
Episode 33/ Will you marry me
Keesokan paginya.
Damian seakan menjaga jarak dengan Almira, entah sebab apa, dirinya lebih banyak diam dan seakan menghindar berinteraksi dengan Almira.
Di meja makan …..
Ibu Almira sedang pulang kampung, ada hal yang harus ia selesaikan, jadi untuk seminggu ini Almira yang akan menggantikan posisi ibunya. Seperti biasa, Almira sedang memasak pada pukul 4 pagi, dirinya harus bangun awal untuk menyiapkan makanan untuk Damian selaku majikan kala di rumah.
Dengan mata mengantuk, Almira memotong sayur-sayuran, di tambah lagi ia juga sering sekali menguap. ‘’please deh mata! Ayo tetap sadar, jangan ngantuk begini, kamu harus bekerja untuk membiayai uang kuliah kamu,’’
Damian yang kebetulan terbangun karena putri kecilnya merengek meminta di temani tidur dengan Almira, seberapapun usaha Damian untuk membujuk Putri, ia terus merengek diminta di temani tidur kembali dengan Almira, karena malam kemarin yang menemani Putri tidur memang Almira.
Ketika Putri sudah terlelap dalam mimpinya, Almira minta izin kepada Damian untuk kembali ke kamarnya, ketika Almira hendak melangkah, Damian memanggilnya, ‘’Almira,’’
Almira menoleh, ‘’Iya, Pak. Apa masih ada yang perlu saya lakukan?’’ tanyanya.
Damian terdiam, dirinya kembali teringat dengan ucapan Leo yang terus mendesak Damian untuk mengatakan perasaannya kepada Almira. Namun, ia yang memiliki gengsi setinggi langit, jelas merasa jika harga dirinya akan terinjak kala jatuh cinta secara diam dan sekarang mengatakan rasa cinta itu kepada Almira, gadis yang jauh secara usia dan juga anak pembantu di rumahnya.
‘’Pak Damian?’’ panggil Almira yang heran ketika melihat Damian hanya diam mematung di ujung sana.
Damian masih belum tersadar, hingga Almira kembali menyadarkan dirinya.
‘’Pak!’’
Barulah Damian tersadar, dirinya melangkah mendekat kepada Almira. Tatapan mata yang di berikan oleh Damian membuat Almira memilih untuk menundukkan kepalanya, ‘’Almira, tatap mata saya!’’
Namun Almira masih menundukkan kepalanya dengan *******-***** sendiri jarinya, ia sangat gugup jika di tatap seperti ini oleh Damian, pesona duda yang satu ini memang sangat kuat sekali, bahkan bohong jika Almira tidak tergoda, namun dirinya harus sadar diri siapa dirinya dan siapa Damian.
Dunia mereka sangat jauh berbeda, dan Almira sadar akan hal itu. ‘’Almira, kenapa kamu sedari tadi terus menundukkan kepala? Apakah saya memang sesangar kala mengajar di kampus? Bahkan di rumah pun kamu takut begini kepada saya?’’ tanya Damian.
__ADS_1
Almira segera memberikan gelengan kepala, Damian kembali berkata, ‘’Jika begitu, coba tatap mata saya, Almira!’’ titahnya.
Namun Almira masih enggan untuk menatap kepada Damian, ‘’Maaf Pak, saya harus kembali ke kamar saya, masih banyak tugas.’’ Sambung Almira, dirinya membalikkan tubuh.
Namun Damian menahan tangan Almira, ‘’Tunggu, kenapa tangan kamu dingin sekali, Almira? Apakah kamu sakit?’’ tanyanya yang menjadi panik.
Almira menepis tangan Damian, ‘’Maaf, Pak. Kita bukan muhrim, jadi jangan sembarangan menyentuh saya!’’ tegas Almira, ia sebenarnya kesal dengan sikap dosen sekaligus majikan yang dengan seenaknya menyentuh tangannya, namun Almira tidak bisa menyalahkan sepenuhnya Damian, ia harus bisa memaklumi hal itu karena Damian sendiri seorang ateis.
‘’Maaf untuk itu,’’ ucap Damian dengan merasa bersalah.
‘’Tidak apa, Pak. Jika tidak ada yang harus saya lakukan, saya permisi dulu,’’ ujar Almira.
….
