Nayla

Nayla
empat (4)


__ADS_3

Berkat petunjuk salah satu pegawai penginapan, Randy bisa menikmati indah dan megahnya istana yang pernah ia datangi bersama Rida. Mata Randy menjelajahi setiap sudut\-sudut kecil tempat bersemayamnya masa lalu seraya membidikkan kamera. Kamera, piranti inilah sisa peninggalan istana yang masih bisa Randy genggam. Satu\-satunya jembatan yang menghubungkan sejarah hidupnya yang dulu dan sekarang.



Bermula dari hadiah seorang paman jauh ketika ia naik ke kelas empat. Kamera *pocket* hitam merek kodak. Sejak itu, Randy merasa ada yang tumbuh dalam dirinya, semacam gairah mencari objek\-objek baru dan mengabadikannya. Satu hasrat yang sama kuatnya ketika tangannya menggoreskan pastel warna\-warni di kertas gambar. Memotret, mengabadikan realitas. Menggambar, mengabadikan imajinasi. Randy seperti tak bisa mengendalikan keduanya.



Gerimis melunturkan lapisan lamunanya. Randy mencari tempat berteduh dan yang paling dekat adalah gerbang pintu lima. Berhimpitam dengan sosok kecil dua belas tahun yang mendekap sebuah buku tebal didadanya. Randy baru ingat, bocah inilah yang selama dua hari terakhir ia lihat begitu asyik membaca buku sampai tidak menyadari lalu lalang orang disekitarnya. Melihat potongan kain yang dikenakannya, bocah ini pastilah penduduk sekitar sini.


"Masukkan buku mu ke dalam tas. Nanti basah."



Randy memberikan tasnya. Bocah itu mendongak. Pandangannya bertemu mata Randy. Kepala Randy berdenting. Ia seperti pernah melihat mata yang demikian. Meski sangat muda, mata itu memiliki kekuatan yang sama dengan yang dimiliki Nay.



Bocah itu mengucapkan terima kasih.


"Namaku Izar, Mas ini fotografer? Dari kemaren motret\-motret terus!"



Randy segera meralat dugaannya. Pengamatan Izar cukup jeli. Randy memperkenalkan dirinya. Langit di barat masih menghitam. Bakalan tidak melihat sunset. Padahal, cahaya matahari terbenam adalan momen terbaik yang selali ditunggu Randy.



Ada sesuatu yang tidak bisa ditemukan pada bocah seumuran Izar, tetapi ada dalam setiap ucapannya. Ia bisa menerangkan kesehariannya dengan runtut, jelas, dan kuat.



"Kau selalu membaca buku disini?"


"Dulu, almarhum ayah dan kakakku sering kesini untuk membaca." ucap Izar polos



Randy terhenyak, tidak menyangka bahwa bocah disampingnya ini seorang yatim.



"Ayah meninggal ketika aku masih sangat kecil. Aku saja tidak terlalu ingat dengan wajah ayah."


"Aku minta maaf"


"Tidak salah kenapa minta maaf"


__ADS_1


Izar lantas menguraikan argumennya tentang mengapa tempat ini menjadi pilihan ayahnya. Ditemani angin semilir, suasana tenang, kresek\-kresek daun, istana ini sangat nyaman untuk membaca.


Dalam hati, Randy terkesima dengan bocah yang baru dikenalnya ini.



Belum ada tanda\-tanda malaikat hendak mencabut jarum\-jarum gerimis yang menusukkan dingin pada permukaan bumi. Randy mendekap tasnya, melindungi kamera dan buku milik Izar. Izar menggulunh celananya sampai bawah lutut.



"Sambil sekolah, aku jualan donat. Di dunia ini, tidak ada donat seenak buatan ibuku." ucap Izar yakin.



Randy terkekeh, campuran antara rasa kagum atas perjuangan Izar dan geli mendengar promosi hebatnya.


"Mas Randy harus coba donat buatan Ibu sebelum kembali ke kota."



