
Episode 24/ Lupakan ucapan saya barusan.
Mereka bertiga akhirnya memilih untuk kembali pulang, di tengah perjalanan, Putri melihat ada yang menjual balon di pinggir jalan, dirinya merengek meminta untuk di belikan balon, padahal suasananya sekarang sedang hujan lebat.
‘’Pak, bisakah kita berhenti dulu. Kasihan Putri jika ia terus merengek meminta di belikan balon,’’ Almira pun ikut andil untuk membujuk Damian agar mau turun dan membelikan Putri sebuah balon.
Damian menoleh kepada Almira, ‘’Tidak bisa Almira, kamu tidak dilihat di luar sana sedang hujan lebat, besok saja, sekarang kita langsung pulang!’’ ucap Damian dengan mengeraskan nada suaranya yang membuat Almira ketakutan. Akhirnya Almira memilih untuk diam saja karena sudah takut dengan wajah killer sang dosen.
Masalahnya Putri terus merengek karena ingin sekali di belikan balon, Damian memijit keningnya sendiri dengan berkata, ‘’Huff, okay! Papa belikan, tapi Putri tunggu di dalam sini, biar Papa saja yang belikan, gimana?’’ bujuk Damian, namun masalahnya Putri ingin ikut keluar, dan itu yang sedari tadi tidak di berikan izin oleh Damian.
Melihat wajah killer sang dosen yang sangat menakutkan sekali, membuat Almira ikut membantu membujukk Putri dengan berkata, ‘’Hmm, katanya mau jadi anak yang baik, masa iya nggak dengerin saran dari Papa? Putri kan anak baik, kita duduk diam di dalam mobil saja yah. Apalagi di luar sana hujan kan sangat lebat, emang Putri mau sakit? Kalo kakak sih enggak, apalagi besok itu kita kan mau naik perahu. Kalo sakit kan nggak bisa naik perahu besok,’’ bujuk Almira.
Putri kelihatan sedang berpikir, Damian pun ikut membujuk Putri agar mau tinggal di dalam mobil saja dan membiarkan ia yang keluar untuk membeli balon yang di inginkan oleh putri.
‘’Hmm, okay deh. Aku disini sama Mama, Putri mau balon yang berwarna kuning, boleh kan Pa?’’ ucap Putri yang sudah mau di bujuk.
Damian tersenyum, ia mengelus kepala Putri dan memberikan anggukan, sementara Almira yang melihat senyuman manis sang dosen killer, detak jantungnya semakin tidak karuan, mana di kala ia melihat tangan berotot sang dosen yang sungguh menggoda, dan bisa menghancurkan iman Almira.
‘Ya allah, lindungilah hamba dari godaaan pria tampan ini, bisa-bisanya pikiran ku malah traveling hanya dengan melihat tangan berotot ini,’ batin Almira menoleh ke luar jendela.
…..
‘’Pa, sepertinya Mama sakit!’’ ucap Putri yang membuat Almira dan Damian saling pandang satu sama lain. Damian memberikan isyarat seakan ia sedang bertanya, [kamu sakit?] dan dengan cepat Almira memberikan gelengan kepala, mereka berdua menoleh kepada Putri.
‘’Pa, kita ke rumah sakit saja yuk. Putri nggak mau Mama sakit,’’ ucap Putri, ia malah melupakan ingin membeli balon yang sedari tadi membuatnya merengek.
‘’Coba tanya dulu ke Mamanya, apa iya Mama sakit,’’ ujar Damian, Almira hanya bisa tersipu malu di saat Damian berkata seperti itu.
‘’Ma, Mama sakit kan?’’ tanya Putri dengan meletakkan tangannya di kening Almira.
__ADS_1
Almira tersenyum dan berkata, ‘’Tidak, kenapa Putri berkata seperti itu? Putri lihat sendiri kan jika kakak ini alhamdulillah sehat wal afiat, nggak sakit.’’
Putri memberikan gelengan kepala dan meraih tangan sang Papa, ia malah meletakkan telapak tangan Damian di kening Almira.
Almira melotot kaget, sementara Damian juga ikut kaget, ia segera melepaskan telapak tangannya yang berada di kening Almira.
‘’Betul kan, Pa? kalo Mama sakit, pokoknya kita harus bawa Mama ke rumah sakit. Putri nggak mau Mama sakit, nanti nggak ada yang menemani Putri makan lagi!’’ rengek Putri.
Sementara di saat Putri sedang merengek, Almira dan Damian malah di landa salah tingkah, mau marah ke Putri yah gimana caranya, dia itu masih kecil dan belum mengerti apapun, sangat sulit menjelaskan kepada Putri yang sudah menganggap Almira seperti mama kandungnya sendiri.
…..
‘’Putri sayang, Mama itu nggak sakit. Mama hanya capek, makanya kita cepat pulang yah, dan Putri jangan banyak mau sama Mama, bukan begitu Ma?’’ ucap Damian yang menoleh kepada Almira.
