Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen

Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen
Episode 35/ Saran dari Leo


__ADS_3

Episode 35/ Saran dari Leo


Damian kali ini mengajar di kelasnya, namun semenjak kepergian Almira pulang kampung, membuat ia merasa sangat kesepian bahkan hilang semangat untuk menjalani kehidupannya. Seperti kali ini, ia hanya memberikan tugas lewat wa grup kelas kepada muridnya.


‘’Tumben sekali Pak Damian tidak masuk ke kelas, dan ini adalah pertama kalinya Pak Damian begitu. ada apa yah?’’ tanya mahasiswi yang sudah pampil se semperna mungkin apalagi masalah dandan, tidak akan terlewatkan oleh mereka semuanya, berusaha tampil cantik ketika kelas Damian.


‘’Sudah, sudah! Sekarang semuanya kerjakan tugasnya dan jangan lupa di kirim ke goegle classroom kita,’’ sahut ketua kelas yang datang dan membuat ia malah menjadi brutal lan dari gadis-gadis di kelas.


Lemparan kertas yang di remas pun diterima oleh ketua kelas, ‘’Woii! Gue nih cuman tolong mengingatkan lo semua untuk tidak lupa mengerjakan tugas dari Pak Damian, nih enggak kerjaan nya hanya dandan dandan mulu, di lirik juga kagak!’’ kesal ketua kelas yang duduk di kursi nya.


Kelas pun diam dan semua murid pun mulai mengerjakan tugas yang di berikan oleh Damian.


…..


Sementara di ruangan pribadi Damian, ia sedang duduk di kursi kerjanya, laptop menyala namun sama sekali tidak di sentuh olehnya, ia benar-benar kehilangan semangatnya ketika tidak ada Almira.


‘’Huhh, kerja Damian, kerja! Banyak tugas mahasiswa yang harus di selesaikan pemeriksaannya, masa hanya karena tidak ada Almira, kamu jadi begini sih!’’ kesal Damian kepada dirinya sendiri yang sungguh malas melakukan apapun.


Damian mematikan terlebih laptopnya, ia bangkit berdiri dan melangkah untuk merehatkan pikiran sejenak dengan keluar dari ruangan kerjanya. Ketika sedang melangkah melewati koridor kampus, ada beberapa dosen yang menyapa.


‘’Pak Damian jangan lupa, jika kita ada rapat satu jam lagi.’’


Damian hanya memberikan anggukan, ia kembali melangkah yang membuat dosen yang menyapa nya malah menjadi heran, mereka semua menatap kepergian Damian dengan saling pandang satu sama lain.


‘’Ada apa dengan Pak Damian? Tidak biasanya ia memiliki wajah sedih seperti itu?’’


Dosen lain pun memberikan responnya, ‘’Entahlah,’’


Damian terus melangkah, hingga langkahnya terhenti di sebuah titik dimana awal kesalah pahaman terjadi antara Almira dengannya.


Damian terkekeh ketika mengingat kejadian kala itu, dimana Almira yang salah memanggilnya dengan panggilan om karena Damian yang sedang menggendong putrinya.


…..

__ADS_1


Kilas balik.


Hari pertama Almira menginjakkan kakinya ke kampus ternama di ibu kota, ia sungguh girang bukan main, hanya saja Almira tidak sengaja menabrak seorang pria yang sedang menggendong bayi kecil.


‘’Astagfirullah! Maaf Om, saya tidak sengaja.’’ Ujar Almira dengan membungkukkan tubuhnya sedikit.


Pria tersebut memberikan wajah penuh marah kepada Almira yang menabraknya, ‘’Jika jalan itu pakai mata ngapa! Kamu pikir ini jalan nenek moyang kamu apa!’’ kesalnya dengan rahang yang mengeras.


‘’Maaf om, saya benar-benar tidak sengaja!’’ ujar Almira.


Wajah pria tersebut berkerut dengan penuh kekesalan, tidak habis pikir ada yang memanggilnya dengan sebutan om.


‘’Kamu panggil saya apa barusan?!’’ kesalnya.


Almira dengan polos menjawab, ‘’Om,’’


Melihat kemarahan dari pria yang ia panggil dengan sebutan om, Almira pun dengan cepat berlari masuk ke dalam gedung kampus, sementara pria tersebut menatap penuh emosi kepada gadis yang memanggilnya dengan sebutan Om.


