Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen

Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen
Episode 20/ Bodoh Amat!


__ADS_3

Episode 20/ Bodoh Amat!


Setelah membawa ikut Damian untuk kembali menjauh dari Rahayu, Almira berusaha memberontak namun Damian menahannya dengan berkata, ‘’Jangan keluar, jika tidak saya perintahkan!’’ tegas Damian yang sangat menakutkan sekali untuk Almira, sorot mata tajam yang di berikan oleh Damian, benar-benar membuat bulu kuduknya merinding.


‘Gila, tatapan dosen killer ini benar-benar menakutkan sekali!’ batin Almira yang nyalinya malah mencuit.


‘’Good girl!’’ ujar Damian yang memberikan seutas senyuman manis di akhir ucapannya, ia segera menghidupkan mobil dan melaju meninggalkan mobil Rahayu yang berada 5 meter di depannya.


Di sepanjang perjalanan, Almira sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, ia malah mengalihkan perhatiannya ke luar kaca mobil. Damian yang curi-curi pandang, hanya bisa berusaha untuk menahan tawa, wajah ditekuk Almira memang sangat lucu sekali.


Lampu merah.


Almira melirik sekilas kepada Damian, dan bertepatan dengan dosen killer yang ikut menatap kepadanya, dengan cepat Almira melihat ke luar mobil.


‘’Kenapa? Apakah kamu berpikir jika saya ini seorang monster yang menakutkan untuk di tatap?’’ kata Damian dengan menatap Almira dari jarak dekat.


Almira yang tidak pernah bisa menatap wajah tampan Damian untuk lebih dari 1 menit, dirinya segera menunduk, dan Damian heran.


Namun tiba-tiba ….


Tok, tok, tok.


Damian dan Almira saling pandang satu sama lain, Damian turun dari dalam mobil, dirinya menemui seorang pria tua berpakaian lusuh lah yang sedari tadi terus mengetuk kaca mobilnya. Dengan rahang wajah yang mengeras, Damian hendak memaki dan memarahi pria tua ini.


Namun untungnya ada Almira yang ikut turun dan melarang Damian untuk memarahi pria tersebut.


‘’Bukan begini caranya!’’ tegas Almira yang menahan tangan Damian, di saat dirinya ingin memukul pria tua itu.


Damian yang masih di kuasai dengan emosi, masih belum bisa meredamkan amarahnya, dengan wajah yang sungguh menakutkan, bahkan membuat pria lusuh tersebut sangat takut sampai menangis.


Almira melirik ke belakangnya, dan merasa ada yang tidak beres ketika melihat respon yang di berikan oleh pria tua ini. Ia segera melepaskan tangan Damian dan memberikan pusat perhatiannya kepada pria tua lusuh yang sangat ketakutan.


‘’Bapak, jangan takut lagi yah.’’ Bujuk Almira.

__ADS_1


Bukannya berhenti, namun pria tua lusuh tersebut malah semakin menangis sangat kencang. Almira menatap benci kepada Damian yang sudah seperti anak kecil kena hukum oleh ibunya sendiri.


‘’Namanya saja dosen, tapi … kelakuan masih sangat bocah sekali!’’ sindir Almira.


Damian yang merasa tersindir, ia membalas sindiran dari Almira dengan berkata, ‘’Jangan beraninya main sindir aja! Jika berani, sampaikan langsung, mumpung ada orangnya!’’


…..


Di saat Almira dan Damian masih sibuk dengan perkelahian mereka, pria tua lusuh itu malah berdiri setelah dirinya berguling-guling seharian di jalanan aspal dan melangkah ke kendaraan yang di miliki oleh Damian dan memukulnya berkali-kali.


Damian yang melihatnya pun mana bisa tinggal diam saja, di saat ada orang asing memiliki keinginan untuk merusak mobil kesayangannya. Ia berusaha mencegah, namun Almira malah menahan, dan itu sungguh mengesalkan bagi Damian.


‘’Tolong jangan larang saya, Almira! Itu mobil kesayangan saya, jika tidak, saya tidak peduli dengan tindakan yang sedang ia lakukan. Namun mobil itu sangat berharga bagi saya, bukan karena berapa uangnya, namun ini tentang kenangan yang tidak mungkin bisa saya lupakan!’’ ucap Damian.


