Nayla

Nayla
Part 22


__ADS_3

Hampir semua orang di pasar malam mengenakan jaket tebal demi mengurangi rasa dingin yang menusuk, karena pasar malam berada di tempat terbuka, sehingga rasa dingin lebih terasa di kulit. Nayla dan Fahmi berkeliling sambil sesekali menggosok-gosokkan tangan agar rasa dingin berkurang. Maklum saja jika cuaca begitu dingin, karena kampung ini dekat dengan pegunungan, apalagi jika waktu malam seperti saat ini, rasa dingin benar-benar menusuk ke dalam tulang.


Nayla mengikuti Fahmi yang berkeliling kesana kemari. Entah apa yang ia cari, tapi Fahmi belum membeli satu barangpun. Fahmi terus mengajaknya berkeliling sampai mereka berhenti di barisan penjual buku, Fahmi memilah buku-buku yang ada di depannya hingga ia menemukan sebuah buku tebal dengan cover berwarna biru, ia mengambil dan memeriksa buku itu.


Sementara itu, Nayla juga ikut memilah buku-buku yang ada di depannya. Ia tertarik pada buku kecil segi empat dengan cover merah muda di hadapannya. Ia ingin membeli buku itu, tapi tidak ada uang yang ia bawa. Uang? Nayla ingat, ketika berpamitan, ia merasakan tangan Ibunya memasukkan sesuatu ke dalam saku jaketnya. Nayla meraba saku jaketnya. Ya, seperti ada sesuatu di dalam saku itu. Nayla mengambilnya, dan benar saja, ada empat lembar uang kertas dengan total 30 ribu rupiah. Nayla tersenyum senang, Ia mengambil buku itu.


"Yang ini harganya berapa 'pak?'" tanya Nayla pada bapak penjual buku.


"Itu lima belas ribu dek," jawab si bapak. Nayla terlihat ragu. Baginya,itu terlalu mahal untuk buku sekecil itu.


"Nggak bisa kurang 'pak?'" tanya Nayla menawar.


"Waduh, nggak bisa dek, itu aja, untungnya nggak seberapa," jawab bapak penjual. Nayla tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia mengeluarkan dua lembar uang, kemudian memberikannya pada bapak penjual buku.


"Makasih dek," ucap si bapak. Nayla mengangguk, kemudian ia mengahmpiri Fahmi.


"Kamu cari buku apa 'Fah?'" tanya Nayla yang melihat Fahmi masih memilah buku di depannya.


"Ini Nay, aku lagi cari buku folio," jawab Fahmi. Nayla ikut mencari buku Folio yang diinginkan Fahmi.


"Fah! Sini!" ucap Nayla sedikit berteriak karena tempatnya yang agak berjauhan dengan Fahmi, ditambah lagu-lagu yang dihidupkan dengan volume tinggi dan suara ribut orang-orang yang berlalu lalang membuatnya harus berbicara dengan keras. Fahmi menoleh dan menghampiri Nayla.


"Iya Nay," ucap Fahmi setelah ia berada di dekat Nayla.


"Ini Fah, buku Folio yang kamu cari," ucap Nayla menunjuk buku-buku yang ada di hadapannya. Ada banyak buku Folio dengan berbagai macam ukuran di sana. Fahmi memilih satu buku berwarna merah gelap yang berukuran lebih kecil dari buku tulisnya sehari-hari, kemudian mereka pergi ke penjualnya untuk membayar. Setelah membayar, mereka kembali berkeliling di pasar itu.


Sembari berkeliling, mereka asik membicarakan banyak hal. Mereka berjalan pelan sambil melihat barang-barang yang terjual di sekitar mereka. Semua barang lengkap di sana, mulai dari perabotan sampai pakaian, juga banyak jenis makanan ada di sana, bahkan ada juga yang menjual es krim, padahal suasana sedang dingin-dinginnya, tentu saja para pedagang itu melakukannya demi mendapat beberapa rupiah yang bisa dibawa pulang untuk keluarga.


"Nayla!" seseorang berteriak memanggil Nayla. Nayla dan Fahmi menoleh ke sana kemari melihat siapa yang memanggil. Pandangan mereka terhenti pada seseorang yang sedang melambaikan tangan diantara orang-orang yang berlalu lalang.


"Amanda, ke sini," Nayla ikut melambaikan tangan pada Amanda, Amanda berjalan ke arah mereka berdua.


"Kamu beli apa 'Nay?'" tanya Amanda.


"Ini Man, aku beli buku," jawab Nayla menunjukkan buku yang ada di tangannya.


"Wah, bagus banget Nay, kamu beli di mana?" tanya Amanda yang tertarik pada buku yang dibeli Nayla.

__ADS_1


"Di sana Man," Nayla menunjuk tempatnya membeli buku tadi.


"Kamu beli buku juga 'Nay?'" tanya Fahmi yang tak tahu jika Nayla juga membeli buku.


"Iya Fah, soalnya ini bagus banget, jadi aku ambil aja," ucap Nayla tersenyum.


"Kenapa nggak bilang sama aku 'Nay?'" tanya Fahmi.


"Emang kamu suka ini 'juga?'" Nayla balik bertanya.


"Bukan gitu, tapi kan aku bisa beliin buat kamu Nay," ucap Fahmi.


"Aku ada uang kok Fah, tadi Ibu udah kasih sebelum kita berangkat, jadi nggak usah khawatir ya," ucap Nayla.


"Iya Nay, tapi kan aku yang ajak kamu ke sini."


