
Episode 10/ Kucing Liar Milik Pak Dosen
Kelas Damian sudah dimulai, namun sedari tadi, Almira memang tidak terlihat, entah kemana ia sekarang, Damian memperhatikan lebih detail lagi, dan ternyata memang tidak ada.
‘Kenapa dia tidak masuk ke kelas saya? Padahal dia kan ada di kampus ini, apa jangan-jangan dia mendadak sakit?’ pikir Damian.
‘’Pak, kapan di mulai kelasnya?’’ tanya seorang pria yang merupakan ketua kelas.
Damian tersentak kaget, ia segera bangkit berdiri, gadis kecil itu benar-benar mengacaukan pikiran Damian. ‘’Baiklah, buka buku halaman 110, pahami, setelah saya kembali, akan saya berikan soal, dan siapa yang tidak bisa menjawabnya, maka siap-siap akan saya beri hukum, paham semua?’’ ucap Damian dengan wajah menakutkannya.
‘’Baik, Pak.’’ Sahut mereka semua dengan kompak.
Damian melangkah keluar kelas, ia berdecak kesal karena ketidak hadiran Almira di dalam kelasnya, membuat ia tidak bisa focus jika tidak memikirkan gadis kecil itu.
Damian melangkah menelusuri Lorong kampus untuk menemukan Almira, bahkan ia tidak mempermasalahkan jika semua mahasiswa dan mahasiswi menatap aneh kepadanya.
‘’Bapak sedang cari apa?’’ tanya seorang wanita yang merupakan dosen muda di kampus.
Damian menoleh dan berkata, ‘’Saya sedang mencari kucing saya,’’ ujar Damian yang berbohong, bahkan bisa-bisanya ia menyamai Almira dengan seokor kucing.
‘’Kucing?’’
Damian memberikan anggukan dan kembali berkata, ‘’Iya, dia itu kucing yang baru saya beli, dan ternyata saya membeli kucing liar. Baiklah, jika begitu saya permisi dulu,’’ ujar Damian yang seakan melihat yang ia cari tengah bersembunyi di balik tembok Gudang sana.
Namun dosen wanita itu kembali menghentikan langkah Damian, yang dipanggil menoleh.
‘’Hmm, kucing Bapak itu seperti apa? Siapa tahu saya bisa membantu Bapak untuk mencari kucing liar yang terlepas itu,’’ ujar dosen wanita itu.
‘’Tidak perlu, saya bisa mencarinya sendiri.’’ Sahut Damian yang kembali melangkah.
Dosen muda itu Nampak berpikir dengan maksud kucing liar, ‘’Sejak kapan Pak Damian suka dengan kucing? Bukannya ia sangat alergi dengan kucing?’’ pikirnya yang memperhatikan punggung sang dosen tampan nan killer semakin menjauh.
……
Almira yang sedang bersembunyi di balik tembok, Ia merasa heran karena tidak mendapatkan dosen killer itu di depan sana, ‘’Kemana perginya? Kenapa sih dia itu suka banget ngilang, terus nanti datang-datang pasti bikin jantungan,’’ gumam Almira.
Ada setapak langkah yang sedang melangkah mendekat, dengan tersenyum ia berbisik, ‘’Seperti jalangkung?’’
Almira memberikan anggukan, ‘’Hmm, benar banget, seperti jalangkung! Datang tidak di undang dan ….’’ Ucap Almira yang terpotong.
‘’Kenapa kamu tidak masuk kelas saya?!’’ ujar seseorang yang membuat bulu kudul Almira menjadi merinding. Ia menoleh dan betapa kagetnya mendapatkan seorang pria yang berusaha Ia hindari, sedang menatapnya dengan dingin, Almira hanya bisa menelan salavinanya sendiri.
__ADS_1
‘’Heheh, bapak. Ngapain disini, Pak?’’ tanya Almira yang memberikan satu pertanyaan bodoh kepada Damian.
‘’Menurut kamu? Dan kenapa kamu ada disini? Apa kamu mau satu semester ini saya gagalkan, hah?!’’ ancam Damian.
Almira melotot kaget, dan ia berusaha mengejar langkah Damian yang pergi begitu saja.
‘’Pak, Tunggu!’’ teriak Almira, langkah Damian sangat panjang dan cepat, bahkan membuat Almira kewalahan untuk mengejarnya.
…..
‘’Eh, Pak Damian,’’ ucap dosen muda itu lagi.
Ia yang menoleh ke belakang dan melihat Almira yang sedang mendekat, mengerutkan keningnya.
‘’Hmm, bagaimana dengan kucing liar itu, Pak Damian? Apakah sudah ketemu? Jika belum, saya ….’’
Ucapan dosen muda terpotong karena Damian sudah keburu menyela, ‘’Sudah, jika begitu saya permisi!’’
Namun langkah Damian terhenti, ia berucap tanpa menoleh ke belakang, ‘’Oh yah, tugas kamu, jangan lupa kasih jatah makan kucing liar saya itu, paham kamu Almira!’’
Dosen muda melirik kepada Almira dengan tatapan bertanya-tanya, apa maksud dari ucapan Damian, ini kali pertama seorang dosen paling dingin di kampus, memberikan reaksi cukup dekat dengan salah seorang muridnya.
