
Episode 6/ Yang Killer Menawan
‘’Bapak kenapa memberikan izin kepada putri untuk memanggil saya dengan sebutan Mama?’’ ucap Almira kala mereka sedang berada di balkon kamar putri.
Damian menatap kepada Ana dengan tatapan dingin, namun tidak berkata sedikitpun. Ia malah memilih melangkah, Almira pun mengejar langkah Damian dan menahannya seraya membentangkan tangannya di hadapan Damian.
‘’Hmm, ada masalah dengan itu?’’ tanya Damian yang malah semakin membuat Almira kesal.
Dengan kemarahan yang membludak-bludak, ia berkata. ‘’Menurut bapak, gimana? Masa iya masih ditanya sih! Gimana kalo putri keterusan selamanya, memanggil saya dengan sebutan Mama! Kan saya juga yang repot, Pak!’’
Damian hanya membiarkan Almira untuk menyampaikan unek-unek yang ada di dalam hatinya, pria yang satu ini memang pantas disebut dengan duda killer, semua keputusan pasti akan diambil seorang diri.
‘’Bapak benar-benar egois sekali! Apa bapak tidak berpikir jika itu akan sangat mengacaukan hidup saya yang masih seorang gadis!’’ kesal Almira, ingin sekali ia menampar pipi Damian namun ia masih sadar jika mereka tidak boleh bersentuhan, alhasil Almira hanya bisa memukul tembok bercat putih.
Bukkk.
‘’Ihh,’’ rintih Almira yang merasa kesakitan, bahkan tangannya sampai memerah karena pukulannya benar-benar keras sekali.
Damian ingin sekali tertawa namun ia berusaha menahannya dengan hanya menatap tajam kepada Almira, bisa di bayangkan betapa sulitnya untuk tetap keren bagi seorang dosen killer, seperti damian.
‘Benar-benar gadis yang menyebalkan tapi sangat menggemaskan,’
…..
Almira menyadari kebodohan yang sudah ia perbuat, lagian kenapa juga ia harus memukul tembok rumah Damian? Bagaimana jika sampai ada yang lecet, kan dia juga yang bermasalah hidupnya nanti.
Dirinya menatap kepada Damian yang memilih untuk memalingkan wajahnya dari Almira,
‘’Maaf, Pak.’’
‘Kenapa harus dia yang minta maaf?’ heran Damian, dirinya tidak memberikan respon apapun selain memilih untuk melangkah.
Namun baru 5 langkah, ia membalikkan tubuh dan menatap Almira dengan sangat lekat, tatapan yang sungguh menakutkan sekali untuk Almira. Almira hanya bisa melangkah mundur, ketika Damian semakin maju.
Hingga …. Tubuh Almira mentok di pinggir balkon kamar putri, ia menatap ke bawah, dan bergumam dalam hatinya, ‘Hikk, jika aku jatuh dari tempat yang tinggi ini, bisa-bisa pindah alam aku. Nggak pakai garansi lagi,’
__ADS_1
……
‘’Kamu katanya akan menghadapi masalah kala putri memanggil kamu dengan sebutan Mama, bukan begitu?’’ tanya Damian dengan sok keren kepada Almira, tangan kekarnya tidak memperbolehkan Almira untuk bergerak sedikitpun.
‘Dia keren sih dan juga tampan, yah hanya itu nyebelin sekali. Pantas saja menjadi duda, siapa juga yang bakal betah untuk hidup bersamanya,’ batin Almira yang jujur ia sangat tertarik dengan pahatan wajah tampan dosen killernya.
…..
‘’Kenapa hanya diam? Jawab!’’ ujar Damian dengan sedikit membentak Almira.
Almira yang kaget memberikan anggukan, ‘Akh, seandainya suhu dinginnya ini di kurangi sedikit, pasti aku tidak mempermasalahkan putri untuk memanggil ku dengan sebutan Mama,’
‘Astagfirullah, Almira. Sadar, sadar diri kamu. Lagian dosen killer in ikan jauh lebih tua dari kamu, pasti usianya sudah lebih dari 30 tahun, sementara kamu masih berusia 20 tahun,’
Damian mendekatkan wajahnya kepada wajah Almira, hanya meninggalkan berapa jejak saja, Almira semakin menjauhkan wajahnya ke belakang,
‘’Awhg!’’ kala tubuh Almira terlalu condong ke belakang, nasib baik Damian menahan pinggangnya.
