
Episode 28/ Menghadiri rapat wali murid
Damian dan Almira sedang berada di dalam mobil, mereka tengah menuju ke sekolah Putri, hari ini ada rapat wali murid di sekolah anak dosen killer. ‘’Pak, kenapa Bapak pake ngajak saya segala ke sekolah Putri?’’ tanya Almira.
Damian menoleh dan berkata, ‘’Memangnya kenapa? Bukankah biasanya kamu juga akan menjemput Putri kan?’’ tanya balik Damian, detik berikutnya ia kembali focus menyetir mobilnya dengan kecepatan biasa.
‘’Bukan begitu Pak, hanya saja kan saya ada tugas yang sangat banyak dari Bapak, malah tugas itu di kumpulkan jam 2 nanti, saya kan belum buat Pak.’’ Ucap jujur Almira yang takut jika dirinya akan di gagalkan di semester ini oleh Damian dan terpaksa harus mengulang di semester berikutnya.
‘’Hanya itu?’’ tanya Damian dengan santai.
Almira menoleh dan berkata, ‘’Hm, bagaimana jika Bapak mengagalkan saya di semester ini? Masa iya saya harus ngulang di semester depan?''
Damian terkekeh yang membuat Almira malah heran, ‘’Hmm, tuh kan, Bapak memang sudah ada niatan untuk mengagalkan saya di semester ini! Kenapa Bapak tega banget sih!’’ kesal Almira.
‘’Siapa juga yang berniat mengagalkan kamu Almira? Tenang saja, untuk tugas kali ini saya kasih waktu lebih untuk kamu,’’ ucap Damian.
‘’Beneran, Pak?’’ sahut bahagia Almira.
‘’Hmm,’’ sahut Damian yang focus menyetir ke depan sana.
…….
Sekolah Putri.
Suasana sudah sangat ramai karena sudah terlihat banyak wali murid dari siswa dan siswi yang datang, Almira sedang menunggu Damian yang sedang mencari parkir mobil. Ketika sedang menunggu dosen killernya, ada beberapa rombongan pria yang datang mendekat, dilihat dari wajahnya ketiga pria itu masih berusia 20 an.
‘’Kamu juga ada disini?’’ tanya salah seorang pria dengan wajah ke barat-baratan yang menyapa duluan Almira.
Almira memberikan anggukan, sekalipun dirinya mengerutkan kening karena memang tidak kenal dengan ketiga pria ini.
‘’Apakah kamu tidak mengenal kami bertiga?’’ tanya pria yang lain, pria dengan perawakan ke arab-araban.
Almira langsung memberikan gelengan kepala, ‘’Hmm, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?’’ tanyanya.
__ADS_1
Ketiga pria itu malah tertawa, salah seorang di antara mereka berkata, ‘’Baiklah, sepertinya kamu orang yang sangat cuek sekali di kampus. Perkenalkan nama saya Jakc, ini Ali, dan ini Brandon.’’ Ucap Jack.
‘’Baiklah, perkenalkan nama saya Almira,’’ sahut Almira dengan sopan.
…..
‘’Hmm, pantas saja si Latif cinta mati sama nih cewek, sopan banget bro.’’ bisik Jack yang kagum dengan sifat yang di miliki oleh Almira, kepribadian yang sudah sangat sulit untuk bisa di temui di zaman sekarang.
‘’Hati-hati, Jack. Jangan sampai lo malah jatuh hati sama incarannya Latif, bisa habis lo nanti sama dia. Lo tahu kan gimana sifat Latif itu, asalkan ada yang merebut miliknya, maka ia tidak segan-segan menghabisi orang itu, dan jangan sampai hal buruk tersebut malah menimpa lo,’’ sahut Ali dengan berbisik, dirinya memberikan periingatan kepada Jack.
‘’Hahahah, sans aja kali bro. kan gue cuman berkata apa yang gue lihat dan itu kan semuanya fakta, kalo gadis incarannya Latif ini memang menarik, pantas saja si Latif berani-beraninya memukul dosen paling killer di kampus kita,’’ sahut Jack.
….
Almira merasa risih ketika ketiga pria yang ada di depannya, memandang ke arahnya dengan memberikan tatapan aneh, dan hal itu malah membuat Almira takut jika ketiga pria ini ada niatan terselubung yang jahat padanya.
