Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen

Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen
Episode 7/ Apa Sudah Waktunya Aku Menikah Lagi?


__ADS_3

Episode 7/ Apa Sudah Waktunya Aku Menikah Lagi?


Almira masih memperhatikan kepergian mobil Damian, ia benar-benar kesal sekali dengan dosen sekaligus tuannya kala di rumah. ‘’Cihh! Seenaknya saja dia malah ngomong begitu! dia pikir paketnya apa!’’ kesal Almira yang melompot-lompot dengan penuh kekesalan.


Ia memejamkan matanya di balkon dan menengadahkan wajahnya ke langit dan berteriak kencang sekali


‘’DASAR DOSEN KILLER!’’


bahkan sampai satpam rumah yang berjaga sangat kaget, Ia yang sedang menikmati kopi pun justru terganggu, bahkan sampai menyembur keluar dari mulutnya.


Byurrr.


‘’Astaga, siapa yang berteriak keras di siang-siang bolong begini? Apa mungkin itu hantu atau sinar bolong? Hihh, merinding juga bulu kudukku,’’


…..


‘’Mama!’’


Almira yang mendengarkan teriakan dari putri, ia menghela nafas dan melangkah ke dalam. Dan disana terlihat jika putri sudah terbangun dan segera berlari ke arahnya, ia langsung memeluk tubuh Almira.


‘’Mama!’’


Almira tersentak kaget sekali, mau bagaimanapun ia ini hanya seorang gadis yang baru berusia 21 tahun, dan ada anak dosennya yang merupakan seorang duda killer memanggilnya dengan sebutan mama, bagaimana jika orang lain malah curiga? Atau tidak malah mempermasalahkan anak dosennya ini memanggil dengan sebutan Mama kepadanya,’


‘’Putri mau mandi sekarang?’’ tanya Almira yang berusaha terbiasa dengan panggilan barunya.


‘Mama? Aku dipanggil dengan sebutan mama sementara usiaku saja masih sangat muda, mimpi apa aku sampai disebut dengan panggilan itu, kenapa tidak dengan sebutan Amak saja? Huff,’


‘’Belum, Ma. Aku mau mandinya sama Mama, boleh?’’ tanya Putri dengan memberikan wajah penuh harapnya, siapa coba yang bisa mengelak dari pesona pipi bakpau yang sungguh menggemaskan ini.


Almira memberikan anggukan, ia lantas menggendong tubuh Putri dan ikut menari bersama, dan hal itu rupanya mampu membuat Putri tertawa bahagia, terlihat dari gelak tawanya.


‘’Ma, udah Ma!’’ pekik bahagia putri kala Almira terus mengajaknya bermain dengan menari-nari.


….


Di tempat lain, Damian sedang duduk dengan temannya.


‘’Gimana menurut lo?’’ tanya Damian dengan menyeduh kopi dingin.

__ADS_1


Pria yang seumuran dengan Damian ini bernama Leon, ia seorang pengusaha sukses yang kehidupannya lebih banyak di habiskan di Amerika ketimbang Indonesia, dan kebetulan sekali ia sedang berlibur, Damian datang berkunjung untuk meminta saran dari Leon.


‘’Gimana apanya?’’ tanya balik Leon.


‘’Yah, gimana sih lo! Lo itu kan sudah menikah, dan pernikahan lo itu juga sangat langeng sekali. Sementara gue udah hampir 4 tahun menduda,’’ ujar Damian yang menatap langit lepas.


Leon hanya terkekeh, ‘’Damian, lo itu kan bukan anak kecil lagi, jadi kenapa lo malah minta saran dari gue segala. Emangnya lo udah membuka hati lagi?’’


Damian terdiam dengan pertanyaan yang diberikan oleh Leon.


‘’Bukannya lo sendiri yang bilang dulu, kalo lo nggak bakal menikah setelah perceraian pertama dengan Rahayu, dan kenapa sekarang lo malah bertanya tentang pernikahan ke gue? Apa lo sedang jatuh cinta?’’ tanya Leon dengan wajah seriusnya.


Damian menghela nafas kasarnya dan berkata, ‘’Hmm, mungkin dulu gue terlalu egois ke diri gue sendiri dan tidak memikirkan anak gue.’’ Ucap Damian.


Leon hanya diam saja,


‘’Dan sekarang dia malah memanggil Mama ke seorang gadis yang masih berusia 21 tahun,’’


Leon jelas kaget dengan ucapan Damian, ‘’Maksud lo? Wahh, bau-baunya ada yang bakal menikah lagi nih,’’ goda Damian dengan nada meledek.