Rayuan Izar berbuah juga. Randy memesan donat Izar. Besok sehabis ashar, mereka akan bertemu lagi disini. Langit masih bermuram durja. Izar tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia menerobos garis\-garis air.



Dari tempatnya berdiri ia melihat Izar memacu sepedanya kuat\-kuat. Randy tersadar. Ia memanggil Izar, tapi suaranya tenggelam dalam hujan. Ia memasukkan kembali buku Izar ke dalam tasnya. Randy setengah percaya, bocah kelas lima SD itu mampu menyelesaikan buki setebal seribu halaman lebih.


*****


"Ada pesan didalamnya." ujar pria murah senyum itu.


Randy segera membaca tulisan dari pensil itu.


*Maaf beribu maaf, aku tidak bisa bertemu dengan Mas Randy. Ini aku bawakan pesanan kemarin. Harga sebenarnya 2500, tapi gratis deh buat Mas Randy. Tapi, ada syaratnya. Aku minta tolong, antarkan bukukubke mushala. O, ya, rumahku di Kampung Jalil. Dan, hanya satu mushala di kampungku. Jadi, mudahkan mencarinya? serahkan saja bukuku pada seorang di sana. Namanya Kak Fahim. Terima kasih sebelumnya*.


Izar


*Catatan: sebelum makan donat, cuci tangan dulu. Makan satu bisa ketagihan, dimakan semua awas kekenyangan*.



Fahim? Randy mendesah. Apakah ini sebuah kebetulan belaka? Randy memantapkan hatinya. Ia yakin ada kekuatan yang menarik dirinya untuk kembali ke Kampung Jalil. Tuhan, punya seribu jalan ke Roma. Secepatnya.



Saatnya menjelaskan semua kepada Fahim. Randy meyakinkan dirinya. *Bila ini memang rencana\-Mu, Tuhan, biarkan aku mengetahui apa yang Engkau maui*, hatinya mendesah.


*****


Siska tidak membuang waktu. Nay menyiapkan segala sesuatu. Fahim membantu apa yang perlu. Aini membuka pintu rumahnya lebar\-lebar untuk Siska. Selama menetap di Kampung Jalil demi tugas mulia mendampingi Sinar keluar dari cangkang kesendiriannya, Siska berbagi kamar dengan Nay. Bagaimana tidak! Tidur seranjang dengan mahasiswa psikologi. Sebuah impian yang tertanam dalam sejak tahun terbilang. Psikolog anak.

__ADS_1



Fransiska gadis manis bermarga Nauli adalah mahasiswa semester akhir Psikologi UGM. Tinggal menyelesaikan tugas akhir. Siska datang ke Kampung Jalil untuk merampungkan skripsinya tentang autisme. Kebanyakan penelitian dilakukan di sekolah\-sekolah khusus anak autisme. Tentu saja, mereka sudah mendapatkan berbagai macam terapi. Tidak banyak yang mau menembak langsung meneliti perilaku anak autis yang hidup disebuah keluarga dalam masyarakat yang heterogen.



Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada memahami dan menyelami pikiran\-pikiran murni seorang anak. Anak dengan segala tingkah polanya adalah tambang emas. Sudah pasti lebih banyak pasirnya. Pasti dibutuhkan energi berlipat untuk mengayak. Namun, begitu mata melihat sejentik sinar kemilau diantara pasir dan tanah, sirna sudah segala jerih payah berhari, berminggu, maupun berbulan sekalipun.



Impian Nay adalah menjadi salah satu pendulang emas di pikiran anak\-anak. Tuhan demikian baiknya mengantarkan seorang pemegang sabuk mahasiswa teladan di kamarnya. Dengan Siska disampingnya, ia akan memuaskan dahaga keingintahuan misteri ilmu\-ilmu yang dari waktu ke waktu telah menggoda pikiran\-pikirannya. Nay akan memuntahkan lahar panas pertanyaan\-pertanyaan yang bisa jadi mengerutkan kening Siska.



