
Nayla merasa bosan karena Fahmi hanya mengajaknya berkeliling tak jelas kesana ke mari. Ia merasa kesal pada Fahmi yang yang hanya melihat-melihat barang dagangan di sekitarnya tanpa berniat bertanya maupun membeli. Ia menghela napas kasar beberapa kali supaya Fahmi menyadari kebosanannya, tapi Fahmi tak merespon apapun, bahkan Fahmi semakin mempercepat langkahnya sembari melihat kiri kanan. Nayla ikut mempercepat langkahnya dengan wajah kesal.
"Fahmi," panggil Nayla. Ia sudah tak bisa menahan kekesalannya.
"Iya Nay," Fahmi menoleh sambil terus berjalan. Ia tak merasa bersalah sama sekali melihat ekspresi kesal Nayla.
"Kamu mau beli apaan sih Fah, dari tadi kita cuma jalan-jalan nggak jelas, belanja juga nggak, ngabisin waktu tau nggak, kalo baca buku mungkin udah habis satu buku saking lamanya kita keliling," ucap Nayla mengeluarkan unek-uneknya. Fahmi tersenyum mendengar omelan Nayla.
"Udah ikut aja, kita berhenti di depan," ucap Fahmi. Nayla hanya menghela napas. Mereka berhenti di barisan para penjual makanan dan minuman. Tempat itu sangat ramai oleh anak-anak dengan orang tua mereka.
"Aku haus Nay, kita minum dulu ya, kamu pasti haus juga 'kan?'" tanya Fahmi pada Nayla yang masih dengan wajah kesalnya.
"Dikit," jawab Nayla singkat membuat Fahmi gemas.
"Yaudah, kamu tunggu bentar ya, aku beli minuman dulu," ucap Fahmi. Dia membeli dua botol air minum dan dua bungkus kue basah kemudian memberikannya pada Nayla. Nayla menerimanya.
"Makasih," ucap Nayla. Fahmi mengangguk sambil tersenyum.
"Kita makan di sana Nay," Fahmi mengajak Nayla ke bangku panjang yang lumayan dekat dengan permainan anak-anak.
Mereka duduk di bangku itu sambil menikmati makanan yang dibeli oleh Fahmi. Mereka berbincang-bincang sembari melihat anak-anak yang sedang bermain di depan mereka.
Suasana semakin dingin, membuat Nayla menggosok-gosokkan tangannya. Ia merasakan malam semakin larut, karena orang-orang yang berbelanja semakin berkurang, beberapa orang berjalan pulang dengan mata yang sayu karena mengantuk, anak-anak yang bermain di depannya juga hanya tinggal beberapa saja.
"Kayaknya kita udah lama di sini deh Fah, kamu nggak mau belanja lagi 'kan?'" tanya Nayla pada Fahmi yang duduk di sampingnya. Fahmi menoleh.
"Kamu 'ngantuk?'" Fahmi balik bertanya.
"Aku belum ngantuk, tapi kayaknya udah larut banget deh Fah, takutnya jalanan makin sepi, rumah kita kan jauh dari sini," jawab Nayla.
"Kamu tenang aja, kita kan pulang bareng Mama Papa," Fahmi menenangkan Nayla.
"Kamu yakin mereka masih di 'sini?'" tanya Nayla.
"Yakin Nay, mereka nggak mungkin ninggalin kita," ucap Fahmi meyakinkan.
"Tapi udah malem banget Fah, mereka pasti ngira kalo kita udah pulang duluan," ucap Nayla.
"Nggak mungkin Nay, percaya deh," ucap Fahmi, "mending kita cari mereka, 'gimana?'" ajak Fahmi.
"Kamu beneran yakin kalo mereka masih di 'sini?'" tanya Nayla masih ragu," pasar malam ini juga luas banget Fah, mau cari kemana?" lanjut Nayla pada Fahmi yang bangkit dari bangku.
__ADS_1
"Aku tau tempat dimana biasanya Mama belanja, kamu ikut aja, yuk," ajak Fahmi. Nayla bangkit kemudian mereka berjalan ke tempat yang dimaksud Fahmi.
