Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen

Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen
Episode 18/ Sehati dan Sepemikiran


__ADS_3

Episode 18/ Sehati dan Sepemikiran


‘’Tidak masuk lagi?’’ tanya Damian dengan wajah datarnya, ia benar-benar jalangkung yang sangat menyebalkan sekali.


‘’Astagfirullah!’’ kaget Almira.


‘’Lagi-lagi kamu mengatakan hal yang sama,’’ sahut Damian yang melangkah begitu saja meninggalkan Almira.


Almira menatap kepergian Damian dengan heran, namun ia juga masuk ke dalam kelas. Bangku yang kosong hanya di bagian depan, lebih tepatnya bagian di depan Damian. Almira mencoba mencari bangku yang kosong, memang tidak ada.


Dengan rasa malas, ia duduk di bangku yang tersisa. Hari ini kelas Almira ada penilaian, memang sudah tertulis di silabus mereka, memang rada lain dosen killer yang satu ini, satu kali pertemuan mereka teori, pertemuan berikutnya mereka akan di uji, entah itu berupa ujian tulis maupun praktek lapangan.


‘’Baiklah, waktu untuk mengerjakan ujian hanya 60 menit. Kerjakan sendirian, jika ada yang ketahuan menyontek atau memberikan contekan, maka ujiannya akan di anggap gagal dan sudah pasti akan langsung saya beri nilai E dan silahkan di ulang kembali di semester berikutnya, paham!’’ ujar Damian ketika berdiri di depan kelas, semua murid hanya terdiam memberikan anggukan pahit dengan aturan ketat di kelas Damian.


‘Astagfirullah, pertanyaan macam apa ini?’ batin Almira yang sampai berkerut keningnya untuk membaca soal.


……


‘’Sudah selesai?’’ tanya Damian ketika Almira bangkit berdiri.


Semua murid di kelas menatap kepada Almira dengan tatapan kagum, karena ini baru berjalan 15 menit, namun Almira sudah selesai.


‘’Sudah, apakah boleh saya kumpulkan lembar jawaban saya?’’ tanya Almira dengan santai.


‘’Silahkan, jika kamu sudah merasa jawaban yang kamu tulis itu benar.’’ Sahut Damian.


Almira melangkah ke meja dosen dan meletakkan lembar jawabannya, setelah itu ia kembali ke bangkunya untuk mengambil tas dan keluar dari kelas Damian.


Namun ketika Almira sudah berada di ambang pintu, Damian menghentikan langkah Almira dengan memanggil namanya. Almira membalikkan tubuhnya, ia menatap dengan wajah santai, tidak ada rasa takut yang di berikan oleh Almira.


‘’Ada apa lagi, Pak? Sesuai dengan kesepakatan kontrak perkuliahan, jika sudah mengerjakan ujian dan lembar jawaban sudah di berikan kepada Anda, maka peserta ujian sudah di perbolehkan untuk meninggalkan ruangan kelas, bukan begitu?’’ ucap Almira dengan tersenyum di akhir kalimatnya.


‘’Memang benar, namun jawaban kamu masih ada yang tidak terisi, apakah kamu tidak teliti dalam mengerjakannya?’’ tanya Damian yang masih duduk di ujung sana.


…..

__ADS_1


‘’Jika saya tidak menjawabnya dan sudah saya serahkan lembar jawaban saya ke Bapak, itu berarti saya memang telah selesai, sekalipun ada pertanyaan yang tidak terisi. Lagian bukan kah sesuai dengan aturan yang Anda buat untuk mengerjakan soal harus mandiri tidak boleh ada kerja sama. Lagian daripada saya buang-buang waktu di dalam kelas, namun saya sendiri sudah bisa pastikan jika saya tidak akan bisa mendapatkan jawabannya, maka lebih baik saya kumpulkan, bukan begitu Pak?’’


‘’Silahkan keluar,’’ sahut Damian.


Ujian kembali di lanjutkan, setelah keluar dari kelas Almira, Damian bergegas mencari keberadaan gadis mungil itu. Dan terlihat jika Almira sedang di sebuah taman, ia melangkah ke sana, dan menyerahkan lembar jawaban Almira, lembar jawaban satu-satunya yang langsung ia periksa.


‘’Kenapa di berikan ke saya, Pak?’’ tanya Almira.


‘’Kamu lihat sendiri, berapa nilai kamu!’’ sahut Damian yang duduk di sebelah Almira.


’50?’ batin Almira.


…..


‘’Kamu niat nggak sih untuk mengikuti kelas saya?’’ tanya Damian.


