Hafal gaya Rida jika ada maunya. Seminggu ini, mereka tidak bersua. Rida lagi pusing mikir tugas akhir.


"Kamu jarang kerumah sekarang"


Belum Rida jawab, Nay nyambung lagi, "ibu sering menanyakan kamu. Ibu pikir kamu sudah mau wisuda, jadi sibuk sekali."


"Lek Aini ada-ada saja"


"Siska juga. Dia ingin kenal sama kamu. Kalian satu almamater, kan?"


Entah karena angin atau malam yang dingin. Rida merasa suara Nay berubah menjadi *anyep*. Bila menyinggung urusan kuliah, perasaannya Nay mudah sekali berubah arah. Sebisa mungkin, Rida menghindari topik sensitif ini. Memang di antara mereka bertiga, Fahim dan Rida, hanya Nay yang belum merasakan bangku perguruan tinggi. Tambah lagi, kini ada Siska. Rida tak menganggap Nay mengidap sindrom rendah diri. Rida tahu, tanpa kuliah pun, Nay jauh lebih pintar ketimbang dirinya.


Untuk menetralisir suasana, Rida *dolan* dulu ke rumah Nay.



Nay mengenalkan Siska pada Rida. Sebentar saja, mereka sudah bicara banyak hal. Aini muncul dari belakang dengan nampan berisi benda\-benda panas. Gelas panas dan pisang panas.


"*Lek Aini ki lho, repot\-repot wae*!"


Aini menjawab dengan senyum. Lalu mengambil posisi duduk didepan Izar yang sedang belajar. Nay muncul dari kamar, laku bergabung dengan Siska dan Rida.


"Katanya, ada dua orang baru di mushala?" tanya Aini pada Nay.


"Ponakan jauh Pak Zakari. Ustadz Reza namanya." jawab Nay singkat.


Aini manggut\-manggut saja. Ia tahu segala orang yang pertama disebut Nay tadi. Tak menyangka kalau Zakari punya keponakan yang jadi ustadz. Hidup selalu penuh kejutan. Tapi, Aini merasa ada yang kurang dari jawaban Nay.


"Terus, yang satunya siapa, Nay?"


Bayangan pemuda itu terlintas dibenak Nay. Jantungnya bergemuruh, darahnya berdesir, pipinya merah tomat. Nay memegang dadanya menenangkan detak jantungnya yang tak karuan. Siska dan Rida memandanginya.


"Lupa, tapi, Rida ingat kok, bu. Iya kan, Rid?"

__ADS_1


"Eh, *jenenge Randy lek*" ditembak begitu, Rida mengatakan apa yang diketahuinya. Nay masih bergelut dengan perasaan aneh pada pemuda bernama Randy tersebut.


__ADS_2