‘’Almira, ada hal yang harus kamu lakukan dan hal itu sangat penting sekali dan saya harap kamu bersedia melakukannya untuk saya dan juga untuk Putri!’’
Almira yang mendengarnya pun lantas membalikkan tubuh, ia menatap kepada Almira, melihat Almira yang berani menatap wajahnya, Damian memberikan senyuman termanis, yang berhasil membuat jantung Almira berdetak dengan kencang sekali.
Melihat Almira yang kembali menundukkan kepalanya, membuat Damian melangkah mendekat, ia lantas berjongkok di hadapan Almira.
‘’Ehh, Bapak ngapain? Ngapain jongkok Pak?’’ tanya Almira dengan panik, ia melangkah mundur karena merasa tidak sopan kala Damian berlutut di hadapannya.
Damian tidak menggubris ucapan Almira, ia malah meraih sesuatu benda dari saku celana, dan menunjukkan kepada Almira sebuah kotak berbentuk love yang membuat detak jantung Almira semakin berdebar kencang.
‘’Pak … maksudnya?’’ tanya Almira di saat Damian membukakan kotak berbentuk love, disana terlihat sebuah cincin.
Damian menatap lekat kepada Almira dan berkata, ‘’Almira, kamu bukan anak kecil lagi, seharusnya kamu paham dengan maksud saya, jadi jangan bertanya banyak hal, yang sebenarnya kamu sudah paham tanpa harus saya jelaskan!’’
Almira terdiam tak berkutip, dirinya memang tahu maksud Damian, namun dirinya hanya tidak menyangka dan merasa jika hal ini hanya sebuah mimpi.
…..
__ADS_1
‘’Almira, saya tahu jika usia kita terpaut cukup jauh, namun … kamu pasti mendengar kata ini jika usia tidak akan menjadi penghambat untuk sebuah cinta dan rumah tangga,’’ kata Damian.
Detak jantung Almira semakin berdetak kencang, dirinya bingung, bimbang harus berbuat apa, tubuhnya menjadi sangat dingin kala mendengar semua ucapan yang di berikan oleh Damian, namun perbedaan status sosial harus menampar sekaligus menyadarkan Almira, jika ia dan Damian tidak mungkin akan bisa Bersatu, tidak ada Cinderella di dunia nyata, yang mana seorang gadis miskin dicintai oleh seorang pangeran.
‘’Pak, tapi ….’’ Sergah Almira.
Namun Damian kembali berkata, ‘’Almira, biarkan saya selesaikan ucapan saya terlebih dahulu, baru giliran kamu yang berbicara,’’
Almira kemudian menundukkan kepalanya, ia semakin gemetaran di saat Damian mulai kembali berucap.
‘’Almira, apakah kamu mau menjadi istri saya dan ibu dari Putri serta anak saya kelak?’’
Lolos juga ucapan pernyataan cinta dari seorang Damian, duda tampan namun sangat gengsian. Almira seakan ingin meledak saja hatinya, ia menoleh kepada Damian.
‘’Bagaimana Almira? Apa jawaban kamu? Will you marry me?’’
…..
‘’Maaf, Pak. Saya tidak bisa,’’ ucap Almira dengan menundukkan kepalanya.
‘’Kenapa? Apa alasan kamu sehingga tidak bisa menerima saya? Apakah karena saya ini sudah terlalu tua untuk kamu, Almira? Karena saya jauh lebih layak kamu panggil dengan sebutan om di bandingkan suami?’’ desak Damian yang mempertanyakan alasan penolakan Almira.
‘’Bukan begitu, pak. Hanya saja ….’’
Almira menatap lekat kepada Damian, ia menghel nafas dan kemudian berkata. ‘’Tidak ada kisah Cinderella di dunia nyata Pak, kita berbeda. Status sosial Bapak dengan saya sudah menyatakan jika hal ini tidak akan terjadi, saya hanya anak dari seorang pembantu yang bekerja di rumah Bapak, dan saya sadar diri akan hal itu,’’
Setelah berucap seperti itu, Almira memilih melangkah keluar dari kamar Damian, ia menyeka air matanya.
"jujur aku juga jatuh cinta dengan Bapak, namun aku sadar diri, jika perbedaan status sosial akan menjadi penghambat terbesar!"
~Bersambung.
__ADS_1