Fahmi mengajak Nayla ke tempat penjualan pakaian dan aksesoris-aksesoris lainnya. Mereka mencari orang tua Fahmi di sana, akan tetapi mereka tak menemukannya padahal mereka sudah mencari di semua tempat di sana. Karena lelah berkeliling, akhirnya mereka berhenti dan duduk didekat pakaian yang menggantung.
"Mama sama Papa mana sih, kok nggak ada," ucap Fahmi menoleh ke arah pakaian-pakaian yang menggantung.
"Mungkin emang udah pulang duluan Fah, apalagi mereka kan bawa Alya," ucap Nayla.
"Mereka nggak mungkin ninggalin aku Nay. Sebelum kita ke sini, aku udah bilang sama Mama, kalau aku akan pulang bareng mereka," ucap Fahmi.
"Tapi sekarang ngga ada kan" ucap Nayla. Fahmi menghela napas kasar, "kita pulang yuk Fah, aku udah dingin banget," ucap Nayla sambil menggosok-gosokkan tangannya. Fahmi menoleh ke arah Nayla.
"Kita cari di tempat lain ya Nay, biar kita cepet pulang," ucap Fahmi.
"Mau cari kemana lagi Fah, pasar ini luas banget," ujar Nayla.
"Kita cari aja dulu, yuk," ucap Fahmi membantu Nayla berdiri.
"Kalo nggak ketemu, kita pulang ya Fah," ucap Nayla yang khawatir karena ia sudah terlalu lama berada di pasar malam ini.
"Iya, kita cari Mama sama Papa dulu bentar," ucap Fahmi. Mereka berjalan sambil melihat kiri kanan mencari keberadaan mamanya Fahmi. Mereka harus melihat dengan teliti karena selain masih banyak orang yang lalu lalang, keadaan pasar juga agak gelap karena lampu yang tersedia tidak terlalu terang.
"Nay, di sana, Mama ada di sana," ucap Fahmi menunjuk mamanya yang sedang membeli sepasang sepatu. Nayla menoleh, "yuk kesana," ajak Fahmi. Mereka berjalan menghampiri mamanya Fahmi.
"Kamu kemana aja sih sayang, Mama juga dari tadi cariin kamu," ucap mama, "yaudah ayo pulang, kamu udah beli kebutuhan kamu 'kan?'" tanya Mama.
"Belum Ma, bentar aku beli dulu," ucap Fahmi, ia menoleh ke arah Nayla, "bentar ya Nay, bentar aja," ucap Fahmi pada Nayla. Nayla tersenyum mengangguk. Fahmi berlari meninggalkan mamanya dengan Nayla. Sementara Nayla berbincang-bincang dengan mamanya Fahmi.
Beberapa saat kemudian Fahmi kembali dengan plastik hitam di tangannya, kemudian mereka berjalan ke arah mobil. Di sana, papanya Fahmi sudah menunggu, sedangkan Alya, adik Fahmi sudah tertidur.
Di dalam mobil, mereka berbincang-bincang santai, Nayla menanyakan apa yang dibeli Fahmi, tapi Fahmi tak memberitahukan Nayla membuat Nayla kesal dan berhenti bertanya, bahkan sampai mereka tiba di depan rumah Nayla, dia masih diam karena merasa tak dihargai oleh Fahmi. Ia hanya berterima kasih pada orang tua Fahmi dan masuk ke dalam rumah.
...☆☆☆☆☆☆☆☆☆...
Nayla duduk di bawah pohon belakang sekolah sambil menulis sesuatu di buku yang di belinya semalam. Setelah selesai menulis, Nayla mengambil buku yang akan dipelajarinya di jam ketiga. Nayla mengambil posisi duduk yang nyaman, kemudian membaca buku di tangannya.
Di tengah membaca, Nayla tak sengaja menoleh ke depan, ia melihat Satya sedang berdiri di bawah pohon yang jauh dari tempatnya, pandangannya lurus ke arah Nayla. Nayla tersenyum dan dibalas oleh Satya.
