
Episode 16/ Saya Tahu, Saya Tampan!
Di perpustakaan kampus.
Almira sedang mengerjakan tugas kuliahnya, namun matanya tak sengaja menatap Damian yang juga ada di tempat rak baca, sembari berdiri menopang tubuh di rak baca, dan membalikkan buku yang sedang ia baca. Almira tersenyum-senyum sendiri, Damian memang menawan apalagi kala dalam mode keren, sudah bak model professional saja.
Almira melirik ke sebelah kiri, disana terlihat jika ada beberapa mahasiswi yang sedang mengambil gambar Damian secara diam-diam. Dirinya melirik kembali kepada Damian, namun sayangnya dosen killer itu malah tidak ada di tempat.
‘’Lah kemana dia?’’ pikir Almira yang bingung, ia berusaha memutar bola matanya untuk mencari keberadaan Damian, namun sayangnya tidak ketemu.
Hingga …. ‘’Astagfirullah!’’ kaget Almira yang terjatuh dari kursinya sendiri.
Bukkk.
Damian yang melihatnya hanya terkekeh, Almira yang melihatnya pun hanya bisa cemberut. Ketika Damian memberikan uluran tangan, namun Almira dengan tegas menolak bantuan Damian.
‘’Kenapa? Apakah kamu marah kepada saya?’’ tanya Damian ketika Almira beranjak pergi.
Almira membalikkan tubuh dan menatap penuh kekesalan kepada Damian.
‘’Kenapa kamu menatap saya seperti itu? Cihh, jika kamu mudah tersinggung dengan candaan saya, maka kamu ini tidak cocok untuk di sebut sebagai mahasiswi! Masa iya seorang yang bergelar mahasiswi namun lembek sih! Kalo udah kuliah tuh mentalnya harus tahan banting,’’ cecar panjang Damian.
Almira memberikan wajah malasnya dan ketika hendak melangkah pergi, ia sangat capek jika hanya untuk meladeni celotehan panjang Damian, namun lengannya malah di tahan oleh dosen killer itu. Almira menepis tangan Damian dengan berkata, ‘’Jangan sentuh saya, Pak!’’
Almira berkata dengan nada ketus dan tegas, Damian mengerutkan kening karena heran padahal semua gadis yang ada di kampus sangat mendambakan untuk bisa dekat dengan dirinya apalagi bisa bersentuhan, hal itu sudah menjadi mimpi indah di siang bolong bagi pemuja Damian dosen tampan namun killer.
‘’Asal kamu tahu Almira, semua gadis yang ada di kampus ini, sangat ingin saya sentuh, tapi … kenapa kamu malah sombong sekali! Jangan sok jual mahal di hadapan saya, saya tahu kok kalo kamu ini tertarik juga kan kepada saya? Sama seperti gadis yang lainnya!’’ kesal Damian yang merasa jika harga dirinya di injak-injak oleh muridnya sendiri.
__ADS_1
Almira hanya terkekeh dan berkata, ‘’Saya? Tertarik dengan Anda, pak dosen yang terhormat? Yah kali, saya akui wajah Anda memang tampan, berwibawa, semua gadis di kampus ini jatuh cinta kepada Anda, dan ingin menjadi kekasih Anda. Namun berbeda dengan saya, saya hanya sebatas kagum kepada Anda, Pak. Apakah Anda tidak belajar tentang perbedaan rasa kagum dengan cinta?’’
Damian terdiam menatap lekat kepada Almira, gadis kecil ini yang berani berkata seperti itu padanya.
‘’Hmm, atau perlu saya berikan Anda kuliah gratis hari ini, Pak? Kebetulan jadwal saya kosong hari ini?’’
Setelah berucap, Almira tersenyum sinis dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan Damian yang menatap kepadanya dengan lekat dan mengepalkan tangannya.
‘’Baru kali ini saya di rendahkan oleh gadis ingusan seperti Almira! Dan semakin Almira menunjukkan sikapnya maka saya semakin penasaran untuk menantinya!’’
……
Almira berlari ke dalam kamar mandi wanita, ia menatap dirinya dari pantulan cermin yang berbentuk melingkar, dirinya menatap dalam beberapa menit bagaimana ekspresi wajah yang ia berikan kepada Damian di Lorong perpustakaan. Namun selang beberapa detik berikutnya, Almira malah tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengalahkan Damian yang jika sudah berbicara tidak ada yang bisa melawannya apalagi untuk membantah satu kata pun.