Almira yang sudah sangat kecapekan karena berlari menghindar dari pria yang ia temukan di depan gedung, membuat ia berhenti dan duduk di bawah pohon yang rindang. Almira mengatur nafasnya kembali stabil, ‘’Emangnya letak kesalahannya dimana coba? Kan emang pria itu cocok di panggil dengan sebutan om, kenapa harus marah segala?’’ pikir Almira.


…..


‘’Kamu itu tidak salah memanggilnya dengan sebutan Om, hanya saja salah tempat.’’ Ujar seorang pria yang terlihat seumuran dengan Almira.


‘’Kamu siapa?’’ tanya Almira dengan berkerut kening herannya.


Pria itu tersenyum dan menunjukkan lesung pipit di pipi kirinya, ‘’Perkenalkan saya Arkan, kamu Almira kan?’’ tanya balik pria itu.


Almira memberikan anggukan sekalipun ia juga heran kenapa ada pria yang tidak ia kenal, tahu namanya. Melihat kebingungan yang diberikan oleh Almira, Arkan pun kembali berkata, ‘’Kamu tidak perlu bingung gitu, saya ini tahu nama kamu karena kamu ini penerima beasiswa prestasi kan? Saya yang memegang semua dokumen mahasiswa yang mendapatkan beasiswa prestasi, dan kita satu kelas nantinya.’’ Ucap Arkan, Almira hanya manggut-manggut.


Mereka berdua pun bercengrama cukup akrab, hingga Almira kembali teringat dengan ucapan Arkan, ‘’Hmm, memangnya siapa pria yang ada di depan gedung tadi? Apakah kamu mengenalnya?’’ tanya Almira.


‘’Tentu saya mengenalnya, namanya itu Damian, dia dosen di kampus ini. Makanya dia bakal marah ketika kamu memanggilnya dengan sebutan om,’’ ujar Arkan.

__ADS_1


‘’Astagfirullah! Jadi om yang tadi itu dosen?’’ cemas Almira, bagaimana jika ia kembali bertemu di kelas dengan Damian, dari kelihatannya saja sudah sangar sekali, pasti dia dosen killer.


‘’Hmm, dan kamu harus hati-hati sama tuh dosen, rumornya dia itu satu-satunya dosen paling killer di kampus ini. Intiinya mah jangan buat masalah saja sama tuh dosen, jika kamu tidak ingin mengulang di semester depan.’’ Saran dari Arkan, Almira hanya manggut-manggut paham, sementara ia begitu takut untuk bertemu dengan dosen yang bernama Damian.


….


Kilas balik selesai.


Damian terduduk di tangga kampus, ia malah tersenyum-senyum sendiri ketika mengingat momen pertama betemu dengan Almira.


‘’Jika di pikir-pikir, cuman Almira yang berani memanggil saya dengan sebutan Om, apakah wajah saya setua itu?’’ pikir Damian yang kembali terkekeh.


Hap.


Damian menoleh dan terlihat jika Leo sudah duduk di sebelahnya, ‘’Lo? Sejak kapan lo ada disini?’’ tanya Damian dengan kening yang berkerut.


‘’Hahah, sejak lo sedang bernostalgia mengingat tuh gadis kecil, siapa yah namanya?’’ pikir Leo yang berusaha mengingat nama gadis yang menarik hati Damian.


‘’Almira maksud lo!’’ sahut judes Damian.


‘’Hmm, yah Almira. Kalo suka bilang bro, jangan di pendam sendirian. Lagian lo kan nggak bocah lagi, yah kali hanya mengatakan saja, lo tidak punya keberanian sih, pengecut banget!’’ Leo yang tengah memanas-manasi Damian.


Damian menatap penuh ketidak sukaan kepada Leo, ia pun berkata, ‘’Gue bukan pengecut, tapi dia itu sedang pulang kampung!’’


‘’Pulang kampung? Kenapa? Bukannya belum libur semester yah?’’ tanya Leo.


Wajah Damian pun melesu, ‘’Ibunya Almira jatuh sakit, serangan jantung.’’


Leo kaget dan ia menyarani kepada Damian satu hal, ‘’Kenapa nggak lo susul saja gadis itu ke kampungnya?’’


Damian terlihat sedang memikirkan ucapan Leo, apakah memang sebaiknya ia menyusul Almira ke kampung dan menyatakan perasaanya langsung kepada keluarga besar Almira di kampung.


~Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2