Nayla

Nayla
Part 18


__ADS_3

Hari ini Nayla pergi ke sekolah tanpa semangat, bahkan ia merespon perkataan-perkataan Fahmi dengan singkat, rasa gelisahnya masih terasa sampai pagi ini.


Setibanya di sekolah, Nayla berpisah dengan Fahmi, Fahmi masuk ke dalam kelas, sedangkan dia sendiri berjalan ke belakang sekolah. Dia duduk bersandar di bawah pohon tempatnya biasa beristirahat, mencoba menenangkan hatinya yang gelisah sampai ia tak fokus belajar dari kemarin.


Nayla melihat sekitar, pemandangannya indah, matahari pagi yang masih malu-malu semakin memperindah suasana belakang sekolah, dengan kicauan burung dan udara segar pagi hari membuat siapapun semangat menjalani paginya. Tapi itu berbanding terbalik dengan yang Nayla rasakan saat ini. Hatinya masih gelisah dan tak mampu menikmati indahnya pemandangan belakang sekolah.


Nayla melamun, pikirannya mengajaknya berkelana kemana-man, sampai seseorang menepuk-menepuk pundaknya.


"Nay, udah bel."


"Hah?" Nayla langsung tersadar dan menoleh ke arah sumber suara, ternyata orang itu adalah Fahmi.


"Fahmi, kamu ngapain ke sini?" tanya Nayla.


"Kamu yang kelamaan di sini, ini udah bel, semua siswa udah masuk kelas, tapi kamu nggak nongol-nongol di kelas, aku cari-cari, ternyata kamu di sini, ngelamun lagi sampe nggak denger bel," Fahmi menjelaskan pada Nayla yang terlihat bingung.


"Udah bel Fah? Kenapa nggak panggil aku dari tadi?" Nayla bangkit dengan sedikit terburu-buru dan berlari meninggalkan Fahmi masih jongkok di bawah pohon. Tapi kemudian dia berhenti dan berbalik.


"Fah, kenapa masih di situ? Ayo masuk," ucap Nayla karena melihat Fahmi yang masih duduk diam di bawah pohon.


"Udah dipanggil ke sini, nggak tau terimakasih, ninggalin lagi," omel Fahmi yang masih setia jongkok di bawah pohon.


"Ya Maaf, aku tadi kaget aja pas kamu bilang udah bel," Nayla menggaruk kepalanya dan berjalan ke arah Fahmi, "makanya aku lari," Nayla menyodorkan telapak tangannya pada Fahmi,


"yuk," Fahmi meraih tangan Nayla.


"Lain kali kalo ada yang ingetin kayak tadi, jangan langsung grasa grusu biar kamu nggak lupa kalo ada orang di dekat kamu, kalo temen sih nggak papa, tapi kalo orang lain atau orang asing gimana? Udah pasti malu kan?" Fahmi memperingati Nayla. Mereka berjalan menuju kelas.


"Iya, aku nggak akan ulangi lagi, tadi itu aku langsung lari gitu aja, nggak inget kalo masih ada kamu di belakang," Nayla cengir memandang Fahmi.


"Emang kamu lagi mikirin apa sih Nay, bisa-bisanya sampe nggak denger bel bunyi," tanya Fahmi melihat Nayla.


"Aku nggak mikirin apa-apa kok, tadi terlalu menikmati pemandangan aja, makanya sampe nggak denger bel," Nayla berusaha meyakinkan Fahmi.

__ADS_1


"Yakin cuma menikmati pemandangan?"


"Iya, nggak percaya banget sih," Nayla pura-pura cemberut, "belum mulai belajar kan di kelas?" Nayla mengalihkan pembicaraan.


"Belum, guru masih di kantor," mereka masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku masing-masing, beberapa saat kemudian guru datang dan memulai pembelajaran.


Bel ganti pelajaran berbunyi, setelah ucapan salam pada guru di depan, para siswa kembali duduk dan memasukkan buku yang ada di atas meja dan mengeluarkan buku yang akan dipelajari di jam kedua.


"Nay, nanti pas jam istirahat kita belajar soal yang kemarin ya Nay, biar aku cepet faham," Amanda tiba-tiba datang dan duduk di dekat Nayla.


"Iya boleh kok, tapi jangan di kelas ya Man, soalnya aku pengap di kelas terus," ucap Nayla sambil mengeluarkan buku yang akan dipelajarinya di jam kedua ini.


"Iya, dimana aja asalkan kamu senang dan aku faham," ucap Amanda tersenyum.