….


Setelah Almira mulai letih, ia lantas menurunkan tubuh putri, dengan nafas ngos-ngosan, Almira berkata, ‘’Huff, capek juga yah. Tapi … kamu senang nggak put?’’ tanya Almira.


Ia malah memijit pelipisnya yang mendadak terasa sangat pusing sekali, sudah ia yang dipanggil dengan sebutan mama dan sekarang ia mencari keberadaan papa yang sudah pasti dimaksud oleh putri ini damian, iya damian dosen killer di kampusnya.


‘’Hmm, Papanya putri kan lagi kerja, sekarang kita mandi dulu yah. Putri udah busuk nihh, ihh, coba lihat air liurnya udah kering aja,’’ bujuk Almira dengan bercanda kepada putri.


‘’Iya kah, Ma?’’ tanya Putri dengan memberikan wajah polosnya, dan Almira pun memberikan anggukan.


‘’Hmm, Putri mandi sekarang deh, tapi sama Mama, kan?’’ tanya Putri yang kembali mendapatkan anggukan dari Almira.


Putri bersorak riang, ia melompat-lompat di tempat dan berkata lagi,’’Kalo dulu biasanya Putri jarang banget mandi sama Papa, tapi sekarang ada Mama, Putri senang sekali,’’


Almira terenyuh hatinya kala mendengarkan ucapan Putri, dirinya jongkok di hadapan Putri, seraya membelai pipi Putri yang bak bakpau itu.


‘’Hmm, Putri tahu kan kalo Papa sibuk cari uang dan itupun untuk Putri jajan, jadi … jangan marah lagi ke Papa yah,’’


‘’Tapi … Putri hanya tidak suka kalo Papa jarang banget main sama Putri, Ma.’’ Ucap Putri yang memberikan wajah mengambeknya.

__ADS_1


‘’Nanti kalo Papa udah pulang, Putri boleh ajak main yah, kalo sekarang papanya lagi kerja.’’ Bujuk Almira, dengan keseriusan Almira untuk membujuk Putri, akhirnya berhasil juga.


‘’Hmm, kan sekarang ada Mama. Oh yah, besok pagi aku maunya mandi sama Papa dan Mama boleh?’’ tanya Putri dengan penuh harap.


‘’hah!’’ kaget Almira.


‘’Kenapa, Ma?’’ tanya Putri dengan polos.


‘Haduhh, gimana jelesin ke anak seumuran gini coba?’ pikir Almira.


.....


"Hmm, Mama nggak mau yah mandi bareng sama Putri dan Papa?" tanya Putri yang memberikan wajah sedihnya.


"eh, bukan gitu. maksudnya tuh ....,"


'Gimana jelasinnya coba? kan mana bisa aku turutin satu kemauan Putri yang ini,' batin Almira yang bingung sendiri.


"Putri boleh minta yang lain loh, tapi jangan yang ...."


"Enggak, Putri hanya mau mandi bareng sama Mama dan Papa. teman-teman Putri gitu kok sama Mama dan Papanya, kenapa Putri nggak boleh?" tanya Putri yang mulai meneteskan air matanya.


melihat Putri yang mulai meneteskan air mata, Almira langsung kaget, " Eh jangan nangis dong cantik, buka gitu maksudnya. tapi ...." ucap Almira yang kembali terpotong.


"Tapi apa, Ma? apakah karena Putri bandel? atau ... Mama sama Papa berantem?" tanya Putri dengan asal.


'Astagfirullah, dapet dari mana kosakata begitu oleh anak seumuran Putri,'


.....


"Bukan gitu, Sayang. tapi kan Papa Putri itu sibuk banget, dan Kakak juga nggak bisa terus menerus disini. kan putri tahu kalo kakak juga sekolah, nanti kalo guru Kakak marah, gimana? emang putri mau kakak di kasih hukum sama pak guru?" bujuk Almira.


"Emang gurunya siapa, Ma? kenapa pak guru itu malah berani hukum Mamanya Putri? biar Putri tonjok wajah Pak guru itu!" sahut Putri.


Almira tersenyum dan berkata lagi, "Emang Putri berani sama Pak gurunya? nggak takut?"


Putri pun memberikan gelengan dengan mantap.


"Kalo gurunya Papa Damian, gimana? apa Putri berani nonjok wajah Papa sendiri?" kelakar Almira.

__ADS_1


hikkk, "kalo Pak gurunya Papa, Putri nggak berani Ma." ucap Putri dengan memberikan ekspresi wajah takut namun menggemaskan bagi Almira.


Bersambung.


__ADS_2