Nayla

Nayla
Part 21


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Nayla," Teriak Fahmi dari depan rumah Nayla.


"Wa'alaikumussalam," jawab Ibu dari dalam rumah, setelah beberapa saat, pintu terbuka, "mari nak Fahmi, masuk dulu," ajak Ibu. Mereka masuk ke dalam rumah.


"Nayla mana 'Bu?'" tanya Fahmi menengok pintu kamar Nayla.


"Nayla lagi sholat Isya', sebentar lagi juga selesai, duduk dulu nak Fahmi, sambil nunggu Nayla selesai shalat" Ibu menunjuk tikar yang sudah digelar di lantai.


"Iya Bu," Fahmi duduk, "mm, Bu, Nayla udah izin kan sama 'Ibu?'" tanya Fahmi hati-hati.


"Udah nak Fahmi, kalian mau pergi ke pasar malam 'kan?' tanya Ibu.


"Iya Bu," jawab Fahmi.


"Jaga-jaga Nayla ya nak Fahmi, tau sendiri kan, Nayla nggak terlalu deket sama siapapun selain kamu," peringat Ibu.


"Iya Bu, pasti," ucap Fahmi meyakinkan.


"Mama kamu nggak ikut nak 'Fahmi?'" tanya Ibu.


"Ikut Bu, Papa sama adek juga ikut, tapi mereka udah jalan duluan," jawab Fahmi.


"Udah lama nunggu 'Fah?'" Nayla tiba-tiba bertanya dari kamarnya, yang muncul hanya kepalanya sedangkan badannya bersembunyi di balik pintu, senyum manis terbit di wajah itu, apalagi dengan mukena putih polos yang ia kenakan, semakin menambah aura manisnya.


"Baru-baru aja Nay, kamu lanjutin shalat aja, nggak usah terburu-buru, nanti nggak khusyuk, aku tungguin di sini, pasar malam juga biasanya buka sampe jam dua belas keatas," ucap Fahmi.


"Kalo mau shalat lagi, nggak usah keluar Nay, langsung shalat biar cepet selesai, segitunya merindukan nak Fahmi" goda Ibu. Fahmi tersenyum.


"Ya nggak lah Bu, aku udah selesai kok, tinggal rapiin mukena aja," ucap Nayla.


"Yaudah kalo gitu cepetan, kasian nak Fahmi kalo nunggu lama," ucap Ibu.

__ADS_1


"Iya Bu, bentar ya Fah," Fahmi mengangguk, Nayla masuk ke dalam kamar dan merapikan alat shalatnya. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan mengenakan jaket warna merah pemberian Fahmi beberapa hari yang lalu.


Suara pintu terbuka membuat Ibu dan Fahmi menoleh. Nayla menutup pintu dan berjalan ke arah Ibunya.


"Aku jalan ya Bu," ucap Nayla pada Ibunya.


"Pulangnya jangan kemalaman ya Nay," ucap Ibu sembari memasukkan sesuatu ke dalam jaket Nayla. Nayla hanya diam membiarkan.


"Iya Bu," ucap Nayla mengangguk, "ayo Fah," ajak Nayla pada Fahmi. Fahmi mengangguk. Ia merangkak ke arah Ibu dan Nayla, kemudian mencium tangan Ibu.


"Pasar malam kan lumayan jauh, jadi kalian jalan di tengah keramaian aja ya, kalian jalan sama banyak orang," ucap Ibu memberi peringatan. Nayla dan Fahmi mengangguk.


"Kalo gitu kita berangkat Bu," ucap Nayla.


"Iya," ucap Ibu tersenyum, mereka berdua bangkit dan keluar dari rumah.


Nayla dan Fahmi berjalan bersama rombongan orang-orang yang satu tujuan dengan mereka, mereka sengaja berjalan paling belakang agar suara ribut di depan tidak mengganggu pembicaraan mereka.


Nayla menghela nafas, entah kenapa melihat beberapa orang di belakang membuatnya mengingat Satya. Ya, lagi-lagi ia merindukan Satya, merindukan sesosok yang tak terlalu ia kenal, hanya tau namanya, tapi tidak dengan kehidupannya, namun bisa membuatnya melupakan segala hal dalam sekejap.


Nayla mengayunkan tangan sembari menghela nafas demi menghilangkan rindu yang tiba-tiba menghampirinya. Ia menggenggam tangan Fahmi erat, membuat Fahmi menoleh ke arahnya.


"Kamu kenapa 'Nay?'" tanya Fahmi. Nayla menggeleng.