Almira menoleh dan memberikan anggukan, ia masih memikirkan dengan nilai yang tertulis di lembar jawabannya.


‘’Jika begitu, kenapa kamu seakan tidak peduli dengan kelas saya, bahkan ujian pertama saja kamu sudah serendah ini!’’ ucap Damian yang ikut menoleh kepada Almira.


‘Tahan, tahan Damian. Yah kali hanya karena berhadapan dengan gadis ingusan ini, kamu menjadi iba kepadanya!’ batin Damian yang berusaha bersikap professional sekalipun itu kepada Almira.


‘’Kamu sudah gila atau bagaimana? Kamu yang salah menjawabnya kenapa sekarang malah menyuruh-nyuruh saya!’’ ujar Damian.


Almira lantas bangkit berdiri, ia melangkah sebanyak 5 langkah dan menghadap kembali kepada Damian yang menatap kepadanya dengan sangat heran.


Almira kelihatan sedang mencari sesuatu di tanah, hingga akhirnya Almira mengambil daun kering dan berkata, ‘’Bapak lihat ini?’’


Damian memberikan anggukan, ‘Entah apalagi yang akan di perlihatkan oleh bocah ingusan yang satu ini,’ batin Damian yang berusaha sebaik mungkin untuk menahan tawanya.


…..


‘’Jika saya robek bagaimana?’’ tanya Almira.


Damian pun bangkit berdiri, ia melangkah mendekat kepada Almira dan meraih lembar jawabannya.

__ADS_1


‘’Kamu lihat ini?’’ tanya balik Damian.


‘’Jika saya robek bagaimana?’’ tanya Damian, ia ikut merobek lembar jawaban Almira, sama dengan hal yang dilakukan oleh murid nya ini.


Setelah itu, Damian melangkah menjauh, namun Almira memanggilnya.


‘’Tunggu, pak dosen yang terhormat!’’


Damian membalikkan tubuhnya dan menatap dengan heran kepada Almira.


‘’Ada apa? Apakah kamu marah dan dendam kepada saya?’’ tanya Damian.


Almira terkekeh, ia mengumpulkan lembar jawaban yang sudah di robek oleh dosen killernya ini, dan memasukkan lembar jawaban yang sudah robek itu ke dalam tasnya, hal itu jelas membuat Damian semakin penasaran, padahal posisi tong sampah itu berada dekat di sebelahnya, namun kenapa Almira malah memasukkannya ke dalam tas bukan ke tong sampah.


…..


‘’Anda tahu kesalahan Anda, Pak?’’ tanya Almira dengan santai.


‘’Tidak, dan tolong jelaskan apa kesalahan saya!’’ sahut Damian dengan menyilangkan tangannya, ia menatap serius kepada Almira.


Almira tersenyum dan mendekat, ia memajukan tubuhnya dengan berjinjit untuk bisa membisikkannya langsung di telinga Damian.


‘’Kesalahan Anda menganggap jika ujian itu penting,’’


Setelah berkata satu kalimat ini, Almira melangkah ke belakang dan menatap kepada Damian dengan serius.


‘’Maksud kamu apa? Jelas dari respon yang kamu perlihatkan kepada saya, kamu ini tidak terima jika saya memberikan nilai yang hanya 50 dan merobek lembar jawaban kamu, sama dengan hal yang kamu lakukan,’’ sahut Damian.


Almira terkekeh dan berkata, ‘’ Saya bukannya tidak suka, hanya saja saya sedang memberikan jawaban sesungguhnya terhadap 5 soal untuk ujian ini,’’


‘’Maksud kamu apa? Itu hanya pertanyaan biasa, jangan pernah memberikan alibi konyol untuk membebaskan kamu dari masalah yang sudah di depan mata dan terjadi di saat ini juga.’’ Ujar Damian.


‘’Saya tidak bercanda Pak, saya serius. Itu kan jawaban yang Anda inginkan? Bukan jawaban yang menghabiskan berlembar-lembar double folio dan menghabiskan waktu hingga 60 menit lamanya di dalam kelas, jangan berbohong lagi, saya sudah mengerti dengan pola pertanyaan Anda ini,’’


Damian tersenyum setelah mendengar penjabaran Almira, ternyata ada juga muridnya yang paham akan maksud pertanyaan yang ia berikan.

__ADS_1


‘Bukan hanya cantik, namun Almira juga sangat cerdas, gadis kecil yang menarik,’ batin Damian yang tersenyum melihat kepergian Almira.


bersambung.


__ADS_2