Nayla

Nayla
tiga (3)


__ADS_3

Kehidupan di rumah sederhana dimulai dari menjelang subuh tadi. Seorang ibu dan dua anak. Gadis dua puluh dua tahun dan si bungsu, lelaki dua belas tahun.



Sambil mematikan lampu belajar berbentuk leher angsa. Pria muda ini memasukkan buku\-buku pelajaran ke dalam tas lain yang tak jelas lagi warnanya. Ia menepuk\-nepuk tasnya membangunkan debu\-debu, juga kutu bercampur dengan asap hangat dari deretan kue donat diatas loyang. Kedua tangannya ditarik keatas, menggoyangkan badannya ke kanan, ke kiri, lalu *set*...! Tahu\-tahu mulutnya sudah menggigit kue bulat itu.


"Izar!"


Ada suara marah dan jengkel.



Tanpa menoleh ke arah suara Izar melompat\-lompat kecil menuju pintu.


"Satu. Ibu tinggal mengurangi upah Izar saja, kok. *Beres tho*!" Senandung tawa kemenangan menggema di halaman menyambut sinar pertama yang jatuh ke bumi.



Di antara rumah\-rumah Kampung Jalil, rumah ini biasa saja cukup memenuhi syarat untuk tempat tinggal keluarga yang kehilangan seorang kepala rumah tangga. Dindingnya tersusun balok\-balok batako di sisi kanan dan kirinya, hanya bagian depan saja yang berlapir semen. Warna putih di kanan dan kirinya bukan cat. Hanya cairan batu kapur yang biasa digunakan untuk membedaki batang\-batang pohon di kampung menjelang perayaan tujuh belasan. Halaman sempit namun rindang dengan pohon ketapang.



Namun, tengok bagian kanan rumah hingga ujung bibir halaman. Ada pemandangan yang tak biasa. Di kampung ini, mungkin hanya ditemui di rumah ini. Disana, tampak berderet\-deret rapi pot\-pot dari tanah liat yang ditumbuhi bunga\-bunga cantik. Mawar beradu oandang dengan melati. Si cantik anyelir asik bergosip dengan si centil krisan. Kewibawaan arumdalu membuat tuan desember merasa rendah diri. Si jangkung matahari tak lepas menatap putri anggrek yang melambai\-lambai. Sepagi ini, adenium bermarga *daeng mengkol* dan *purple picote* sudah pasang aksi memamerkan kemolekan corak dan warna bunganya.



Bila saja mereka berlidah dan bermulut, mungkin Nay akan mendengar ucapan mereka. "Wahai putri yang selalu meyirami tubuhku, katakan dengan jujur siapa yang paling cantik pagi ini?"



Nay menegakkan punggungnya. Memandang mereka penuh bahagia. "Terima kasih atas keindahan Tuhan yang dititipkan dalam wujud kalian semua. Terima kasih atas senyum manis kalian. Terima kasih sudah menjadi sahabatku, pelipur hati, pengharum jiwaku. Hidup memang harus berbunga. Biarkan aku belajar dari kalian."



Nay mengakhiri ritual paginya tepat saat matahari menyembul sempurna di balik bukit. Sambil menjinjing ember kosong, dia berjalan menghampiri Izar yang bergelantungan naik turun dipohon ketapang.

__ADS_1



"Dua puluh kali kak ditambah dengan dua diminggu lalu." Dengan napas terengah\-engah. Dahinya penuh keringat.



"Adikku memang hebat. Tapi, lebih hebat lagi kalau tidan membuat ibu berteriak jengkel karena ada tangan usil yang mencuri donatnya."



Izar tersipu. Nay sudah sering mengingatkan Izar atas ulah kecilnya itu. Namun, Izar selalu tergoda dengan aroma manis dan hangat kelezatan bunda bulat itu. Apalagi setelah belajar dipagi hari, perut nya berbunyi seperti meminta dikasihani. *Toh*, Izar selalu bertanggung jawab atas donat\-donat yang ia bawa. Izar akam menambahkan uang jajannya kedalam uang penjualan donat sebagai ganti donat\-donat yang ia ambil.



"Kak Nay, ibuk, Izar berangkat sekolah dulu. *Assalamualaikum*." Sambil melanyami keduanya. Pria muda itu mengayuh sepeda BMX nya meninggalkan halaman rumah.



