
Nayla gugup sekaligus berdebar bisa berboncengan dengan Satya, tanpa sadar senyum tipis terbit di bibirnya. Nayla mendekatkan wajahnya dekat telinga Satya untuk memberitahukan jalan, pipinya hampir bersentuhan dengan punggung Satya.
'Ibu ada di rumah nggak ya?' Batin Nayla, dia membayangkan reaksi ibunya ketika dia diantar pulang oleh orang yang tidak di kenal.
"Rumah lo masih jauh Nay?" tanya Satya di tengah jalan.
"Deket kok kak, bentar lagi nyampe," jawab Nayla.
"Setelah ini kita ke mana?" Tanya Satya yang melihat ada gang di depannya.
"Lurus aja kak, rumah aku di dekat jalan raya, cuma agak dalem dikit, karena ditutupi pohon," ucap Nayla.
"Kak Satya stop!" Ucap Nayla karena mereka telah melewati rumah Fahmi, dia tidak ingin diantar sampai rumah, karena tidak ingin melihat reaksi ibunya. Satya berhenti.
"Ini rumah lo?" tanya Satya melihat rumah bercat hijau di dekat rumah Fahmi.
"Bukan kak," Nayla turun dari motor Satya, Satya mematikan motornya. "rumahku ada di depan," ucap Nayla jujur.
"Trus kenapa berhenti disini?" tanya Satya.
"Kak Satya anterin aku sampe sini aja ya, biar aku jalan kaki sampe rumah, rumahku juga udah deket kok," ucap Nayla menjelaskan .
"Justru karena rumah lo udah deket, mending gue anter sampe depan rumah lo, biar lo nggak jalan kaki, sekarang lo naik, biar lo lebih cepat nyampe," Satya menghidupkan kembali motornya.
"Nggak usah kak, beneran, aku jalan kaki aja, mending kak Satya pulang, ini udah siang banget kak, nanti kak Satya telat sampe rumah," ucap Nayla mencoba meyakinkan Satya.
"Lo yakin nggak mau dianter?" tanya Satya.
"Iya kak, aku jalan kaki aja," ucap Nayla.
"Yaudah, kalo gitu gue pulang ya," Nayla mengangguk.
"Makasih udah anterin aku," Nayla tersenyum pada Satya, Satya balas tersenyum.
"Gue duluan," Satya pamit.
"Hati-hati kak," Satya tersenyum dan mengangguk, kemudian dia berbalik dan melajukan motornya.
Nayla melihat motor Satya yang semakin jauh dari pandangannya. Dia memegang dadanya, ia tersenyum. Nayla pulang dengan perasaan bahagia, bibir itu tak pernah pegal membentuk senyuman, pipi itu merona sepanjang jalan. Tak peduli jika ada orang yang melihatnya tersenyum sendiri, karena rasa bahagianya saat ini membuatnya tak bisa melihat apapun selain bayangan Satya yang memboncengnya tadi.
"Assalamu'alaikum, Bu," Nayla memberi salam, ia mencari sang Ibu di kamar, tapi Ibunya tidak ada, mungkin Ibunya sedang ada di rumah bu RT pikirnya.
__ADS_1
'Ternyata ibu nggak ada di rumah, tau gini, aku pasti nggak akan minta kak Satya berhenti di jalan tadi," batin Nayla, tapi sedetik kemudian ia tersadar.
"Astagfirullah, bisa-bisanya aku mikir kayak gitu," Nayla menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan bayangan Satya di dalam fikirannya, dia segera keluar dari kamar Ibunya, dan segera masuk ke dalam kamarnya, menaruh tasnya di atas meja dan langsung membersihkan diri.
Malam ini, Nayla hanya membaca sedikit buku yang di pinjamnya dari perpustakaan, setelah itu ia berjalan ke tempat tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut, ia memejamkan matanya. Bukan karena ia mengantuk, tapi karena dirinya yang tiba-tiba memikirkan Satya, dan ia ingin menghilangkan perasaan itu dengan mencoba tertidur.
Nayla mencari posisi yang nyaman dari tidurnya, menghadap kiri dan kanan tapi itu sama sekali tak berhasil membuatnya tertidur, kepalanya benar-benar di penuhi oleh nama Satya. Nayla bangkit dari tidurnya dan duduk meyandarkan punggungnya, ia memijat kepalanya yang pusing tapi belum bisa tertidur karena memikirkan Satya.
"Kenapa aku terus mikirin kak Satya?" Nayla berdecak, "aku ngantuk tapi nggak bisa tidur," Nayla mengeluh.
"Apa kak Satya juga mikirin aku yah?" Nayla mulai berbicara sendiri.
"Mana mungkin," Nayla menghadap ke samping. Ia memegang dadanya, ia ingin melihat Satya saat ini.
