
Episode 34/ Pulang kampung.
Setelah 2 bulan lamanya Almira pulang ke kampungnya, 2 bulan yang lalu ia mendapatkan kabar dari orang rumah jika ibunya jatuh sakit.
2 bulan yang lalu ….
Almira yang sedang menyiapkan makanan malam untuk Damian, di kejutkan dengan panggilan telepon.
‘’Ibu,’’ gumam Almira dengan raut wajah gembira.
Sudah 1 bulan lamanya, ia dan ibunya tidak saling menghubungi, kampung Almira yang sama sekali tidak terdapat sinyal internet, jangankan untuk sinyal internet, jaringan telepon biasa saja sangatlah sulit, sekalipun Almira berusaha untuk menghubungi ibunya di kampung, semua panggilan tidak bisa di lakukan.
‘’Assalamualaikum Ibu,’’ ujar Almira dengan mata berbinar-binar.
[Almira, ini paman nak.]
Suara pria itu membuat Almira sangat kebingungan, kenapa pamannya yang malah menggunakan ponsel sang ibu, hati Almira menjadi sangat cemas sekali.
‘’Paman, dimana ibu?’’
[Almira, yang sabar yah nak, ibu kamu masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh.]
Degg,
Seketika ponsel Almira langsung jatuh, tangan Almira menjadi begitu lemah, ia tertunduk lesu dengan air mata yang tak terbendung lagi, ibunya Almira memang memiliki penyakit jantung dan itu yang di takutkan oleh Almira, jika penyakitnya kambuh, bisa saja hal buruk yang akan terjadi,
Air mata Almira keluar semakin deras, ia ingin segera pulang, namun takt ahu harus bagaimana, uang gajian bulan ini sudah ia gunakan sepenuhnya untuk membayar uang kuliah, semua perkuliahannya, di mulai dari ukt semester, buku yang harus dibeli, biaya hidupnya.
‘’Aku tidak punya uang ya Allah, aku ingin pulang … aku ingin bertemu dengan ibu … hiks,’’
Almira hanya bisa menangis ketika jauh dari ibunya, dan tiba-tiba mendengar kabar jika sang ibu masuk rumah sakit.
……
Sementara itu, Damian yang turun untuk mengambil jus, ia kaget dan bingung melihat Almira tertunduk lemah di meja makan, dilihatnya ponsel Almira juga tergeletak begitu saja di lantai, bukan ponsel mahal, hanya ponsel seken yang bisa dibeli oleh Almira, setidaknya cukup untuk membantu semua data kuliah Almira.
__ADS_1
‘’Kenapa Almira menangis?’’ pikir Damian, ia melangkah mendekat dan mengambil ponsel yang layar depannya sudah rusak.
‘’Almira,’’ panggil Damian.
Almira yang mendengar suara majikan, menoleh dengan mata sembab. Damian yang cemas lantas duduk di sebelahnya dengan berkata, ‘’Almira, kamu kenapa?’’
Almira malah semakin menangis dengan kencang dan isakan gadis ini begitu pelu untuk di dengar.
‘’Ibu, Pak ….’’ Lirih Almira yang menatap sendu kepada Damian.
‘’Ada apa Almira? Ada apa dengan ibu kamu?’’ tanya Damian yang mulai menjadi cemas, sekalipun hubungan Damian dengan ibu Almira hanya sebatas pembantu dan majikan, namun Damian sudah mengangap ibunya Almira bagian penting dari keluarganya, karena sudah bekerja sangat lama dan yang paling setia.
Almira semakin menangis, dan berkata, ‘’Penyakit jantung ibu kambuh lagi ….’’
Damian kaget dengan ucapan Almira, duda tampan ini membawa Almira ke dalam pelukannya dan berusaha untuk menenangkan Almira yang jelas hatinya sangat terpukul.
‘’Yang sabar Almira, berdoalah demi Kesehatan ibu kamu,’’ ucap Damian seraya mengelus punggung Almira.
Almira tersedu-sedu cukup lama dalam pelukan Damian, dan Damian membiarkan anak dari pembantunya sekaligus mahasiswinya untuk melepaskan semua kesedihan yang sedang ia rasakan.
‘’Aku ingin pulang Pak, apakah di izinkan?’ tanya Almira yang menoleh kepada Damian ketika ia mulai tenang dan tangis Almira yang mulai mereda.
….
Melihat diamnya sang majikan membuat Almira kembali bertanya, ‘’Bagaimana, Pak? Apakah Almira boleh pulang?’’