Ia mengedarkan matanya untuk mencari keberadaan Damian, namun masalahnya Damian tidak kunjung terlihat. ‘Ish, kenapa lagi tuh dosen killer! Apa jangan-jangan dia sengaja lagi untuk mengerjai aku dan meninggalkan aku disini sendirian? Tidak tahukah tuh dosen killer, jika aku sedang di ganggu!’ batin kesal dan marah yang bercampur kala Damian tidak muncul-muncul.
‘Pasti Almira akan marah besar sekarang! Hmm, apakah dia sudah masuk duluan ke kelasnya Putri?’ pikir Damian dengan melangkah cepat.
Namun matanya menangkap ada 3 pria yang cukup familiar baginya, ‘’Siapa mereka? Kenapa dekat-dekat dengan Almira?’’ gumam Damian yang semakin mempercepat langkahnya.
‘’Ohh, saya ingat ketiga pria itu, mereka juga mahasiswa di kampus yang sama dengan Almira. Awas saja jika mereka berani berbuat yang macam-macam kepada Almira, akan aku keluarkan langsung ketiga bocah ingusan itu!’’ ujar Damian dengan mengepalkan tangannya.
…..
‘’Ekhem!’’ ujar Damian yang datang mendekat, ketiga temannya Latif berbalik badan, mereka kaget ternyata Almira datang bersama dengan dosen killer yang selama ini mereka gunjingkan.
Almira menghela nafas lega, setidaknya dengan adanya Damian, ia akan merasa lebih aman.
Sementara ketiga pria itu malah memberikan wajah takut mereka kala berhadapan langsung dengan Damian. Mereka bertiga saling pandang dengan memberikan isyarat melalui mata, Damian menatap ketiga pria ini secara bergantian dengan tatapan tajam yang menakutkan.
‘’Eh, Bapak. Bapak juga ada disini?’’ ucap Ali yang berusaha menciptakan suasana baru.
__ADS_1
‘’Iya, saya ada keperluan dengan Putri saya. Kalian bertiga ngapain ada di sini?’’ tanya balik Damian.
Mereka bertiga malah bingung harus menjawab apa, karena memang tidak ada kepentingan sama sekali, mereka hanya penasaran siapa anak kecil yang selalu di jemput oleh Almira setiap harinya.
‘’Ohh,’’ ketiga teman Latif masih berusaha mencari alasan tepa tapa yang akan ia berikan kepada dosen killer yang paling tidak bisa menerima alasan yang tidak masuk akal.
…..
‘’Bukannya pulang malah kelayapan kerjaan kalian bertiga! Bagaiamana dengan tugas yang baru saja saya berikan? Apakah juga tidak akan kalian kerjakan?!’’ tanya Damian dengan mengintimidasi ketiga temannya Latif.
Mereka bertiga hanya terdiam, Damian juga tidak akan menghabiskan waktunya untuk meladeni ketiga pria ini, ia segera mengajak Almira untuk melangkah masuk ke dalam sekolahnya Putri. Ketiga temannya Latif menatap penuh heran kedekatan antara Almira dan Damian.
‘’Bro, lo punya pikiran yang sama kah dengan gue?’’ ujar Jack yang menatap lekat kepergian Almira dan Damian.
‘’Hmm, jika benar adanya, maka sudah pasti Latif akan galau berat nih, jika ternyata saingannya dosen nya sendiri,’’ sahut Ali yang setuju.
Sementara itu, Damian dan Almira sedang menelusuri Lorong sekolah putri, banyak pasang mata yang menatap penuh takjub kepada Damian, yang memang sudah terlahir dengan ketampanan yang tidak perlu di ragukan lagi, Almira sangat merasa risih dengan tatapan yang di berikan oleh semua wanita yang menatap kepada Damian.
‘’Kenapa, kamu cemburu ketika mereka semua menatap kagum kepada saya?’’ bisik Damian yang menundukkan tubuhnya yang menjulang tinggi bagi Almira.
Almira menoleh kepada Damian dengan memberikan tatapan tidak suka, ‘’Siapa? Saya? Untuk alasan apa? Dan kenapa?’’
Damian malah terkekeh mendengar ucapan Almira, ketika itu bertepatan nama Putri dipanggil.
‘’Putri damian,’’
Damian yang mendengar nama anaknya tersebutkan, ia menggandeng tangan Almira layaknya sepasang kekasih, mata Almira melotot kaget karena tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang.
‘’Tenang, dengan begini, mereka akan sadar diri dan tidak akan membuat kamu cemburu lagi, my future wife.’’ Bisik Damian dengan sangat lembut, mana suaranya juga sangat berat menggoda.
Almira hanya bisa merona di pipinya tanpa berkata-kata.
~Bersambung.
__ADS_1