‘’Hahah hahah hahah,’’
Almira membasuh wajahnya, karena terlalu lama untuk tertawa membuat wajahnya terasa sangat kaku.
‘’Haduhh, mungkin ini karena aku kualat kepada pria tua seperti dia.’’ Almira melanjutkan membasuh wajahnya.
Namun di luar sana, tanpa sepengetahuan Almira, ada beberapa gadis dengan pakaian super modis dan harga selangit menunggunya di luar.
‘’Bos yakin jika gadis yang sedang dekat dengan Pak dosen itu dia?’’ tanya seorang gadis berambut pendek sebahu, make up cukup menor dan baju yang sangat ketat membentuk tubuhnya sendiri. Dan nama gadis ini Evelin, anak dari donatur kampus yang merupakan seorang pengusaha tambang.
Evelin ini temannya anak dari donatur terbesar di kampus yang bernama Mona, mereka berdua adalah mahasiswi semester 4, sekaligus fans fanatic kepada Damian, siapapun yang di rumorkan dekat dengan Damian, tidak peduli status, sekalipun dosen, mereka berdua tidak akan tinggal diam.
‘’Yah yakin lah, lo nggak dengar rumor itu hah! Mana gadis itu hanya gadis kampung yang mendapatkan beasiswa di kampus elit seperti ini! Jadi benar-benar tidak bisa di biarkan. Yah kali seorang Mona malah di kalahkan oleh gadis kampungan seperti dia itu!’’ kesal Mona dengan mengepalkan tangannya.
__ADS_1
……
Damian kembali ke ruangannya sendiri, dirinya sangat terkesima dengan cara Almira berbicara, benar-benar menunjukkan kualitasnya sebagai seorang yang terpelajar.
Tok tok tok tok.
Terdengar ada suara ketukan dari luar ruangan pribadinya, Damian meminta masuk dan terlihat seorang dosen muda yang melangkah mendekat dengan membawa satu berkas dan satu amplot berwarna putih.
‘’Selamat siang, Pak.’’ Ujarnya dengan ramah.
Damian memberikan anggukan kecil tanpa ekspresi karena memng seperti inilah jika Damian berinteraksi dengan orang lain, akan selalu menampilkan sisi killernya.
‘’Ada apa?’’ tanya Damian to the poin.
‘’Oh, ini Pak. Saya mau mengantarkan berkas tentang mahasiswa recomendasi dari kampus kita untuk mengikuti ajang perlombaan dan ini surat dari tempat yang menyelenggarakan perlombaannya.’’ Ucap dosen muda yang tersenyum ramah, berusaha untuk mencuri perhatian dari Damian.
‘’Kenapa masih berdiri disitu?’’ tanya Damian dengan datar, ia yang sedang membaca berkas pun merasa sangat terganggu dengan tatapan dari dosen muda ini.
‘’Hmm, Pak dosen tampan sekali!’’ ujarnya yang keceplosan.
……
Damian mengerutkan kening dan kembali berkata, ‘’Jika tidak ada yang ingin di sampaikan, maka Anda boleh keluar sekarang. Bukankah Anda ada kelas siang ini?’’ tanya Damian yang kembali focus kepada berkas yang ia pegang, pujian seperti ini memang sudah biasa di terima oleh Damian, jadi ia tidak akan syok ketika ada seseorang yang mengatakan jika ia tampan.
‘’Ohh, baik pak. Saya permisi dulu,’’ ujar dosen muda yang keluar dari ruangan Damian dengan memukul-mukul kepalanya sendiri. Sementara Damian menatap kepergian sang dosen muda, ia merebahkan tubuhnya ke belakang dan kembali teringat dengan Almira, yang sangat menantang untuk di taklukkan.
‘’Hmm, saya tahu, saya ini tampan dan berkharismatik, menjadi idola di kampus ini dari mahasiswi sampai dosen. Namun …. Kenapa Almira sangat sulit untuk di taklukkan? Dia satu-satunya yang berhasil membuat saya sangat penasaran tentangnya, apapun itu!’’
__ADS_1
~Bersambung.