
Episode 13/ Salah Sendiri
‘’Bapak ngapain ngajak saya ke tempat ini?’’ tanya Almira, sudah lebih dari 1 jam, dirinya hanya diam seperti orang bisu, bahkan Damian juga sama. Bahkan ketika Almira melirik kepadanya, Damian hanya menatap lepas ke depan sana.
Ketika ditanya pun, Damian tidak memberikan jawaban, ia malah tetap diam. Almira yang kesal pun, hanya bisa membungkam mulut, karena bingung sendiri mau bagaimana, kan nggak mungkin dirinya pulang sementara jalannya saja tidak tahu.
‘’Huff,’’ Almira yang menghela nafas kasarnya dengan kelakuan Damian.
Bahkan sudah lebih dari 2 jam, namun Damian masih melakukan hal yang sama, yaitu hanya duduk diam sembari menatap lepas ke arah sana, dan entah apa yang sedang ia lihat, hanya sungai lepas.
Damian akhirnya bangkit berdiri, dirinya lantas melangkah begitu saja meninggalkan Almira.
‘’Pak, tunggu ngapa!’’ kesal Almira yang berlari masuk ke dalam mobil Damian, namun kursi belakang.
….
Damian menatap kepada Almira dengan tatapan dingin dan itu pun sungguh membuat ia merinding, tatapan yang seakan ingin memakan seseorang hidup-hidup detik ini juga.
‘’Heheh, kenapa Bapak menatap saya seperti itu?’’ tanya Almira dengan gugup/
Damian kembali menatap ke depan, dan Almira menghela nafas lega.
‘’Pindah ke depan! SEKARANG!’’
Almira kaget, dan ia menolak permintaan dari dosen killernya ini.
‘’Saya bilang pindah, yah pindah! Jangan keras kepala kamu! Kamu pikir saya ini supir kamu apa!’’ ucap Damian yang menatap dari kaca mobil.
Almira yang takut dengan tatapan itu, langsung turun namun ia tidak pindah ke depan, melainkan memilih untuk melangkah begitu saja, ia mengabaikan klakson dari Damian yang berkali-kali memanggil-manggilnya.
‘Dasar dosen aneh! Dia pikir, dia itu siapa, hah!’ kesal Almira.
‘’Tapi kan kalo dipikir-pikir, dia itu kan emang dosen, gaji banyak, tampan, akhh, sayang sekali! Kenapa dia itu harus killer sih!’’ gumam Almira yang ujung-ujungnya berteriak bak kesurupan.
Damian yang memelankan laju mobilnya hanya terkekeh dari dalam mobil, benar-benar ia tidak mengerti dengan kerandoman Almira yang dinilainya terlalu kekanak-kanak kan.
Almira melirik sekilas dan dengan langkah cepat, Ia melangkah lagi.
‘’Ngapain sih mobil tuh dosen killer jalannya lamban banget! Dia pikir ini jalan nenek moyangnya apa!’’ kesal Almira.
…..
‘’Kamu mau tetap jalan kaki?’’ ledek Damian dari dalam mobil.
__ADS_1
Dirinya benar-benar mood sekali melihat Almira yang berpur-pura kuat padahal sudah sangat lelah sekali.
Almira tidak peduli dengan ledekan Damian, ia terus melangkah sekalipun kakinya memang sudah sangat pegal sekali, bagaimana tidak pegal coba? Sudah lebih dari 30 menit.
‘’Serius kamu tidak mau masuk ke dalam mobil saya?’’ tanya Damian.
Almira memberikan gelengan kepala.
Damian tidak menyerah begitu saja, ia terus mengikuti langkah Almira dari dalam mobil. Hujan mendadak turun, dan sangat deras sekali. Almira masih tidak memperdulikan panggilan Damian.
‘’Masuk!’’ titah Damian, ia segera keluar dari dalam mobil. Namun Almira yang memang cukup keras kepala, ia masih kekeh untuk tidak masuk ke dalam mobil Damian.
Ia memberikan gelengan kepala dan Damian yang sudah sangat kesal dengan tingkah bocah Almira, tanpa meminta izin dari Almira, dirinya langsung menggendong tubuh Almira masuk ke dalam mobilnya.
Almira memberontak namun kekuatan Damian jauh lebih besar darinya, dengan cemberut Almira menatap kepada Damian.
Damian kembali menjalankan mobilnya, ia melirik dengan tajam kepada Almira dan berkata, ‘’Kamu ini kenapa keras kepala sekali sih! Kan sudah saya bilang masuk yah masuk, jangan degil!’’ kesalnya.
