Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen

Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen
Episode 9/ Bapak ngapain?!


__ADS_3

Episode 9/ Bapak ngapain?!


Damian langsung menutup mulutnya, ia benar-benar tidak sadar jika memanggil Almira dengan sebutan mama, dan dirinya yang ikut menoleh kepada Almira yang terlihat sangat depresi sekali, mau bagaimanapun ia juga tidak sengaja toh, apapun itu, yang paling terpenting, dirinya tidak sengaja.


‘’Papa sama Mama kenapa saling pandang begitu?’’ tanya polos Putri.


Almira dan Damian sama-sama mengarah ke arah yang lain, Almira kembali focus kepada masakannya, dan Damian pun kembali focus kepada ponselnya, dan itu sangat membuat Putri semakin bingung saja.


…..


‘’Ma, Mama mau kemana? Kenapa tidak ikut makan?’’ tanya putri yang turun dari meja, dan segera menarik tangan Almira untuk ikut makan bareng bersama dengan dirinya dan Damian yang sedari tadi hanya diam saja sembari meneguk kopi buatan Almira.


‘’Nah, Mama itu duduknya harus di sebelah Papa.’’ Ucap Putri yang dengan polos ia berkata seperti itu, dan Damian lagi dan lagi ia hanya bisa terdiam.


‘’Mah, kok hanya Putri yang di ambilkan nasinya? Kenapa Papa tidak juga?’’ tanya Putri.


Damian bangkit berdiri, ia sendiri yang mengambil nasi tersebut dan duduk kembali, ‘’Nggak perlu, Putri sayang, Papa bisa kok sendiri mengambilnya,’’ sahut Damian dengan tersenyum.


……


Malam harinya pada pukul 7 malam, Putri datang ke kamarnya Almira. 


Almira yang sedang memakai rangkaian skincare, di kagetkan dengan kehadiran Putri.


‘’Astagfirullah,’’ Almira yang mengelus-ngelus dadanya sendiri.


Putri hanya mengerutkan keningnya karena memang tidak mengerti dengan apa yang sudah diucapkan oleh Almira, ia malah menarik-narik lengan Almira untuk ikut dengannya.


‘’Mau kemana, Put?’’ tanya Almira.


Putri masih terus menarik lengan Almira, hingga mereka tiba di depan kamarnya Damian, dan betapa kagetnya Almira kala Putri yang tanpa izin membuka kamar Damian.

__ADS_1


Almira hanya diam mematung karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri badan sispex sang dosen sekaligus majikan di rumahnya. Ia hanya bisa menelan ludah kasar, dan segera menunduk karena malu akan apa yang sudah ia lihat.


‘Astagfirullah, kenapa godaan aku sangat besar sekali, jauhkanlah hamba dari godaan pria tampan ini,’ batin Almira yang sedari tadi berusaha menjauhkan pikiran-pikiran kotor yang sedang bermain-main di otaknya.


…..


Damian yang kebetulan baru siap melakukan beberapa olahraga ringan, segera menutup tubuhnya, yah kali gadis ingusan seperti Almira malah dengan gratisan melihat tubuh kekarnya.


‘’Sedang apa kamu di kamar saya?’’ tanya Damian dengan wajah dingin yang sangat menakutkan sekali bagi Almira.


Almira hanya diam tertunduk, namun tidak dengan Putri, ia malah dengan berani memarahi balik Damian.


‘’Papa kenapa sih! Kenapa Papa malah ngebentak Mama!’’ kesal Putri yang membuat Almira dan Damian melongos kaget, mereka lantas menepuk jidat karena baru menyadari, jika hal yang Putri ketahui hanya mereka berdua adalah Papa dan Mama.


‘’Maaf, Sayang. Maksud Papa bukan begitu, tapi ….’’


Namun Putri sudah menyela kembali ucapan Damian, ‘’Nggak! Papa nggak harus minta maaf ke Putri, tapi minta maafnya itu yah ke Mama. Kan yang Papa bentak itu Mama bukan Putri,’’ 


‘’Ya allah, Put. Kakak mau ke toilet bentar,’’ ujar Almira yang segera keluar dari kamar Damian.


Ia hanya tidak ingin terjadi fitnah antara ia dan pak dosen, Almira berlari terbirit-birit ke luar kamar Damian. Damian ikut keluar kala Putri masih berusaha mengejar Almira turun ke lantai bawah.