"Tante nggak ikut 'Fah?'" tanya Nayla mengalihkan pembicaraan.


"Mama ikut, tapi udah jalan duluan sama papa sama adek," jawab Fahmi.


"Trus kenapa nggak jalan sama mereka aja 'Fah?'" Nayla memandang Fahmi heran, "selain lebih dekat sama mereka, kamu juga bisa lebih cepet sampe," ucap Nayla, "tapi, mereka pake kendaraan 'kan?'" tanya Nayla.


"Iya, mereka pake mobil, aku nggak jalan sama mereka, karena aku bosen diam di dalam mobil. Selain itu, aku pengen jalan sama kamu, biar waktu dan kenangan kita lebih banyak sebelum kita berpisah suatu saat nanti," ucap Fahmi pada Nayla. Nayla hanya tersenyum.

__ADS_1


"Kita kan selalu punya waktu bersama di sekolah, Trus kita juga selalu main bareng kalo di rumah," ucap Nayla.


"Biar waktu kita lebih banyak Nay, nanti kan rencananya kalo udah lulus, aku akan lanjut sekolah ke luar kota, otomatis kita pasti akan berpisah, kecuali kalo kamu juga ikut sekolah ke luar kota, pastinya kita akan tetap bareng," ucap Fahmi.


"Aku nggak tau Fah mau lanjut sekolah ke mana, pengennya sih ke luar kota kayak kamu, tapi di sini Ibu nggak ada temennya, aku nggak mungkin ninggalain Ibu sendiri," ucap Nayla murung.


"Yang penting ilmu kita berkah Nay, sekolah di sini juga nggak papa asalkan kita masih bisa sekolah, dan ingat adab lebih utama dari ilmu," ucap Fahmi menenangkan Nayla.


"Iya Fah, makasih ya udah jadi satu-satunya sahabat terbaikku, makasih udah mau berteman dengan aku yang banyak kekurangan," Nayla memeluk lengan Fahmi.


"Bagiku, sahabat itu bukan hanya dengan orang yang sama pintarnya dengan kita, bukan dengan yang sama kayanya dengan kita, bukan juga yang sama-sama sempurna hidupnya. Tapi sahabat itu ketika kamu mengerti dia, selalu ada saat dia dalam masa sulit, dan selalu mendukungnya ketika dia sedang butuh motivasi. Dan ingat ini, bagi aku kamu sempurna, jangan pernah bilang kamu banyak kekurangan, aku nggak suka Nay, kamu tetap sahabatku yang paling sempurna," ucap Fahmi yang membuat Nayla Tersenyum dengan air mata menggenang. Ia bersyukur dipertemukan dengan Fahmi, sahabat terbaik yang selalu tau cara menghiburnya.


"Makasih Fah, aku nggak pernah bertemu manusia sebaik kamu selain Ibuku," ucap Nayla mengeratkan pelukannya di lengan Fahmi.


"Aku akan berusaha menjadi sahabat yang sempurna buat kamu Nay," Fahmi memandang Nayla yang sedang memeluknya. Nayla menoleh ke arah Fahmi, pandangan mereka bertemu.


"Kamu memang sahabat yang sempurna Fah, kamu nggak pernah buat aku sakit hati sekalipun, dan aku bahagia memiliki sahabat sebaik kamu," ucap Nayla memuji Fahmi, mereka tersenyum dengan Fahmi yang tersenyum kaku.


"Aku juga nggak suka mukul, pukulanku juga nggak terlalu sakit, jadi aku memang sahabat yang sempurna banget 'kan?'" ucap Fahmi merusak momen serius itu. Ekspresi Nayla berubah masam.


"Lagi 'nyindir?'" tanya Nayla cemberut.


"Nggak, aku cuma kasih tau kesempurnaan aku yang lain, nggak nyindir siapapun, lagian cuma kita berdua yang ada di belakang, aku sindir siapa coba, kecuali kalo kamu merasa tersindir, ya mungkin kamu emang gitu 'kan?'" tanya Fahmi menggida Nayla.


"Bener-bener merusak momen banget tau nggak," Nayla melepaskan pelukannya pada lengan Fahmi.


"Perasaan, aku nggak merusak momen apapun deh Nay," ucap Fahmi melihat Nayla dengan senyum cengir.


"Kamu emang perusak momen banget tau," ucap Nayla cemberut.


"Nggak usah cemberut, nanti cantiknya hilang," ucap Fahmi menggoda Nayla. Nayla hanya menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


__ADS_2