"Tapi kamu bawa bukunya kan Man? Aku nggak bawa, soalnya hari ini kan nggak ada pelajaran IPA," Nayla menghadap ke arah Amanda.


"Bawa dong, tapi cuma buku latihan aja, biar nggak berat, rumus-rumusnya juga sudah ada di buku, jadi kita tinggal belajar caranya aja kok," Amanda mengeluarkan buku dari tasnya dan memberikannya pada Nayla, "kamu yang bawa ya Nay, aku orangnya pelupa, jadi nanti kalo udah istirahat, kamu ingetin aku ya, biar nggak langsung keluar pas istirahat," Nayla menerima buku itu dan memasukkannya ke dalam tas.


"Jangan gitu doang Nay, kamu pasti inget kan? Pokoknya aku harus bisa cara kerjain rumus-rumus itu, biar bisa menang taruhan, lumayan lah dapat traktiran," senyum terukir di bibir Amanda kala mengingat taruhannya kemarin.


"Kalian jadi bertaruh?" tanya Nayla antusias.


"Iya, itu udah janjinya Kholil kemarin, jadi aku harus belajar dari sekarang biar pas ulangan nanti aku dapat nilai 10, biar bisa habisin duitnya, enak aja mau nantangin aku," ucap Amanda menggebu.


"Tapi kalo kamu nggak dapat nilai 10 gimana?"


"Kalo nggak dapat nilai 10, ya aku nggak dapat traktiran," Nayla tertawa melihat ekspresi Amanda yang berubah lesu.


"Tenang aja Man, nanti aku jelasin cara kerjain rumus-rumus fisika kemarin sampe kamu bener-bener faham," Nayla memberi semangat.


"Beneran sampe faham ya Nay," ucap Amanda yang sebenarnya ragu apakah ia akan bisa atau tidak tanpa bantuan jawaban dari Nayla.


"Iya," Nayla mengangguk. Mereka diam sebentar.

__ADS_1


"Man?" panggil Nayla.


"Kenapa Nay?"


"Aku mau nanya boleh?"


"Tanya aja Nay, kayak sama siapa aja minta izin dulu," ucap Amanda. Nayla terlihat ragu menyampaikan pertanyaannya.


"Tanya aja Nay, ada apa?" Amanda memegang tangan Nayla yang terlihat ragu, tapi ketika akan membuka suara guru datang.


"Nay, aku aku balik ke mejaku ya, nanti kita bicara lagi," Amanda bangkit dan sedikit berlari menuju bangkunya. Nayla hanya mengangguk.


Para siswa VIIIB belajar dengan khidmat, mereka mengikuti pelajaran dengan baik, meskipun terbilang nakal, akan tetapi para siswa kelas VIIIB sangat patuh dan hormat pada guru-guru mereka.


Nayla mengikuti pelajaran dengan perasaan yang masih gelisah, terlihat ia yang tak fokus mendengarkan penjelasan guru di depan, sampai teman perempuan di dekatnya memperingatinya.


"Nay, jangan melamun, nanti pak Hasan lihat," bisik Yulia, teman sebangkunya. Nayla tersadar dan tersenyum pada Yulia.


"Aku nggak melamun, aku lagi fokus sama penjelasan pak Hasan kok," Yulia terlihat berfikir mendengar perkataan Nayla.


"Yaudah kalo kamu nggak melamun, tadi kamu kelihatan melamun, makanya aku ingetin," ucap Yulia berbisik pada Nayla.


"Nggak kok," Nayla tersenyum menggelengkan kepala.


"Yaudah kita dengerin penjelasan pak Hasan sebelum dia sadar kita lagi ngobrol," Yulia berbisik, "tau sendiri kan pak Hasan galaknya gimana," mereka tertawa kecil.


"Yang berbicara silahkan maju ke depan, kalian berbicara sampai puas, baru kita belajar kembali?" suara lantang pak Hasan membuat Nayla dan Yulia terlihat panik dan merapikan tata duduknya. Semua siswa diam dan pak Hasan lanjut menjelaskan.


"Aww," Nayla mengaduh pelan karena ada yang melemparinya dengan buku dari belakang, dia menoleh dan melihat Fahmi menunjuk kertas yang digunakan untuk melempari Nayla. Nayla membuka kertas itu dan membaca tulisannya, Nayla berbalik menghadap fahmi dengan cemberut.


"Awas kalo sampe bilang ke ibu," bisik Nayla meninju udara.


"Siapa suruh nakal," Fahmi hanya menggerakkan bibirnya tanpa bersuara, Nayla kembali menghadap ke depan dan mendengarkan penjelasan guru dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2