Akhirnya Almira melepaskan Damian, namun bukan berarti ia akan membiarkan Damian berbuat kekerasan kepada pria tua tersebut.


…..


Damian menghela nafas kasar karena bagian depan mobilnya harus di perbaiki di bengkel khusus untuk mobilnya. Ia menatap kepada pria tua nan lusuh yang malah berlari menjauh dan entah kemana perginya sekarang.


Lagi-lagi Damian hanya bisa menghela nafas beratnya, mau tidak mau, suka tidak suka, dirinya memang harus berusaha ikhlas dan sabar kepada musibah yang tidak tertebak ini.


‘’Sabar, Pak Damian. Orang yang sabar itu dekat dengan Tuhan,’’ ucap Almira yang berusaha menghibur, namun bukannya terhibur, Damian malah semakin cemberut wajahnya.


‘’Kenapa? Apa ada yang salah dari ucapan saya?’’ tanya Almira sampai berkerut keningnya karena bingung.


‘’Kamu menyumpakan saya mati cepat kah?’’


Melihat ekspresi wajah kesal namun menggemaskan di mata Almira, berhasil membuat mood nya kembali membaik.


‘’Dan sekarang kenapa kamu yang malah tertawa? Apakah ada yang lucu dari wajah saya?’’ tanya balik Damian dengan berkerut keningnya.


Almira berusaha untuk berhenti tertawa, walaupun sangat sulit sekali. Dirinya lantas menghela nafas dan baru menjawab pertanyaan dari Damian, ‘’Wajah bapak sangat menggemaskan sekali, padahal saya pikir pria yang brewokan itu coll, namun ternyata tidak. Coba lihat wajah menggemaskan bak anak kecil yang di marahi oleh ibunya,’’

__ADS_1


Damian yang mendengarnya pun menjitak kepala Almira, bukan bermaksud marah namun ia sangat gemas dengan gadis kecil yang satu ini, padahal semua wanita akan menjaga imagenya kala bersamanya, namun Almira malah berbeda. Ia menunjukkan sisi yang sesungguhnya tanpa di tutupi sedikitpun, dan itulah yang di sukai oleh Damian dari Almira, kejujuran dalam bertindak.


…..


‘’Apakah belum puas tertawanya?’’ tanya Damian yang mulai lelah untuk mendengar tawa Almira yang sama sekali tidak menunjukkan ada tanda-tanda untuk berhenti, yang ada tawanya Almira semakin keras saja.


‘’Belum, apakah boleh saya lanjutkan tertawa saya?’’ tawar Almira.


Dengan kesal, Damian memilih untuk kembali masuk ke dalam mobilnya, sepertinya Damian akan pulang terlambat untuk mengurusi mobil kesayangannya ini di bengkel.


‘’Pak, buka dong Pak!’’ teriak Almira yang berkali-kali memukul kaca mobil Damian dari luar.


Damian membuka kaca mobilnya dan berkata, ‘’Hari ini kamu harus jalan ke rumah sendirian!’’


Sudah jelas Almira tidak terima, ia kembali berkata, ‘’Yah, Bapak gimana sih! Kan saya hanya bercanda! Untuk apa juga Bapak kesal kepada saya?’’


‘’Untuk apa kata kamu barusan?’’


‘’Pokoknya hari ini kamu jalan sendirian ke rumah, saya tidak peduli, kamu mau naik apapun!’’


Wajah Almira malah berkerut, ‘’Dasar dosen killer! Anda bukan hanya killer, namun juga sangat menyebalkan dan hanya Anda satu-satunya dosen yang pernah saya tamui selama ini, yang sering membuat mahasiswinya menderita! Benar-benar tidak punya hati nurani sebagai manusia!’’


Damian malah terkekeh dan berkata, ‘’Terima kasih untuk ucapan kasarnya,’’


‘Dasar dosen stress, di hina bukannya marah malah mengucapkan terima kasih!’ batin Almira.


ia pun memilih untuk melangkah menjauh dari mobil Damian dan berdiri di pinggir jalan untuk menunggu motor atau pun taksi.


"Hei, saya hanya bercanda, kenapa kamu malah masukin ke hati sih!" sahut Damian dari dalam mobil.


"bodoh amat!" ucap Almira dengan judes.


~Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2