Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen

Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen
Episode 12/ Jangan Tanya Sebelum Saya Memberikan Izin!


__ADS_3

Episode 12/ Jangan Tanya Sebelum Saya Memberikan Izin!


Masih di lingkungan kampus.


Almira sedang mengunjungi perpustakaan, ada beberapa tugas dari Damian yang harus segera ia selesaikan.


‘’Selamat sore, Buk.’’ Sapa Almira dengan tersenyum ramah.


‘’Selamat sore Almira, tumben masih ada di kampus?’’ tanya petugas perpus.


‘’Heheh, ini masih ada tugas kuliah yang perlu di selesaikan,’’ jawab Almira.


Almira melangkah masuk ke dalam ruangan perpustakaan, ia menyelusuri rak-rak buku untuk mencari bahan yang akan ia gunakan dalam mengerjakan tugasnya kali ini.


Sementara di tempat yang sama, Damian juga datang berkunjung untuk menyelesaikan tugasnya.


‘’Wah, Pak Dosen tumben sekali mampir ke perpus sore-sore begini,’’ sapa petugas perpustakaan.


Damian seperti biasa, ia memilih tetap diam dan melangkah masuk ke dalam. Ia juga menelusuri rak buku, begitu juga dengan Almira, ia juga sedang menelusuri rak buku dan … bukk. Almira dan Damian sama-sama hampir terjatuh karena terlalu focus pada bacaan.


Mata mereka berdua beradu, dan betapa kagetnya karena lagi-lagi di pertemukan.


‘’Bapak ngapain disini?’’ tanya Almira yang mengatu kembali hijabnya.


‘’Apa?’’ tanya Damian dengan singkat.


Dirinya mengambil bukunya yang terjatuh ke lantai dan memilih untuk melangkah pergi. Almira hanya memperhatikan sejenak betapa gagahnya dosen killernya ini.


‘’Astagfirullah, Almira. Apa yang sedang kamu pikirkan sih!’’ ujar Almira yang berusaha menetralkan kembali pikirannya.


….


Duduk berhadapan dengan dosen killer, siapa yang tidak aman jantungnya.


‘’Kalo baca, yah baca saja, jangan kebagi gitu otaknya!’’ ujar Damian yang menatap kepada Almira yang memilih untuk kembali membaca.


Damian hanya tersenyum tipis, ‘’Jika tidak berminat untuk membaca, lebih baik kembalikan saja bukunya ke tempat semula! Sepertinya tugas kuliah kamu sangat banyak, sampai buku pun harus terbalik, atau … kamu ada kemampuan khusus hingga bisa paham jika membaca buku dengan kondisi terbalik?’’


Tap.


Buku yang dibaca oleh Damian ditutup, ia bangkit berdiri dan melangkah ke rak buku untuk mencari buku lain. Almira hanya memukul-mukul jidatnya karena tidak menyangka jika Damian akan berkata yang mempermalukan dirinya.

__ADS_1


Damian kembali ke tempat semulanya, ia melirik kepada Almira yang sedang menahan malu. ‘’Tugas saya jangan lupa di kerjakan!’’


Almira berdecak kesal, padahal satu-satunya tugas dari dosen yang paling sulit untuk ia kerjakan, yah tugas dari Damian. Sekali memberikan tugas, pasti akan ada minimal 5 email yang berisikan tugas.


‘’Iya, Bapak Damian yang baik hati dan tidak sombong, ini saya juga sedang mengerjakan tugas dari Anda!’’ sahut Almira dengan kesal.


Damian masih focus dengan bacaannya, ia sesekali melirik kepada Almira yang benar-benar focus sekali mengerjakan tugas darinya.


….


Waktu kunjung perpustakaan kampus sudah berakhir.


‘’Haduhh! Padahal tugasnya masih banyak yang belum di kerjakan, tapi … perpus nya pasti akan terus tertutup dengan cepat! Kenapa tidak malam saja sih tutupnya!’’ kesal Almira.


‘’Jika begitu, bilang saja kepada rector kampus,’’ ujar Damian yang tiba-tiba nongol dari belakangnya.


Almira yang kaget, terlebih dengan tatapan yang di berikan oleh Damian, benar-benar membuatnya kesal sekali.


‘’Emang rector kampus mau menerima masukan dari saya? Kan saya ini bukan siapa-siapa di kampus ini,’’ sahut Almira.


‘’Hmm, entahlah. Siapa tahu kan, lagian emang kamu tidak punya hari lain saja untuk mengerjakannya, tugas saya pun saya beri waktu selama 1 minggu, kenapa kamu malah sulitnya sekarang coba, aneh sekali!’’


‘’Selamat sore, Pak Damian. Apa kabar?’’ sapa bu dosen.


‘’Kabar saya baik, ada apa?’’ tanya Damian.