Melihat Satya, Nayla ingat semalam, dimana dia tersenyum pada Satya, namun Satya hanya membalas senyumnya singkat, bahkan ia seperti orang asing yang tak pernah bertemu dengan Satya sebelumnya. Mengingat itu, Nayla merasa malu. Ia menunduk dan kembali membaca buku mencoba tak mempedulikan Satya.
Nayla melihat ke depan. Sejujurnya ia tak bisa mengabaikan Satya begitu saja. Namun ia terkejut, karena Satya tiba-tiba ada di depannya, hal itu membuatnya tiba-tiba berdebar tak karuan.
__ADS_1
"Hai Nayla," sapa Satya, "kita ketemu lagi, lama banget kita nggak ngobrol bareng," lanjut Satya. Nayla tersenyum.
"Semalam kan kita udah ketemu kak," ucap Nayla.
"Semalam?" Satya terlihat berfikir. Nayla mengangguk.
"Tapi kita cuma berpapasan doang kak, jadi kak Satya mungkin nggak liat aku," ucap Nayla.
"Lo liat gue dimana?" tanya Satya.
"Di pasar malam kampung ini kak," jawab Nayla.
"Kayaknya lo salah liat, soalnya gue nggak pergi kemanapun tadi malam," ucap Satya.
"Tapi wajahnya mirip banget sama kak Satya," ucap Nayla yang yakin bahwa yang ia lihat semalam benar-benar Satya.
"Tadi malam gue cuma diem di rumah, lagipula gue nggak tau pasar malam kampung ini ada dimana, jadi lo emang salah liat, atau lo cuma lihat orang yang mirip sama gue aja," jelas Satya.
"Iya juga sih kak," ucap Nayla tersenyum mengiyakan meskipun ia yakin yang ia temui di pasar malam adalah Satya.
"Oh ya, gue ada sesuatu buat lo," ucap Satya. Dia mengambil sesuatu dari saku celananya dan memberikannya pada Nayla.
"Ini buat apa 'kak?'" tanya Nayla pada Satya yang memberikannya sebuah kalung dengan liontin love, kira-kira seukuran jari kakinya.
"Lo pake ya, anggap aja sebagai tanda pertemanan kita," ucap Satya. Nayla termangu melihat Satya.
Tanda pertemanan? Bukankah itu artinya ia berarti di mata Satya? Ya meskipun sebagai teman, tapi setidaknya Satya dekat dengannya. Tiba-tiba hatinya berbunga-bunga.
"Nay?" Satya memanggil Nayla yang bengong menatapnya.
"Iya?" Nayla tersadar dari lamunannya, "yah, maksih kak, kalungnya cantik," ucap Nayla salah tingkah karna ia kedapatan sedang bengong melihat Satya.
"Sini gue pakein," ucap Satya. Ia mengambil kalung itu dari tangan Nayla, lalu berjalan ke belakang Nayla dan memakaikan kalung itu. Nayla semakin berdebar karena Satya sangat dekat dengannya. Ia memainkan jarinya demi menetralkan perasaan yang dialaminya saat ini.
"Coba hadap sini," ucap Satya. Nayla berbalik menghadap Satya, "cantik," puji Satya membuat pipi Nayla terasa panas.
"Makasih kak," Nayla tersenyum dengan sedikit menunduk karena pipinya yang masih panas. Satya tertawa kecil melihat Nayla.
"Yaudah gue pergi dulu ya, kalungnya jangan dilepas," ucap Satya, Nayla mengangguk. Satya berdiri dan pergi dari sana.
Setelah kepergian Satya, Nayla mengosok pipinya yang panas, ia sangat malu pada Satya yang melihatnya menunduk menyembunyikan wajahnya yang pasti memerah karena pujian Satya.
__ADS_1
Nayla melihat kalung pemberian Satya, kalung dengan liontin love itu sangat indah. Nayla merabanya, ia tersenyum mengingat perkataan Satya, akhirnya ia menjadi salah satu orang yang dekat dengan Satya, dan kini ia diberi sebuah kalung sebagai tanda pertemanan mereka.
Nayla memasukkan buku yang ia baca tadi ke dalam tas, kemudian ia berjalan menuju kelas menunggu bel jam ketiga berbunyi.