
Episode 29/ Berita bohong
‘’Makasih yah Pa, Ma, sudah mau datang ke sekolah Putri,’’ ucap bahagia Putri di saat mereka bertiga tengah menelusuri Lorong sekolah, setelah pemberian lapor dan pertemuan wali murid usai.
Damian tersenyum bahagia dan menggendong Putri dengan penuh senyuman, Almira yang melihat betapa bahagianya dosen killernya yang sangat jarang tersenyum dan sekarang ia bisa melihat langsung dan dengan jarak yang dekat, senyuman termanis yang di miliki oleh Damian.
‘Jika di pikir-pikir, Pak Damian semakin tampan jika sedang tersenyum, aura ketampanannya semakin keluar saja, yah walaupun sudah om-om, eh bukan! Tapi lebih tepatnya sugar dady,’ batin Almira yang terkekeh sendiri dengan jalan pikirannya yang sangat aneh.
…..
‘’Oh yah, anak Papa ini memang sangat pintar sekali, bisa dapat piala lagi, papa bangga banget sama Putri,’’ ucap Damian kala menggendong Putri.
‘’Hmm, pasti dong Pa. kan yang ngajarin Putri itu Mama,’’ ujar Putri yang melirik kepada Almira, Damian ikut menoleh kepadanya, Almira hanya memberikan respon tersenyum, ia menjadi sangat canggung ketika di perhatikan begitu detail oleh Damian.
‘’Makasih yah Ma,’’ ucap Putri dengan tersenyum.
‘’Sama-sama Putri, semoga Putri bisa menjadi lebih baik dan lebih pintar lagi,’’ ucap Almira yang membelai pipi Putri, Damian yang melirik kepada Almira tersenyum penuh bahagia.
…..
‘’Terima kasih yah, Almira. Selama ini kamu sudah ada untuk Putri dan selalu mengajarkannya banyak hal, terima kasih banyak.’’ Ucap Damian yang sangat bahagia di saat anaknya ikut bahagia.
‘’Sama-sama, Pak. Saya juga senang jika Putri senang,’’ sahut Almira dengan tersenyum lebar.
Namun Putri yang benar-benar sudah menganggap Almira sebagai mamanya, ia malah memarahi dengan gemas Damian, Almira dan Damian hanya bisa saling pandang satu sama lain, mereka seakan memberikan isyarat bagaimana caranya bisa menjelaskan kepada Putri yang masih kecil tentang hubungan mereka yang sebenarnya, hanya Sebatas mahasiswi dan dosen, bukan sebagai pasangan suami istri.
‘’Pa, kenapa Papa tidak berterima kasih kepada Mama sih!’’ kesal Putri dengan sangat gemas, mana Putri memiliki pipi bakpau yang sungguh menggoda, bisa-bisanya malah memarahi balik sang dosen killer.
__ADS_1
Damian mencubit gemas pipi bakpau Putri dengan berkata, ‘’Kan sudah sayang, kan papa sudah berterima kasih barusan, emangnya Putri tidak dengar?’’
Putri memberikan gelengan kepala dengan cepat dan berkata, ‘’Enggak, Putri enggak mendengar jika Papa sudah berterima kasih kepada Mama, yang Putri dengar Papa hanya berterima kasih kepada kak Almira. Kan Putri maunya Papa berterima kasih kepada Mama, bukan kak Almira!’’
Almira langsung menundukkan kepalanya, ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa di kondisi sekarang. Sementara Damian sendiri juga bingung, mana mungkin ia berkata seperti yang di inginkan oleh Putri di tempat ramai seperti ini.
Namun Putri malah terus merengek agar Damian mau berterima kasih kepada Almira namun dengan cara mengucapkan kalimat, ‘’Terima kasih yah Ma,’’
‘’Ayo, Pa. ayo papa juga harus berterima kasih kepada Mama, karena kalo nggak ada Mama yang mau mengajarkan Putri, Putri nggak mungkin bisa dapat piala ini!’’ rengek Putri.