Sekarang dan selanjutnya, Nay akan memasukkan Siska sebagai lema baru dalam ensiklopedia hidupnya. Nay tertantang untuk menggali selengkap\-lengkapnya tentang Siska, luar dan dalam, dan menuliskannya dengan pena kejujuran dan ketulusan yang bisa merekatkannya. Hanya jiwa yang tulus yang bisa menghargai setiap butir perbedaan.


*****


Dengan gaya seorang komandan perang Izar memimpin pasukannya, Nay, Fahim, dan Siska menuju medan pertempuran. Matahari mulai condong ke arah barat saat mereka memutari serumpun bambu. Izar mengangkat tangannya. Pasukan berhenti.



Hari ini, Siska ingin bertemu langsung dengan pahlawan kecil tersebut. Dia sudah merancang kelak, karya ilmiahnya akan dipersembahkan pada Sinar.



Saat tiba di Kampung Jalil, Siska dikenalkan kepada Nay dan keluarganya. Terlebih pada Izar sang sahabat, satu\-satunya seorang anak yang mampu duduk berjam\-jam menemani Sinar, mengenali kemauannya, memahami apa yang membuatnya marah dan senang. Siska berpikir, Izar adalah kunci pembuka untuk masuk ke dalam dunia Sinar.



Semua mata memandang ke bawah pohon talok yang dahan\-dahannya menjulur horizontal dengan ujung yang menggantung serupa payung besar. Daunnya yang lebar bergelombang diterpa angin. Buahnya yang berwarna merah kusam, berdiameter lima belas mili, berasa manis, berjatuhan ditanah, di sekeliling bocah sepuluh atau sebelas tahun duduk memunggungi mereka.



Ia diam tak bergerak, seperti ada garis membentang yang memisahkan realitas. Bocah itu sama sekali tidak hirau dengan kehidupan sekitarnya. Ia tak terusik dengan pertempuran burung di atas kepalanya, memperebutkan si manis buah talok. Tak peduli dengan angin menggulung yang menggulung debu dan daun\-daun kering. Ia ada seperti tiada. Ia hadir seperti lenyap. Ia tidak butuh siapa pun tenggelam dalam dunianya yang sunyi sepi.



Izar berbisik memberi tahu bahwa Sinar sedang tidak mau diganggu. Informasi Izar dibenarkan Siska. Sikap tubuh Sinar adalah bentuk komunikasinya. Salah menggenali dan memahaminya bisa berakibat rusaknya interaksi intra personal. Siska kini setidaknya tahu hubungan unik antara Izar dan Sinar. Kecerdasan emosi menuntun Izar masuk ke dalam dunia yang sangat sulit ditembus bahkan oleh orang berotak jenius sekalipun.



Semua cemas melihat Izar berjingkat mendekati Sinar. Yang unik adalah, Izar tidak datang dari belakang. Ia memutari halaman hingga depan rumah, baru ia mendekati Sinar. Siska mencatat pelajaran yang diberikan Izar. Jangan membuat Sinar terkejut selalu datangi dia dari arah depan.


Izar berhenti satu meter di depan Sinar. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Tak ada kata-kata yang keluar. Sinar mulai menggerak-gerakkan kepalanya tak beraturan. Hanya Siska yang merasakan ada yang tidak beres antara Izar dan Sinar. Sinar memancarkan sinyal penolakan, sedangkan Izar mulai memaksa dengan maju selangkah kedepan. Lalu secepat yang dilihat mereka, Sinar berdiri mendorong Izar kuat-kuat, lalu berlari kencang menabrak pintu rumah. Disusul bunyi benda-benda berjatuhan.


Sejurus kemudian, hening.


Nay mendekap Izar, Fahim menunduk. Siska duduk bersimpuh. Matanya berkaca\-kaca. Hatinya memproklamasikan janji untuk mundur setapak pun. Sebuah keluarga tanpa kepala keluarga. Seorang ibu yang hidup dari memulung sampah. Seorang anak beranjak dewasa dengan autisme.

__ADS_1


*Tuhan disurga, dimana letak keadilanmu*? \[\]


__ADS_2