Nayla

Nayla
Part 19


__ADS_3

Nayla mengajak Amanda ke belakang sekolah, tempat yang teduh dan nyaman untuk belajar. setelah sampai di sana, mereka mencari posisi duduk yang nyaman dan mulai konsentrasi untuk belajar.


Nayla menjelaskan pada Amanda soal-soal Fisika yang tidak Amanda fahami. Pelan namun pasti, meskipun sulit memahami soal-soal itu, tapi karena memperhatikan dan berkonsentrasi, akhirnya Amanda faham cara mengerjakan rumus-rumus dan soal-soal itu. Konsentrasi saat belajar memang penting, karena peluang untuk Memahami pelajaran menjadi jauh lebih besar.


Setelah dirasa Amanda sudah Faham dengan penjelasannya, Nayla meminta Amanda mengerjakan soal-soal latihan yang belum pernah dikerjakan sebelumnya. Hal itu untuk melatih apakah Amanda sudah bisa mengerjakannya tanpa bantuan orang lain atau belum. Amanda patuh, ia mengerjakan beberapa soal latihan yang berbeda, sedangkan Nayla memperhatikan cara Amanda mengerjakan soal-soal itu.


Meskipun terkenal dengan kecerdasannya dalam menangkap dan memahami pelajaran, Nayla tak pernah sombong. Bahkan, dia adalah tempat teman-temannya bertanya jika ada yang tidak Faham, karena penjelasannya yang logis dan santai, membuat teman-temannya lebih cepat memahami apa yang dikatakannya.


"Nih Nay, aku udah kerjain tiga soal," Amanda menyerahkan soal yang ia kerjakan pada Nayla untuk diperiksa benar atau tidaknya. Nayla mengambil buku itu dari tangan Amanda.


"Aku liat dulu ya Man," Nayla melihat jawaban Amanda, tangannya begerak seperti sedang menghitung, "bener Man, semuanya tepat," ucap Nayla. Ia mengembalikan buku itu kepada Amanda.


"Yang bener Nay?" tanya Amanda memastikan, ia tersenyum senang. Nayla mengangguk.


"Iya Man, jawaban kamu pas. Itu artinya kamu pasti bisa dapat nilai 10 pas ulangan nanti," ucap Nayla.


"Semoga aja Nay, selain nilaiku yang cantik, aku juga bisa habisin uangnya Kholil nanti," Amanda tertawa aneh menyebut nama Kholil.


"Senengnya di traktir sama Kholil," ucap Nayla menggoda Amanda.


"Kalo aku dapat nilai 10, baru aku bisa di traktir, kalo nggak ya nggak dapat apa-apa," ucap Amanda.


"Aku yakin kamu pasti bisa Man, jawaban kamu aja udah bener," ucap Nayla menunjuk jawaban Amanda yang sudah berhasil dijawab dengan benar.


"Ini beda Nay, biasanya kalo soal ulangan udah ditaruh di atas meja, aku pasti panik dan lupa sama penjelasan-penjelasan yang udah masuk ke otak aku, apalagi kalo masalah rumus-rumus, aku pasti lupa caranya gimana, ujung-ujungnya jawab soal seadanya aja, kalo nggak nyontek, ya ngarang," ucap Amanda lesu.


"Makanya Man, belajar itu tiap hari jangan SKS(Sistem Kebut Semalam) terus, jadiin traktiran Kholil sebagai motivasi kamu, buktiin ucapan kamu kalo kamu bisa dapat nilai 10 tanpa bantuan apapun dan siapapun," ucap Nayla memberikan motivasi untuk Amanda.

__ADS_1


"Tapi Nay, aku bisa nggak ya, soalnya kalo soal udah di depan mata, aku beneran panik dan semua yang pernah aku pelajari tiba-tiba kabur gitu aja dari kepala aku," ucap Amanda.


"Gini ya Man, pertama, kamu belajar tiap hari, kamu hafal aja dulu rumus-rumusnya, trus kamu pelajari cara kerjainnya. kedua, Kalo nanti soal udah dibagiin, kamu santai aja walaupun sebenernya kamu panik, trus kamu baca soalnya satu persatu dan jawab langsung tanpa liat kiri kanan. Karna biasanya, yang membuat goyah itu, hal-hal yang ada di sekitar, bukan soalnya," ucap Nayla mencoba memberi tips pada Amanda. Amanda hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Nayla.