Almira masih memonyongkan mulutnya, ‘’Yang seharusnya marah itu saya ke Bapak, bukan Bapak yang marah ke saya!’’
Damian melirik kembali dengan mengerutkan keningnya.
‘’Kenapa harus kamu yang marah dalam masalah ini? Sudah jelas salah jangan mencoba mencari kesalahan orang lain, Almira!’’
…..
‘’Coba katakan, saya salah apa? Kamu mau apa? Rumah? Mobil? Jalan-jalan ke paris?’’ tanya Damian yang merasa rindu dengan celotehan asal dari Almira, padahal belum sampai 1 jam, namun ia sangat rindu dengan mulut bebek gadis mungil ini. Almira yang mendengarnya jelas syok sekali.
‘’Bapak pikir saya ini wanita matrek apa?!’ kesalnya.
‘’Tidak, dan kapan saya mengatakan jika kamu wanita matre?’’ tanya Damian.
Almira berdecak kesal dan berkata, ‘’Tuh tadi Bapak bilang apa barusan? Bilang rumah, mobil! Bapak pikir saya ini cuman ngincar harta seorang pria, hah!’’
‘’Bukan begitu maksud saya, ta …’’
Almira sudah keburu menyela ucapan Damian.
‘’Saya beritahu Bapak yah, jika saya ini bisa mendapatkan apapun yang saya inginkan tanpa perlu mengemis meminta kepada Bapak! Jadi … tolong jaga mulut Anda, Pak Damian yang terhormat!’’
….
Damian malah tertawa lepas setelah mendengar celotehan panjang Almira, jika di pikir-pikir, sudah hampir sepuluh menit ia menjadi pendengar yang baik.
__ADS_1
‘’Sudah puas marahnya?’’ tanya Damian dengan santai.
‘’Belum!’’ jawab Almira dengan nada judes.
‘’Jika begitu lanjutkan, saya siap mendengarkan pidato kamu. Bahkan satu jam pun akan saya dengarkan,’’ sahut Damian yang focus mengendarai mobil.
Almira memilih diam daripada meladeni Damian yang selalu menguji kesabarannya. Damian melirik karena tidak mendengar suara dari gadis mungil ini.
‘’Katanya belum puas marah, kenapa tidak di lanjutkan?’’ tanya Damian.
‘’Ogah! Males!’’ jawab Almira yang memilih untuk memalingkan wajahnya ke luar jendela.
Kondisi masih hujan sangat deras, Damian melirik kepada Almira, dan tersadar jika pakaian Almira sudah membentuk lekuk indah tubuhnya karena basah tadi.
Damian meneguk salavinanya sendiri, ia lelaki normal dan sudah sangat lama dirinya tidak melihat santapan yang sangat nikmat begini.
Dirinya berusaha menghilangkan pikiran kotor yang sudah menjalar di otaknya, ‘’Astaga! Kenapa aku baru sadarnya sekarang?’
Damian membuka jas hitam yang sedang ia pakai dan menghentikan mobilnya.
‘’Kenapa berhenti disini?’’ tanya Almira dengan melirik.
Dan betapa kagetnya ia kala Damian hanya memakai kemeja putih yang bagian atasnya terbuka.
‘’Bapak jangan kurang ajar yah sama saya!’’
Damian berdecak kesal, ia malah memberikan jas hitamnya.
‘’Buang jauh-jauh pikiran kotor kamu itu, Almira! Kamu pikir saya ini pria mesum apa?’’
‘’Lagian kamu sendiri yang salah, pakai baju tapi nggak sadar kalo baju yang kamu pakai itu transparan dan menyuguhkan pemandangan itu ke mata saya. Makanya, jangan salahkan saya!’’
Almira segera menutupi tubuhnya dengan jas hitam Damian.
‘’Jadi … Bapak sudah melihatnya?’’ tanya random Almira.
Damian melirik kepada Almira dengan mengerutkan kening herannya, "Melihat apa?"
Almira berdecak kesal dan kembali bertanya sekalipun ia sangat malu.
"Yah melihat tubuh saya lah," ujarnya yang langsung menutup wajah dengan kedua tangan saking malu.
‘’Hmm,’’ sahut Damian.
__ADS_1
Damian kembali focus mengendarai mobilnya sementara Almira hanya bisa menahan malu dengan memukul-mukul kepalanya sendiri.
Bersambung.