Almira hanya memberikan anggukan, dan akhirnya Putri pun mau kembali cepat ke rumah, namun sebelum itu, ia kembali teringat dengan balon. Damian keluar dari dalam mobil untuk membelikan Putri balon walaupun ia harus rela basah kuyup, jas baru yang ia beli pun harus menjadi korban demi membahagiakan anaknya.
Putri tersenyum bahagia dan memberikan anggukan, Damian tersenyum di saat melihat anaknya tumbuh dengan keceriaan, sekalipun sosok ibu kandung tidak bisa ikut andil membesarkan Putri dengan baik, setidaknya kehadiran Almira sangat membantu bagi Damian.
……
Satu jam perjalanan, mobil Damian sudah terparkir di garasi. Putri dengan cepat ia keluar terlebih dahulu meninggalkan Almira dan Damian.
Almira yang merasa begitu canggung, dirinya ingin segera keluar dari mobil dosennya, namun Damian malah mencegah dengan berkata, ‘’Almira, tunggu dulu!’’
Almira menoleh kepada Damian, cukup lama mereka hanya saling pandang dalam keheningan satu sama lain. Almira yang tidak bisa lebih lama berada di dekat Damian, ia pun kemudian berkata, ‘’Ada yang ingin Bapak sampaikan kepada saya? Jika tidak, saya keluar dulu,’’
Damian tersadar dan berkata, ‘’Almira, maaf untuk sikap Putri kepada kamu yah. Bahkan Putri malah menganggap kamu sebagai mama kandungnya, saya benar-benar minta maaf untuk itu,’’
Almira tersenyum, ‘’Bapak tenang saja, saya tidak keberatan jika Putri memanggil saya dengan sebutan Mama, wajar saja jika Putri berkata seperti itu, karena …..’’ ucapan Almira terhenti, Ia memandang lurus ke depan.
__ADS_1
‘’Karena apa Almira?’’ tanya Damian yang heran.
Almira kembali menatap wajah tampan sang dosen, ‘’Karena Putri melihat semua temannya di jemput lengkap oleh orang tuanya, dan ada kala itu saya melihat jika Putri di ejek oleh teman kelasnya karena selalu saya yang menjemput bukan Mamanya. Waktu itu Putri bahkan nggak mau ke sekolah karena sedih di saat temannya berkata seperti itu,’’
Damian sangat merasa bersalah terhadap hal yang harus di alami oleh Putrinya, akibat ke egoisan Damian yang tidak mau membuka hati lagi, malah Putrinya yang harus menerima ledekan dari teman-teman di sekolah karena tidak pernah di jemput oleh dirinya sendiri yang sibuk sekali mengurusi bisnis.
‘’Hmm, dan satu lagi Pak.’’ Kata Almira yang ragu untuk berkata.
Damian menoleh, ‘’Iya, mau ngomong apa Almira. Saya tidak akan marah kepada kamu, justru saya sangat berterima kasih kepada Tuhan karena sudah mempertemukan saya dengan kamu, dan sudah menghadiri kebahagian di hati putri saya, terima kasih untuk itu.’’
Almira tersenyum dan kembali melanjutkan ucapannya, ‘’Hmm, maaf sebelumnya Pak. Waktu saya menjemput Putri ke sekolah atas perintah Bapak, saya melihat jika Putri kembali di ledek oleh teman-temannya, karena masalah orang tua Putri tidak ada yang menjemputnya. Jadi … waktu itu saya yang bilang kalo saya ini Mamanya Putri,’’
Damian menatap lekat kepada Almira, dengan tatapan yang sangat sulit sekali untuk di artikan bagi Almira. Ia yang tidak ingin ada kesalah pahaman dan membuat Damian malah berpikir jika ia hanya mengambil kesempatan di dalam kesempitan.
‘’Tapi … demi allah, Pak. Saya tidak bermaksud apapun, bahkan saya juga tidak kepikiran jika Putri akan benar-benar menganggap saya sebagai mamanya, saya minta maaf untuk itu.’’ Ucap Almira dengan tangan yang bergemetaran.
Damian meraih tangan Almira, hal itu membuat Almira terkejut. Ia menatap heran kepada Damian yang sedang memberikan senyum manis kepadanya.
‘’Kamu tidak perlu meminta maaf, Almira. Justru saya yang berterima kasih karena kamu sudah mau hadir di kehidupan saya dan Putri, saya sangat berterima kasih kepada Tuhan karena sudah mempertemukan kita. Hmm ….’’ Damian menghentikan ucapannya.
….
‘’Almira, maukah kamu benar-benar menjadi Mama untuk Putri?’’ tanya Damian.
Almira melotot kaget, ia tidak percaya dengan ucapan Damian. Melihat reaksi yang di berikan oleh Almira, Damian sudah tahu jawabannya.
‘’Maaf jika saya terlalu memaksa kamu untuk masuk terlalu jauh, dan lupakan ucapan saya barusan!’’ ujar Damian yang melepaskan gengaman tangan dan melangkah keluar dari dalam mobil, Almira hanya bisa menatap tubuh sang dosen yang melangkah masuk ke dalam rumah.
~Bersambung.
__ADS_1