Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen

Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen
Episode 41/ keseriusan Damian


__ADS_3

Episode 41/ keseriusan Damian


Melihat wajah Damian yang babak belur, membuat Almira yang kebetulan sedang kembali dari kantin rumah sakit, melangkah mendekat karena cemas kenapa bisa wajah tampan itu babak belur.


‘’Bro, ada Almira.’’ Bisik Leo yang tidak sengaja melihat kedatangan gadis pujaan Damian.


Damian menajamkan matanya dan tersenyum kepada Almira, ‘’Bapak kenapa bisa babak belur begini?’’ tanya Almira yang duduk di sebelah Kevino.


Leo pun beralasan ingin ke kamar mandi hanya dengan tujuan untuk bisa membuat Damian lebih akrab dengan Almira. Damian menoleh kepada Almira, ‘’Apakah kamu mencemaskan saya, Almira?’’ tanya Damian.


Almira langsung mengalihkan pembicaraan mereka, ‘’Mari saya bantu obati luka, Bapak.’’


Damian memberikan anggukan kecil, dan focus kepada Almira yang sedang mengobati luka di wajahnya.


‘’Awhg, pelan-pelan Almira!’’ rintih Damian ketika ia merasa kesakitan.


‘’Maaf, Pak.’’ Ucap Almira, ia kembali mengobati luka Damian dengan lebih focus.


Damian focus menatap wajah cantik yang sedang mengobati lukanya, ‘’Almira, bagaimana pendapat kamu tentang pernikahan beda usia?’’


Almira kaget dengan pertanyaan yang di berikan oleh Damian, ia menatap heran kepada dosennya ini, ‘’Kenapa Bapak mendadak bertanya seperti ini?’’


‘’Jawab saja, karena yang saya ketahui bahwa Nabi Muhammad, sosok figure penting di islam, dia menikah dengan seorang janda, yang mana usia mereka terpaut cukup jauh, namun … bisa hidup bahagia. Jika keadaaan itu saya tanyakan kepada kamu, bagaimana jika kamu menikahi seorang duda? Yang usianya terpaut cukup jauh juga?’’


Damian sempat membaca biografi orang penting di agamanya Almira, dan ia tertarik kepada kisah cinta antara nabi Muhammad saw dengan siti Khadijah, istri pertamanya. Menurutnya kondisi yang ia alami sekarang, hampir sama persis dengan keadaan tersebut.


‘’Hmm, tidak ada yang tahu jodoh itu seperti apa, Pak.’’


Hanya itu jawab Almira, ia bangkit berdiri sembari berkata, ‘’Sudah selesai, saya ke kamar ibu dulu.’’


Damian masih terduduk di tempat duduk nya, ia menatap lekat kepergian Almira dengan tersenyum.


‘’Jika kamu mengatakan tidak ada yang tahu jodoh itu seperti apa, maka saya akan buat saya yang menjadi jodoh kamu, Ana.’’ Gumam Damian, ia mengeluarkan beberapa buku yang baru ia beli, untuk memperdalam agama yang di anut oleh Almira.


…..


Sementara itu, Leo yang melihat tidak ada keberadaan Almira, ia kembali melangkah mendekat kepada Damian yang sangat focus dalam membaca, ‘’Dimana dia?’’ tanya Leo yang duduk di sebelah Damian.


Tanpa menoleh, Damian berkata, ‘’Dia sudah pergi kembali ke ruangan ibunya,’’


Leo manggut-manggut saja, ia pun mengambil satu buku yang kebetulan sedang menganggur untuk dibaca, ‘’Hmm, sepertinya lo memang serius kepada gadis itu, Damian.’’ Ucap Leo yang melirik kepada Damian.


‘’Jelas,’’ sahut Damian.

__ADS_1


Namun Leo kembali teringat dengan kejadian di toko buku pagi ini, ‘’Ngomong-ngomong, pria yang tadi itu siapa?’’


Damian menutup buku yang sedang ia baca, dan berdecak kesal.


‘’Dia itu saingan gue dalam dunia bisnis, dan waktu itu gue mengajak Almira sebagai pasangan ke acara tersebut. Dan gue sama sekali tidak menyangka jika dia bakal tertarik kepada Almira!’’ kesal Damian dengan mengepalkan tangannya.


‘’Wajar sih jika dia tertarik kepada gadis itu, secara dia kan memang manis, gue pun jujur tertarik juga dengannya,’’ sambung Leo dengan santai, ia tetap membalikkan halaman buku dengan tenang. Sementara itu, Damian yang mendengar ucapan Leo menatapnya dengan tajam.


‘’Apa? Apa ada yang salah dengan ucapan gue?’’ heran Leo, kenapa Damian menatapnya seperti itu.


‘’Lo jangan macam-macam menjadi saingan gue, Leo! Lo juga single dan kemungkinan lo untuk mendapatkan Almira juga ada, awas saja jika lo menikung gue dari belakang! Gue akan pastikan semua saham di perusahaan lo itu gue cabut!’’ ancam Damian, namun Leo sama sekali tidak memberikan tanggapan apapun, ia malah focus membaca.


‘’Hmm, jika tidak bisa di tikung dari belakang, ternyata bisa di tikung lewat sepertiga malam.’’ Gumam Leo, namun Damian gagal faham kepada temannya sendiri. Padahal Leo hanya sedang membaca buku yang baru ia beli.


‘’Wait, wait! Lo kenapa sih?’’ heran Leo ketika melihat tatapan lekat dan tajam dari Damian.