Damian menghela nafasnya, ia menatap kepada Almira yang kebetulan juga ikut menatap kepadanya, ‘’Terima kasih yah, Ma. Terima kasih karena sudah mau mengajarkan Putri hingga bisa menjadi juara kelas,’’
‘’Nah gitu dong, hahaha. Putri sayang banget sama Mama dan Papa, nanti kita tidur bareng kan, Ma, Pa?’’ tanya Putri dengan polos, Almira dan Damian malah saling pandang satu sama lain, mendadak situasi menjadi canggung, karena mereka berdua harus berpikir keras untuk bisa mengelabui Putri sama seperti beberapa kali yang lalu, di saat Putri meminta untuk tidur bersama dengan Almira dan Damian.
Entah alasan seperti apa lagi yang akan Almira dan Damian berikan nanti, namun tanpa di duga, ada seseorang yang menggunakan masker berwarna hitam dan pakaian serba hitam, juga tengah memotret foto mereka bertiga dari ujung sana.
Cekrek.
……
‘’Pa, Papa mau kemana lagI?’’ tanya Putri kala mereka sudah berada di area depan rumah megah yang sangat luas.
‘’Maafkan Papa yah, PPut. Papa harus kembali bekerja sebentar, nggak bakal lama kok,’’ sahut Damian yang mendapatkan panggilan mendadak dari seorang teman dekatnya.
‘’Tapi … Pa, katanya kita akan main perahu lagi, Papa udah janji loh!’’ rengek Putri yang menagih janji kepada Damian.
‘’Maaf yah Put, tapi Papa janji, Papa nggak bakal lama kok. Jam 4 sore nanti Papa sudah ada di rumah, okay. Papa berangkat dulu yah, kamu mainnya sama kak Almira dulu.’’ Bujuk Damian, ia memang ingin sekali menghabiskan waktu bersama dengan Putri, namun masalahnya teman Damian berkata jika sudah terjadi masalah besar dan harus segera di selesaikan.
__ADS_1
Putri masih merengek dan melarang Damian untuk pergi, namun untungnya ada Almira, jadi Putri bisa cukup tenang dan akhirnya mau menunggu sang papa untuk bermain kembali ke taman.
‘’Almira, titip putri yah.’’ Ujar Damian.
‘’Iya, Pak.’’ Sahut Almira dengan memberikan anggukan.
…..
Damian mempercepat laju mobilnya untuk menuju ke lokasi pertemuan, ia sangat penasaran ada apa ini, dan kenapa temannya mendadak menyuruhnya untuk cepat datang.
‘’Ada masalah apa lagi ini? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan perusahaan? Perasaan perusahaan saya baik-baik saja, atau ada masalah lain?’’ pikir Damian di sepanjang perjalanan.
Sepuluh menit telah berlalu, Damian sudah berada di lokasi yang dituju, dirinya turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam kafe dan menaiki tangga untuk menuju ke lantai paling atas, tempat mereka janjian bertemu.
Di atas sana, sudah ada seorang pria yang menggunakan kacamata berwarna hitam tengah memandang lepas ke pada suasana jalanan kota, ketika ia mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat, pria ini membalikkan tubuhnya.
‘’Ada apa?’’ tanya Damian yang langsung pada intinya.
Damian melangkah mendekat, namun bukan jawaban yang diterima oleh Damian, malah sebuah kertas satu lembar dalam kondisi terbalik, Damian mengerutkan keningnya.
Namun betapa kagetnya Damian setelah ia membalikkan selembar kertas yang dirinya terima, disana terlihat poster antara Damian, Almira dan Putri. Bukan itu yang di permasalahkan oleh Damian, namun semua kalimat yang ada di atas kertas itu.
[Pengusaha sukses dan seorang dosen di kampus terkenal berselingkuh dengan mahasiswinya sendiri, lihatlah betapa bahagianya wajah yang terpancar tanpa memperdulikan perasaan sang istri. Mereka malah berbahagia di saat orang lain menderita,]
Damian menoleh kepada temannya dan berkata, ‘’Kenapa bisa begini?! Dan siapa yang menyebarkan berita ini!’’ murka Damian.
"Sabar Damian," ujar temannya yang berusaha menenangkan amarah Damian.
__ADS_1
"Aku tidak bisa tenang jika berita bohong ini tersebar luas di publik!" sahut Damian dengan penuh emosi, urat-urat di wajah tampannya sampai kelihatan, pertanda jika Damian sudah sangat marah.
bersambung