‘’Mama! Tunggu Putri!’’ teriak Putri yang sangat menggema di satu ruangan, Damian hanya terkekeh melihat putri yang mengejar Almira seakan warga yang hendak menangkap maling.


‘’Putri, putri, kenapa juga ia mendadak memanggil Almira dengan sebutan Mama coba.’’ Gumam Damian yang melihat tingkah putri memang sangat konyol sekali.


…..


Ia melangkah masuk kembali ke dalam kamar, membiarkan Putri untuk mengejar Almira sampai dapat, Damian merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya, dan menoleh ke samping, seraya berkata, ‘’Hmm, entah sampai kapan tempat seluas ini ada yang bisa mengisinya?’’ gumam Damian yang memilih memejamkan matanya.


Namun ingatan Damian kembali tertuju kepada fotonya dengan Almira dan anaknya Putri, foto satu-satunya yang ia punya di galeri, Damian bukan tipe pria yang sering mengambil gambarnya sendiri, bahkan fotonya itu jauh lebih banyak ditemui dari tangkapan foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi.

__ADS_1


Ia kembali tersenyum dan memejamkan matanya lagi, tangannnya di rentangkan dan bergumam, ‘’Jika aku benar-benar mengajak gadis semuda Almira untuk menikah? Apakah mungkin itu akan terjadi?’’ 


Damian malah terkekeh dengan niatannya yang ingin mengajak seorang gdis yang masih berusia 20 tahun untuk menikah, ‘’Damian, Damian. Kamu ini memang lucu sekali, kamu sudah terlalu tua untuk Almira, bahkan mungkin Almira lebih cocok memanggil kamu dengan sebutan Om, dibandingkan ia memanggil kamu dengan sebutan suami,’’ 


Bersambung.


Episode 9/ 


Keesokan paginya, Almira sudah berada di kampus, ia memang ada kelas dengan Damian, namun bukan hal itu yang di khawatirkan oleh Almira, tapi kalau anak Damian malah memanggil Almira kembali dengan sebutan Mama.


‘’Haduhh, apa sebaiknya aku nggak usah masuk untuk kelas pak damian yah?’’ pikir Almira.


Ia sedari tadi hanya mondar-mandir tidak jells, masih sibuk memikirkan nasibnya jika putri kembali datang berkunjung ke kampus. Namun kala membalikkan tubuhnya, tubuh mungil Almira malah menabrak dada bidang yang sangat keras untuk kepalanya,


‘’Astagfirullah! Kalo jalan tuh pake mata dong!’’ kesal Almira.


Ketika Almira menoleh, betapa kagetnya ia mendapatkan sosok pria yang berusaha ia hindari untuk sehari ini, malah nongol di depannya.


‘’Pak Damian!’’ pekik kaget Almira yang melotot kaget.


‘Kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi sih! Apakah dunia sesempit ini, sampai yang aku temui itu hanya dia, dan dia terus! Tidak di rumah, tidak di kampus, kenapa pak damian, dan pak damian terus?’ pikir Almira yang heran dengan nasibnya sendiri.


Ia menoleh kepada dosen killernya, dan terlihat jika wajah dinginnya masih terlihat jelas yang membuat Almira memilih untuk melangkah menjauh, namun dengan cekatan Damian mencegah langkah Almira.


‘’Bapak ngapain?!’’ kaget Almira kala tubuh kekar Damian menghentikan langkahnya, bahkan dengan tanpa izin dari Almira, Damian mendorong tubuh Almira hingga terbentur ke tembok berwarna kuning di belakangnya.


Almira hanya bisa menghela nafas kasarnya kala tubuh kekar dan tinggi itu semakin mendekat kepada tubuh mungilnya, Almira menutup matanya kala Damian semakin mendekatkan wajahnya.


Damian hanya terkekeh, ia menyingkirkan daun yang terselip di hijab Almira, setelah itu ia berdiri normal dan berkata, ‘’Dasar gadis kecil! Apa kamu mau saya cium, hah?’’ ujarnya yang melangkah sementara Almira hanya bisa menepuk-nepuk jidatnya sendiri.


‘’Almira, Almira. Kenapa kamu bego sekali sih! Pasti tuh dosen killer memikir yang aneh-aneh sekarang,’’

__ADS_1


~ bersambung


__ADS_2