‘’Lo mau jadi musuh gue, Leo!’’ kesal Damian.


Leo yang tidak mengert pun membalas ucapan dari Damian, ‘’Menjadi musuh gimana? Gue hanya sedang membaca ini, di tikung di sepertiga malam.’’


Damian dengan wajah kesal mengarahkan pandangan matanya ke arah halaman yang sedang di baca oleh temannya dan memang benar ada kata di tikung.


‘’Makanya, bro. kalo marah tuh harus bertempat dong, jangan semua orang lo curigai,’’


Damian pun meminta maaf kepada Leo, ‘’Sorry, habisnya gue berpikir lo bakal menikam gue dari belakang untuk mendapatkan gadis yang ingin sekali gue nikahi,’’


….


Damian dan Leo harus kembali kepada aktivitas mereka, ia berdua pamit kepada Almira.


‘’Almira, jika begitu kami pamit pulang dulu. Nanti jika ada kebutuhan lain yang memang di butuhkan oleh Ibu kamu, jangan sungkan untuk berkata kepada saya.’’ Ucap Damian.


Almira pun teringat dengan ucapan Damian, jika syarat yang sudah ia berikan adalah menerima pemberian yang sudah ia lakukan adalah dengan menerima lamarannya, dan Almira sangat dilema dengan itu, namun di lain sisi Almira juga merasa sangat berhutang budi kepada Damian yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk biaya pengobatan Ibu.


Melihat Damian dan Leo yang melangkah pergi, ia kembali mengejar mereka berdua.


‘’Pak, tunggu!’’ panggil Almira.


Damian dan Leo membalikkan tubuh mereka, ‘’Ada apa?’’ tanya Damian dengan kening berkerut.


‘’Hmm, apakah kita bisa berbicara sebentar, Pak?’’ tanya Almira dengan ragu-ragu.


Damian pun menoleh kepada Leo yang seakan memberikan isyarat agar Leo pergi saja dulu, Leo yang paham pun langsung melangkah meninggalkan Damian dan Almira.

__ADS_1


‘’Boleh, mari kita bicara di taman, sepertinya kamu memiliki pembicaraan yang sangat penting.’’ Ucap Damian yang melangkah terlebih dahulu, kemudian di susul oleh Almira.


Mereka berdua sudah berada di taman rumah sakit, Almira duduk berhadapan dengan Damian. Ia menghela nafas karena takut jika ucapannya malah membuat Damian tidak terima.


‘’Kenapa hanya diam saja, Almira? Hal apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya? Jika tidak ada, maka saya harus kembali ke kampus,’’ ucap Damian yang menatap lekat kepada gadis pujaan yang sedari tadi *******-***** tangannya seakan ragu menyampaikan hal penting tersebut.


Almira menoleh kepada Damian, ‘’Hmm, tapi … jika saya mengatakannya, apakah Bapak akan marah?’’


Damian malah terkekeh dengan ucapan Almira, ‘’Bagaimana mungkin saya bisa marah, sementara kamu saja belum mengatakan apapun,’’


‘’Sekarang, bicaralah. Saya tidak akan marah jika ucapan kamu bisa di terima secara logika,’’


……


Almira menghela nafas dalam-dalam, ‘’Jadi begini, Pak. Tentang kesepakatan kita,’’


Damian hanya diam, tidak ada ekspresi wajah marah di berikan oleh Damian.


‘’Yah, terus. Dimana letak masalahnya?’’ tanya Damian.


‘’Hmm, Bapak kan meminta saya untuk menjadi istri Bapak karena Bapak sudah membantu saya untuk mengurus semua biaya rumah sakit ibu, jadi ….’’ Ucapan Almira terhenti, ia malah ragu untuk melanjutkan ucapannya karena takut sekali jika ucapannya nanti akan menyinggung Damian.


Damian yang seakan paham dengan kelanjutan ucapan Almira, ia pun berkata, ‘’Jadi … kamu mempermasalahkan masalah keyakinan kita yang berbeda, begitu Almira?’’


Almira memberikan anggukan kecil.


‘’Tenang saja Almira, saya sudah memikirkan masalah itu. Dan saya akan menikahi kamu setelah saya memeluk agama kamu, baru kemudian saya akan menikahi kamu.’’ Ucap Damian.


‘’Tapi … Pak,’’ sergah Almira.


Almira menarik nafasnya dalam-dalam dan memberanikan diri untuk menatap Damian.


‘’Saya tidak mau Bapak berpindah keyakinan hanya karena ingin menikahi saya, jika itu terjadi … maka maaf, saya tidak bisa menikah dengan Bapak. Bagi saya agama dan perasaan tidak bisa di samakan, maaf jika saya lancang dalam berkata, Pak. Namun … saya ingin Bapak berpindah keyakinan memang karena hati Bapak bukan karena ingin menikahi saya!’’


Damian tersenyum mendengar ucapan Almira, ‘’Menarik,’’


Almira mengerutkan keningnya, ‘’Menarik?’’


‘’Hmm, menarik. Dan kamu tenang saja, saya akan berpindah keyakinan, ketika saya nyaman dengan agama kamu, jadi … kamu tidak perlu cemas untuk hal itu.’’ Ucap Damian.


‘’Terima kasih, Pak.’’ Ujar Almira.


‘’Terima kasih kembali,’’ sahut Damian.

__ADS_1


Ia pun melangkah pergi meninggalkan rumah sakit, sementara Almira melepas kepergian Damian dengan tersenyum.


~`Bersambung.


__ADS_2