‘’Hmm, jadi begini. Saya kan sedang menunggu jemputan sedari tadi, namun kata supir saya ban mobilnya bermasalah dan harus dibawa ke bengkel dulu. Dan saya punya acara di jalan jenderal Sudirman 15 menit lagi, jadi … apakah di perbolehkan saya izin menumpang dengan Anda, Pak?’’ pinta Bu Dosen dengan penuh harap.


Damian malah mengeluarkan ponselnya dan tengah mengotak-atik ponselnya, tidak berselang lama, Damian menatap kepada bu dosen dengan berkata, ‘’Saya sudah pesankan taksi online untuk Anda, kemungkinan 5 menit lagi sampai. Jadi saya permisi dulu, mari Sekretaris kelas!’’


Almira terdiam, ia ingin menyela namun Damian sudah kembali berkata, ‘’Kamu lupa, jika saya sudah mempercayai kamu untuk menjadi asisten saya di kelas kamu!’’


Nyali Almira mencuit, ia hanya pasrah dengan keputusan sepihak yang sudah diambil oleh Damian. Almira mengikuti langkah Damian dan masuk ke dalam mobilnya namun di bagian belakang.


‘’Kenapa kamu harus memilih untuk duduk di belakang? Apakah kamu pikir saya ini supir kamu, hah?’’


Almira tidak mendengarkan ucapan dosen killernya, ia tetap memilih untuk duduk di bagian belakang.


‘’Ada apa lagi, Pak Damian yang terhormat? Kan saya sudah masuk ke dalam mobil Anda, apa lagi? Lagian toh saya bisa pulang sendiri, hanya Anda saja yang terus memaksa saya! Jadi jangan salahkan kalo saya duduk di belakang!’’ sahut Almira dengan wajah di tekuk kesal.


……

__ADS_1


‘’Kamu lupa, jika saya ini juga majikan kamu kalo di rumah, jadi …. Kalo saya pindah duduk ke depan, yah pindah! Jangan keras kepala kamu!’’


Almira menatap kesal kepada Damian.


‘’Jika kamu tidak mau pindah ke depan sekarang, maka gaji kamu akan saya potong!’’ ancam Damian.


Dan barulah Almira mau pindah ke depan, namun ia tidak keluar dari mobil mewah itu, namun langsung pindah ke depan saat itu juga, dan bekas sepatu Almira mengotori jok mobil Damian.


‘’Ups, maaf. Hmm, lebih baik saya pulangnya naik angkot saja, lagian sepatu saya ini kan tidak cocok untuk masuk ke mobil mewah milik Bapak,’’ ujar Almira dengan tersenyum ketika melihat wajah Damian yang mengeras, dan itu sudah di bisa di pastikan karena bekas sepatunya Almira.


Namun di luar dugaan, Damian malah melajukan mobilnya, tanpa memikirkan Almira yang berteriak dengan keras.


‘’Sudah! Kamu diam saja! Lagian saya juga tidak akan berbuat macam-macam kepada kamu, kamu itu bukan tipe saya! Jadi jangan kepedean kalo saya ini akan menyentuh kamu yah!’’ ucap Damian kala Almira mulai berbicara yang ngelantur sekali.


‘’Yah siapa tahu kan, Bapak itu hanya modus! Kan lagi musimnya begitu, menawarkan saya minuman dan eh tiba-tiba udah di hotel saja, Bapak mengambil keperawanan saya dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa!’’ sahut Almira.


Damian melirik sekilas dengan wajah berkerut, ‘’Dasar gadis kecil yang memiliki otak mesum! Kamu pikir saya ini pria yang seperti itu? Lagian dari mana juga kamu pintar berbicara hal yang ngawur seperti itu, hah!’’


‘’Bapak pikir saya ini masih gadis kecil? Saya sudah berusia 20 tahun, jadi saya tidak sebodoh dan tidak sepolos itu! Sekarang turunkan saya!’’ desak Almira.


Damian menghentikan mobilnya di tepi jalan, dan menatap lekat kepada Almira.


‘’Bapak mau ngapain!’’ Almira sangat takut dengan tatapan mata dari dosennya.


‘’Hmm, kamu sendiri yang bilang jika kamu ini tidak gadis kecil dan tidak polos!’’ kata Damian dengan suara beratnya yang membuat bulu kuduk Almira berdiri.


‘’Mundur atau saya akan berteriak sekarang!’’ ancam Almira.


Damian hanya terkekeh dengan ancaman Almira, ia malah melangkah keluar yang membuat Almira heran.


‘’Turun!’’ titah Damian.


Almira mengerutkan keningnya namun ia ikut turun, ‘’Tempat ini?’’ gumamnya.


‘’Kenapa? Apakah kamu pernah ke taman ini?’’ tanya Damian.


Almira segera menggelengkan kepalanya, ‘’Sekarang ikuti langkah saya dan jangan tanya perihal apapun sebelum saya sendiri yang memberikan izin kepada kamu, paham!’’


Almira hanya manggut-manggut saja sekalipun hatinya sangat mendongkol ke Damian.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2