"Aku akan coba kayak gitu, semoga aja bisa," ucap Amanda.


"Kamu pasti bisa Man," Nayla memberi semangat. Amanda tersenyum dan mengangguk. Untuk mengasah lebih dalam kemampuannya dalam memahami rumus-rumus Fisika, Amanda mengerjakan beberapa soal kembali dengan Nayla yang membantunya jika salah menjawab.


Di tengah latihan mengerjakan soal itu, tiba-tiba seseorang datang dari belakang dan menutup mata Nayla. Nayla yang sudah bisa menebak siapa itu, tersenyum dan mencubit pergelangan sang pemilik tangan.


"Aww, sakit Nay," ucap Fahmi. Ia langsung melepaskan tangannya dari mata Nayla. Nayla berbalik menghadap Fahmi.


"Siapa suruh nutupin mata aku," ucap Nayla santai dan kembali menghadap Amanda. Fahmi duduk di dekat mereka.


"Kalian lagi belajar apa? Khusyuk banget," tanya Fahmi melihat Amanda yang sedang menulis.


"Lagi belajar soal Fisika yang kemarin," jawab Nayla. Fahmi menoleh ke arah Nayla dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Makasih Fah," ucap Nayla.


"So sweet banget sih," ucap Amanda yang masih menulis, Nayla dan Fahmi menoleh ke arahnya.


"Nggak usah nyambung pembicaraan orang," ucap Fahmi sinis pada Amanda. Amanda menoleh pada Fahmi.


"Yang penting, aku bicara sama temen aku, bukan sama orang lain," ucap Amanda dan kembali menulis.


"Tapi itu merusak suasana tau nggak," ucap Fahmi.

__ADS_1


"Lah? Suasana apa yang aku rusak? aneh banget sih Nay sahabat kamu," ucap Amanda pada Nayla. Nayla tersenyum.


"Kalian nggak usah ribut. Nih Man, mending kita makan dulu, nanti lanjut nulis," Nayla memberikan sepotong rotinya pada Amanda.


"Beneran buat aku? makasih ya Nay," Amanda menerima roti pemberian Nayla.


"Nay, kenapa kasih dia, punya kamu kan jadi kurang," ucap Fahmi protes.


"Pelit banget sih Fah, sama temen sendiri juga," ucap Amanda sambil menikmati roti di tangannya.


"Yang ngomong sama kamu siapa?" tanya Fahmi.


"Udahlah Fah, kalo ada kelebihan kita dianjurkan untuk memberi kan?" tanya Nayla menghentikan Fahmi dan Amanda.


"Iya tau Nay, tapi kan itu jadinya sedikit Nay," Fahmi menunjuk roti milik Nayla.


"Kalo aku makan sendiri, aku nggak enak Fah, jadi lebih baik makan bersama, selain dapat kebersamaanya, aku juga dapat kepuasan batin karena sudah memberi," ucap Nayla memotong ucapan Fahmi.


"Ya, itu bener banget, punya uang banyak tapi nggak berbagi sama temen sendiri juga nggak ada gunanya," ucap Amanda santai. Fahmi melihat Amanda dengan kesal.


"Mending diem deh, berbicara terus menerus tanpa tau kebenarannya juga tidak diperbolehkan, karena itu termasuk prasangka," ucap Fahmi menjawab perkataan Amanda dengan kesal.


"Ya ya, menasihati orang lain hendaknya dengan cara halus, dengan raut wajah yang ikhlas dan juga kalo bisa ketika cuma berdua dengan orang yang akan dinasihati," ucap Amanda memasukkan potongan roti ke mulutnya.


"Siapa yang nasihatin kamu cunguk," ucap Fahmi.


"Itu termasuk menasihati Fahmi," ucap Amanda.

__ADS_1


"Kalian kenapa jadi ribut sih, mending kita lanjut belajar," ucap Nayla menengahi.


"Bentar Nay, aku habisin ini dulu," ucap Amanda memasukkan potongan roti terakhir ke mulutnya sambil melihat Fahmi. Fahmi semakin kesal, karena Amanda memakan roti darinya tanpa rasa terimakasih, Nayla tertawa melihat itu, "Nih Nay, jawaban aku udah bener kan?" tanya Amanda pada Nayla. Nayla memeriksanya dan membenarkan jawaban yang salah. Mereka belajar bersama sampai bel berbunyi dan mereka masuk bersama ke dalam kelas.


__ADS_2