Damian kembali menyela ucapan Almira, ‘’Perintah adalah aturan, atau kamu mau saya hukum?’’ tawarnya yang melirik ke belakang.
‘’Eh, enggak Pak. Jangan hukum saya, ngomong-ngomong kucing yang mana?’’ tanya Almira yang masih kebingungan dengan tugas dari Damian.
‘’Seharusnya kamu sudah tahu dia ada dimana, jika tidak maka cari!’’ ujar Damian yang melangkah kembali ke dalam kelas.
Almira hanya bisa menahan rasa kesalnya, ia mendongkol dalam hati, ‘Aku sumpahin dosen killer itu dicakar oleh kucing liar peliharaannya itu!’’
……
Di saat Almira hendak melangkah, dosen muda malah mencegah dan menatap Almira dari ujung rambut hingga ujung kaki.
‘’Kenapa Pak Damian bisa dekat dengan kamu?’’ tanyanya dengan tatapan yang menakutkan.
‘’Maksud Ibu apa?’’ tanya balik Almira.
‘’Alah, nggak usah ngeles kamu, kamu pasti pellet Pak Damian yah? Makanya dia bisa berbicara dengan kamu,’’ selidik dosen muda.
Almira malah terkekeh dengan tuduhan yang diberikan oleh dosennya ini, ‘’Bu, Bu. Sudah zaman canggih begini, masih percaya dengan hal yang begituan? Benar-benar aneh, lagian untuk apa juga saya pellet Pak Damian? Apa untungnya bagi saya?’’
__ADS_1
‘’Lagian jika saya bisa berbicara dengan Pak Damian, apakah itu hal yang menjanggalkan? Tentu tidak, memangnya semahal apa sih bicara dengan Pak Damian? Hingga Ibu malah menuduh saya dengan yang tidak-tidak,’’ ucap Almira dengan santai.
Bu dosen terdiam, ia membiarkan Almira melangkah pergi dan menuju ke kelasnya. Dengan hati yang dag dig dug, ini sudah lebih dari 15 menit, dan seperti aturan kontrak kuliah dengan Pak Damian, jika ada mahasiswa atau mahasiswi yang terlambat satu menit saja, maka absennya akan di anggap tidak hadir, sekalipun di perbolehkan untuk masuk dan mendengarkan ia yang sedang menerangkan materi perkuliahan.
…..
Almira bimbang apakah ia lebih baik mengetuk pintu atau tidak, namun mengingat ancaman yang diberikan oleh Damian, ia membulatkan tekat dan menghela nafas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu.
Tok, tok, tok.
‘’Izin masuk Pak,’’ ucap Almira yang menjadi pusat perhatian dari teman sekelasnya.
Damian yang sedang menulis di papan tulis menoleh,
‘’Masuk,’’
‘Hah! Serius? Dia tidak akan menghukum aku? Wah, satu keberuntungan sekali bisa masuk tanpa harus mendengarkan ceramah panjang dari dosen killer ini,’ batin Almira yang sangat senang.
‘’Saya boleh masuk, Pak?’’ tanya Almira memastikan.
Damian menghentikan aktifitasnya di papan tulis dan menatap kepada Almira.
‘’Memangnya saya bilang apa ke kamu barusan? Kamu tidak dengar perintah saya? Kamu kemanain fungsi telinga kamu, hah! Kamu jual? Atau kamu perlu membersihkan telinga kamu itu? Siapa tahu kan sudah waktunya di bersihkan, masih muda sudah budek!’’
Almira hanya tertunduk, ‘’Maaf, Pak. Saya permisi duduk dulu,’’
‘’Yang nyuruh kamu duduk siapa?’’ tanya Damian, Almira menoleh dan menatap penuh kekesalan kepada Damian.
‘’Bukannya Bapak sudah memberikan saya izin untuk masuk?’’ tanya Almira yang berusaha menahan amarahnya kala semua teman-teman sekelas mulai menertawai dirinya.
‘’Saya memang menyuruh kamu masuk, tapi tidak duduk. Kamu lihat ini sudah pukul berapa? Dan kamu sudah telat 15 menit, sekarang maju ke depan kelas, dan lanjutkan materi yang saya sampaikan!’’ titah Damian yang kembali duduk di kursinya.
Almira dengan langkah lemas melangkah ke depan kelas, ia menggaruk-ngaruk kepalanya sendiri. Melihat Almira hanya diam mematung di depan kelas, Damian kembali berkata, ‘’Apa kamu tidak mengerti dengan apa yang saya suruh?’’
‘’Saya mengerti, Pak. Tapi ….’’ Kata Almira yang terpotong.
‘’Jelaskan atau mau satu sementer ini kamu saya gagalkan!’’ ancam Damian.
Almira hanya bisa mendumel dalam hatinya, ‘Benar-benar dosen killer, apa yang mau di jelaskan coba? Paham aja enggak, saya doakan supaya dosen killer yang satu ini punya istri yang mulutnya jauh lebih pedas darinya, biar dia kapok memarahi orang lain terus!’
Bersambung.
__ADS_1