Karena tak bisa tidur, Nayla mengambil bukunya dan membacanya di tempat tidur. Ia membaca sambil tiduran walaupun tak fokus karena kepalanya yang semakin pusing, ia mencoba menghayati apa yang ia baca sampai benar-benar khusyuk. Karena sudah terlalu khusyuk, akhirnya Nayla tertidur dengan buku di tangannya.
...☆☆☆☆☆☆☆☆☆...
"Bu, Nayla berangkat," Nayla berpamitan dengan Ibunya yang sedang menyapu di halaman rumah.
"Hati-hati ya nak, belajar yang sungguh-sungguh," ucap Ibu menasihati.
"Iya Bu," Nayla menyalami tangan Ibunya dan berangkat ke sekolah. Tapi, baru beberapa langkah, Nayla dipanggil oleh seseorang dari depan.
"Fah, kok kesini, kenapa nggak nunggu di depan rumah kamu?" tanya Nayla setelah berada di dekat Fahmi, mereka langsung berangkat ke sekolah.
"Sengaja biar bisa bicara lebih lama sama kamu," jawab Fahmi.
"Emang mau bicarain apaan sih Fah, sampe kamu jemput aku di rumah?" tanya Nayla.
"Nggak penting-penting amat sih, yang penting aku bisa bicara lebih lama sama sahabat aku, gitu aja sih," ucap Fahmi.
"Hmm, kangen ya sama aku?" Nayla tersenyum memandang Fahmi.
"Kepeden banget sih, emang nggak boleh ya aku jemput sahabat sendiri," Fahmi mencubit gemas pipi Nayla.
"Mmm Fahmi," Nayla cemberut mengusap kedua pipinya. "boleh sih, cuma tumben aja kamu jemput aku," Nayla melanjutkan perkataannya.
"Ya terserah aku dong Nay," ucap Fahmi santai. "aku mau nanya Nay," lanjut Fahmi.
"Mau nanya apa?" ucap Nayla.
__ADS_1
"Kemarin kamu pulang sendiri kan?" tanya Fahmi
"Nggak, aku dianterin kak Satya," jawab Nayla.
"Berarti aku nggak salah liat kemarin," ucap Fahmi lirih tapi masih bisa si dengar oleh Nayla.
"Salah liat? Salah liat kenapa?" tanya Nayla.
"Nggak, kemarin aku lihat perempuan diboncengin sama laki-laki, postur tubuhnya sama persis kayak kamu, dan ternyata itu emang kamu," ucap Fahmi menjelaskan.
"Oh iya, jadi kemarin aku dianterin sama kak Satya, tapi nggak sampe rumah, takut dimarahin sama Ibu," ucap Nayla tertawa.
"Tapi kamu kenapa bisa dianterin sama Satya Nay?" tanya Fahmi.
"Jadi gini, kemarin itu, aku cari kak Satya buat balikin bukunya. Setelah aku kasih, kak Satya nanya aku pulang sama siapa, aku jawab pulang sendiri, trus kak Satya nawarin buat nganterin, yaudah aku dianterin deh sama dia," Nayla menjelaskan, "sebenarnya sih kemarin itu aku nggak mau, tapi kak Satya maksa, jadi, nggak enak kalo nolak, yaudah aku dianterin sama dia, tapi cuma sampe depan sana," Nayla melanjutkan perkataannya sambil menunjuk jalan tempatnya berhenti kemarin.
"Kenapa cuma sampe sana?" tanya Fahmi.
"Aku kan udah bilang, nanti Ibu marah liat aku di boncengin sama kak Satya," ucap Nayla.
"Besok-besok, kalo kamu ke perpustakaan, aku harus ikut, biar kita bisa pulang bareng dan juga biar kamu nggak takut dimarahin sama Ibu," ucap Fahmi, "dan jangan larang-larang aku kalo ikut ke perpustakaan," lanjut Fahmi melihat Nayla.
"Gimana aku nggak larang coba, kamu kalo ke perpus nggak pernah baca atau minjam buku," ucap Nayla.
"Itu kan karena aku lagi nungguin kamu Nay," ucap Fahmi.
"Makanya aku larang kamu buat ikut, karena aku nggak mau di tungguin," balas Nayla.
"Besok aku akan ikut minjam buku kok," ucap Fahmi.
"Ya bagus lah kalo gitu," ucap Nayla.
"Emang bagus," balas Fahmi.
"Apaan sih, nggak nyambung," ucap Nayla.
"Biarin, yang penting aku sahabat kamu," ucap Fahmi.
"Makin ngawur tau nggak, mending nggak usah ngomong deh," ucap Nayla mendengar perkataan Fahmi yang tidak nyambung.
"Bodo," ucap Fahmi dengan wajah kesal.
__ADS_1
Mereka terus berbicara saling balas seperti itu sampai mereka sampai di sekolah.