Aini berbalik sambil memegang punda gadisnya. Diperhatikannya Nay dari kaki hingga kepala. Tinggi Nay sudah beberapa senti diatas ibunya. Aini membuetulkan jilbab Nay yang kurang rapi.


"Sudah, sana berangkat jangan sampai telat. Seorang guru harus memberi contoh yang baik bagi anak\-anak didiknya. Ibu shalat Dhuha dulu."


*****


Randy memang meninggalkan Kampung Jalil, tetapi tidak bisa meninggalkan ketiga alasan yang mengikat hidupnya. Ia hatus berpikir mencari tempat tinggal untuk sementara waktu. Saat ia melintasi losmen. Randy memutuskan untuk tinggal sementara disana. Penampilannya sangat mendukung dan hampir semua orang ditemuinya mengira dirinya pelancong.



Sebuah pikiran muncul saat Randy mengguyur badannya di kamar mandi. Randy langsung mengambil ponselnya. Dan memeriksa setiap panggilan yang masuk. Benar sekali. Ada data panggilang yang durasinya cukup lama.


"Bunda"



Kini, Randy bisa melihat benang merah permasalahannya. Segera ia menghubungi bundanya. Ia meminta maaf karena pergi meninggalkan rumah tanpa pesan. Randy juga meyakinkan bundanya untuk tidak usah terlalu mengkhawatirkan dirinya. Dan yang paling penting, ia tidak bisa berjanji kapan akan pulang.

__ADS_1


"Aku ingin memulai hidup baru disini, Bunda."


"Hidup baru bagaimana, Ran. Ada dimana kamu, Nak?"


"Aku di pinggiran Kota S bunda. Aku ingin hidup seperti yang aku inginkan selama ini, Bunda."


"Ran..."


"Aku tidak melakukan kriminalitas. Jadi, Bunda tenang\-tenang saja. Pda waktunya nanti, aku akan pulang. *Love and miss you* Bunda."


*Tut*....!


Berikutnya tinggal mencari waktu untuk menjelaskan kepada Fahim.


*****


Tak mudah mengatasi gelombang yang menerjang pantai hati Randy. Sejenak, ia melupakan kebaikan Fahim atau kegembiraan bersama Rida yang mungkin saat ini bertanya\-tanya keberadaannya. Tapi sungguh, Randy tak mampi melepaskan sepasang mata indah yang menghiasi wajah cantik berbalut hijab.


"Siapa namamu? Bagaiman caranya aku bisa mengenalmu?"



Randy mondar\-mandir mirip tukang parkir. Jenuh, ia bika jendela lebar\-lebar beserta gordennya. Hembusan angin segar memenuhi seriap ruangan. Berjarak sekitar seratus meter didepannya, ada bangunan beratap kuning menyala dengan tembol berwaena biru muda. Randy sama sekali tidak memperhatikan bangunan tembok yang menjorok ke tengah persawahan itu hingga hari kedua, ia melihat pemandangan yang membuat matanya terbuka lebar.


Mulanya, anak\-anak kecil berseragam yang berhamburan dari mulit gerbang itu. Oh, ternyata sebuah taman kanak\-kanak. Tak lama kemudian, muncul beberapa perempuan berjilbab. Meski dalam radius cukup jauh, Randy sangat hafal dengan warna jilbab itu.


"Dia.... adalah salah satu dari pengajar di TK itu."


*****


Esok pagi nya, Randy sudah menyiapkan rencana sederhana. Menjelang anak\-anak TK pulang. Randy sudah bersiap di tepi jalan. Saat mereka melintas, Randy membantu seorang anak kecil menyebrang jalan. Sambil menggandeng tangan kecil disampingnya, Randi menunjukkan wajah di layar kameranya.


"Adik kamu tahu siapa dia?"


"Kakak ini *piye, tho*? Itu kak Nay namanya, guru saya. Orangnya baik banget, pintar, cantik...."

__ADS_1


Ah, begitu gampang ternyata. Randy tersenyum penuh kemenangan. Sempurna bukan? Bertanyalah pada anak\-anak jika ingin jawaban yang jujur, Randy bisa mengetahui banyak hal sekaligus. Tidak salah, ia memang guru di taman kanak\-kanak itu. Dan dia bernama.... Nay.


"Nay....."


__ADS_2