Melihat tatapan sendu yang di berikan oleh Almira, membuat Damian tidak tega, ia tidak boleh egois untuk situasi sekarang, jika dulunya selama 1 bulan ketika Almira juga ingin pulang kampung, Damian akan ada saja alasan yang mengaggalkan keinginan Almira. Entah itu dengan memberikan alasan tugas kuliah yang akan menumpuk, putri yang akan rewel jika di tinggalkan oleh Almira, siapa yang akan memasakkannya sarapan setiap pagi, akan ada saja cara yang dilakukan oleh Damian yang pada hakikatnya tidak bisa jauh dari Almira.
Damian memberikan anggukan, mendengar anggukan dari majikannya, Almira sangat bahagia, bahkan saking bahagianya Almira sempat ingin bersimpuh kepada Damian, namun di cegah olehnya.
‘’Almira, kamu tidak perlu sampai melakukan hal seperti ini,’’ ujar Damian yang menuntun Almira bangkit berdiri.
Almira menyeka air matanya dan dengan tersenyum ia berkata, ‘’Terima kasih, Pak. Terima kasih karena sudah memberikan izin kepada Almira untuk pulang,’’
Damian dengan berat hati memberikan anggukan.
__ADS_1
…..
Almira sedang mengemasi barang seadanya, ia membuka dompet kecil dan duduk di tepi ranjang. Almira mengeluarkan uang yang ia punya, dan mulai menghitung berapa jumlah yang ia miliki sekarang.
‘’Huhh, uang ku hanya tersisa 200 ribu, apakah ini akan cukup untuk membeli tiket bus?’’ pikir Almira yang menatap sendu uang pecahan serratus ribu sejumlah 2 lembar.
Almira melangkah ke sebuah lemari kecil, disana ia mengambil sebuah kotak kecil, isinya adalah kalung emas pemberian ibu kala Almira ulang tahun yang ke 17 tahun.
Almira menatap lekat pemberian ibu dengan mata sendu, ‘’Maafkan Almira bu, jika Almira harus menjual kalung pemberian ibu saat ini, padahal … Almira tahu jika ibu membelikan kalung ini dengan susah payah kala itu. Tapi … Almira tidak ada pilihan lain, Bu. Uang Almira hanya ada 200 ribu, itu pun tidak tahu apakah akan cukup untuk membeli tiket pulang Almira, belum lagi biaya berobat ibu.’’
Damian yang mendengar keluh kesah Almira, ia lantas mengetuk pintu kamar Almira.
Tok tok tok.
Damian muncul dari balik pintu dan berkata, ‘’APakah saya di izinkan untuk masuk?’’ tanya Damian yang meminta izin.
Almira pun memberikan anggukan, setelah mendapatkan izin dari Almira, barulah Damian melangkah ke dalam kamar Almira.
‘’Kapan kamu pulang Almira?’’ tanya Damian yang menatap kepada satu koper kecil yang terletak di atas ranjang Almira.
‘’Insya allah besok pagi Pak,’’ sahut Almira.
Damian manggut-manggut, ia mengeluarkan dompet dari saku celananya, dan mengeluarkan uang pecahan serratus ribu dan memberikannya kepada Almira.
‘’Eh ini maksudnya apa, Pak? Kan tanggal gajian saya masih lama lagi?’’ bingung Almira ketika Damian menyodorkan begitu banyak uang pecahan serratus ribu kepadanya.
Damian tersenyum dan berkata, ‘’Ini bukan uang gaji kamu Almira, terima lah dan gunakan uang ini untuk keperluan kamu selama berada di kampung. Dan jika uangnya masih kurang, kamu bisa menghubungi saya, maka saya akan mengirimkan uang untuk kamu,’’
…..
‘’Tidak perlu, Pak.’’ Sahut Almira yang terpotong karena Damian sudah menyela ucapannya.
‘’Jangan menolak rezeki, Almira. Sekarang ambil uang ini dan gunakan untuk keperluan kamu, jika masih kurang untuk membantu biaya berobat ibu kamu, maka jangan sungkan-sungkan untuk mengabari saya, biar saya bisa mengirimkan uang dan membantu biaya pengobatan ibu kamu. Tapi, saya hanya berpesan akan satu hal Almira ….’’
Damian menatap lekat kepada Almira dengan tatapan yang begitu sulit untuk di artikan, ‘’Kembalilah ke rumah ini, pintu rumah saya akan selalu terbuka untuk kamu.’’
__ADS_1
Almira tersenyum dan memberikan anggukan, dan mungkin senyuman kali ini akan menjadi senyuman yang senantiasa di rindukan oleh Damian selama Almira tidak berada di rumahnya.
~Bersambung.