"Udah udah udah, nggak usah dilanjutin lagi dramanya oke," Amanda menyela, Fahmi terlihat kesal pada Amanda, "Nay, harganya 'berapa?'" tanya Amanda pada Nayla.


"Lima belas ribu Man," jawab Nayla.


"What? Lima belas ribu?" Ucap Amanda dengan suara keras membuat Nayla dan Fahmi terkejut.


"Maaf maaf, aku kaget soalnya," Amanda cengir.


"Ya Nggak gitu juga kali," ucap Fahmi yang masih kesal.


"Ya mau gimana lagi Fah, tiba-tiba aja suaraku keluar," Amanda membela diri. Fahmi hanya mendengus. "Nay, buku sekecil ini harganya lima belas 'ribu?'" Amanda kembali bertanya pada Nayla.


"Iya Man, emang kenapa 'sih?'" tanya Nayla.


"Ya ampun, mahal banget Nay, mana tipis lagi," ucap Amanda.


"Banyak omong, yang beli Nayla, kenapa yang ngeluh 'kamu?'" tanya Fahmi pada Amanda.


"Ya nggak papa dong, ngeluh untuk temen, kenapa kamu yang sewot," ucap Amanda.


"Udah ah, kalian kenapa sih," Nayla menengahi, "mending kita jalan bareng," ajak Nayla.

__ADS_1


"Boleh, yuk," Amanda menggandeng tangan Nayla dan berjalan meninggalkan Fahmi. Fahmi hanya menghela napas dan mempercepat langkah mengikuti mereka.


"Kamu beli apa aja 'Man?'" tanya Nayla.


"Biasa Nay, beli pakaian," jawab Amanda.


"Kamu ke sini sama 'siapa?'" tanya Nayla.


"Sama Ayahku Nay, sama kakakku juga," jawab Amanda, "Trus, kalian datang ke sini cuma 'berdua?'" tanya Amanda.


"Iya Man," jawab Nayla, "sebenarnya keluarga Fahmi juga ikut, tapi mereka jalan duluan," lanjutnya, Amanda hanya menganggukkan kepala.


"Aku pengen beli buku kayak kamu Nay, tapi kok mahal banget sih," keluh Amanda.


"Kalo mahal nggak usah dibeli Man," ucap Nayla tersenyum melihat ekspresi mengeluh Amanda.


"Tapi aku pengen punya Nay, buku itu bagus banget jadi buku diary," ucap Amanda.


"Katanya pengen, tapi ngeluh mahal, kalo mau murah ya beli aja yang lain, atau nggak usah beli sekalian, uang buat beli baju ada, masa buat beli buku nggak ada, aneh," ucap Fahmi pada Amanda, ia berjalan di depan dan melihat barang-barang yang ada di dekatnya.


"Aku ngomong sama Nayla, bukan sama kamu," ucap Amanda sedikit berteriak pada Fahmi yang sudah jauh di depan, "Kalo gitu aku pergi ke sana ya Nay, aku beli aja walaupun mahal," ucap Amanda, Nayla mengangguk dan berjalan menghampiri Fahmi.


Belum sampai di tempat Fahmi, Nayla tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Ia melihat seseorang yang mirip dengan Satya sedang membeli dua kaos hitam kapel. Ketika orang itu berbalik, Nayla mendadak gugup, orang itu benar-benar Satya. Dia menggunakan jaket abu-abu dan celana hitam panjang dengan topi hitam di kepalanya. Tapi, bukankah rumah Satya jauh dari sini? Lalu kenapa dia berbelanja di sini pikir Nayla. Ah mungkin saja di tempatnya tidak ada pasar malam. Nayla juga tidak tau tepatnya rumah Satya di mana.


Satya menoleh ke sana kemari seperti sedang mencari sesuatu. Ia kemudian berjalan ke arah Nayla dengan melihat kaos yang sudah dibelinya tadi sambil tersenyum. Ia menghadap ke depan dan pandangannya bertemu dengan Nayla. Nayla tersenyum, sedangkan Satya melihat Nayla beberapa saat, lalu ia balas tersenyum dengan singkat. Setelah itu Ia berjalan tanpa suara.


Nayla berubah murung, ia merasa aneh dengan Satya, biasanya Satya pasti berbicara padanya jika bertemu. Ia membalikkan badan melihat Satya yang berjalan dengan sedikit cepat. Mungkin saja ia sedang terburu-buru pikirnya.


Nayla lanjut berjalan ke arah Fahmi yang sedang membeli kaus kaki dan langsung memakainya, mungkin ia kedinginan, apalagi ia menggunakan sandal jepit.


"Nay, kamu pakai kaus kaki ya biar nggak kedinginan, aku aja udah dingin banget," Fahmi memberikan sepasang kaos kaki pada Nayla. Nayla terdiam mematung, "pakai Nay, ini dingin banget," ucap Fahmi.


"Makasih Fah," Nayla mengambil kaos itu dan memakainya.


"Amanda mana 'Nay?'" tanya Fahmi yang sudah selesai memakai kaus kakinya.


"Dia pergi beli buku kayak punyaku Fah," jawab Nayla tersenyum. Nayla menegakkan badannya.

__ADS_1


"Dia jadi 'beli?'" tanya Fahmi. Nayla mengangguk. "tadi banyak banget protesnya, akhirnya beli juga kan, emang dasar," ucap Fahmi. Nayla tertawa.


"Kalo dia lagi pengen sesuatu ya gitu" ucap Nayla. Mereka kembali berkeliling.


__ADS_2