Mata Almira melotot kaget kala ia merasakan ada tangan kekar yang memegang pinggangnya.
‘’Apa maksudnya? Apa dosen killer itu meminta aku untuk menjadi istrinya?’’ gumam Almira yang memperhatikan tubuh Damian yang semakin menjauh.
‘’Ihh, amit, amit deh!’’
…..
kala baru saja keluar dari kamar Putri, ternyata si mbok sedang membersihkan ruangan atas.
"astaga, Mbok! kagetin aja," ucap Damian yang hampir serangan jantung karena kaget dengan kehadiran pembantunya ini.
"maaf, Tuan. saya benar-benar tidak berniat untuk mengagetkan Tuan, sekali lagi saya minta maaf," ujar si mbok dengan rasa bersalah.
"Iya, Mbok. oh yah, saya mau keluar sebentar, tolong jagain putri selama saya pergi, dan jika putri bangun tolong bilangin ke dia kalo saya sedang keluar," titah Damian.
"baik, Tuan. tapi sebentar lagi saya mau ke pasar, Tuan. barang-barang di dapur hanya tinggal sedikit, jadi saya mau belanja. bagaimana jika saya minta tolong saja ke Almira untuk menjaga Putri?" tawar si mbok.
__ADS_1
Damian hanya memberikan anggukan, toh Almira memang sangat dekat dengan putrinya.
padahal sejujurnya Damian ini tidak pernah membiarkan orang asing untuk menyentuh putrinya apalagi sampai mendekat saja, ia akan memastikan orang asing yang ingin mendekati putrinya benar-benar higienis agar putri tidak terkena penyakit.
namun berbeda dengan Almira, pertemuan pertama mereka malah sudah menunjukkan kecocokan. alhasil ia tidak pikir panjang setelah mengetahui ternyata mahasiswi nya selama di kampus ini anak dari pembantu di rumahnya.
"baiklah, Mbok. jika begitu saya pergi dulu,"
baik, Tuan." sahut si mbok dengan membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai rasa hormat kepada Damian.
.....
"Damian, Damian kenapa juga kamu malah meminta gadis kecil itu untuk menjadi mama sungguhan bagi putri, dia itu masih sangat muda untuk menjadi seorang ibu, terlebih dia itu kan mahasiswi kamu di kampus, dan anak dari pembantu di rumah kamu, mustahil sekali." gumam Damian yang merasa bodoh dengan ucapan yang ia sampaikan kepada Almira.
namun dirinya teringat dengan Rahayu, mantan istrinya yang pergi meninggalkan ia dan anaknya hanya karena lebih memilih pria yang jauh lebih kaya darinya.
"Seandainya ia bisa bertahan untuk beberapa hari saja, pasti dia yang akan menjadi nyonya besar di rumah ini. namun takdir berkata lain, dan sementara telah menunjukkan siapa wanita yang aku nikahi selama 2 tahun itu." gumam Damian dengan mengepalkan tangannya, ia sangat sakit hati kala di selingkuhi dengan alasan harta dan tahta.
.....
Damian menuruni tangga rumah dengan langkah cepat, dirinya hendak pergi menemui seseorang untuk membicarakan hal penting.
[Bro, gue ke tempat lo sekarang.]
Pesan singkat Damian kepada seseorang di aplikasi hijau.
‘’Mau kemana, Tuan?’’ tanya supirnya.
‘’Ke perumahan elit di komplek selatan,’’ sahut singkat Damian, ia langsung masuk ke dalam mobil di bagian belakang.
Dirinya menatap ke balkon kamar putri, dan disana terlihat Almira sedang menatap ke arah mobilnya. Ia hanya tersenyum kecil dengan bergumam, ‘’Yah kali aku bakal menikah lagi, apalagi dengan gadis kecil seperti dia,’’
Sang supir yang tidak sengaja mendengar gumaman dari tuannya, lantas berkata dengan antusias, ‘’Serius, Tuan? Serius Tuan mau menikah lagi?’’
Damian langsung mengelak, ‘’Jalan sekarang atau mau saya pecat!’’
__ADS_1
~bersambung.