Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen

Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen
Episode 23/ Bekas luka masa lalu


__ADS_3

Episode 23/ Bekas luka masa lalu


‘’Egois terhadap banyak hal memang akan berujung menyakitkan, rasa cinta yang tidak tercapai, akan membuat derita di relung lubuk terdalam. Cobalah untuk jujur dengan perasaan itu, maka kamu akan mendapatkan kebahagiaan, tidak ada hal yang jauh lebih indah di dunia ini, kecuali kejujuran dan cinta,~


Kali ini, Damian kembali memikirkan ucapan temannya kala ia di bengkel, di sepanjang mengendarai mobil, dirinya sering menjadi tidak focus dan hampir beberapa saat, Damian mengalami kecelakaan.


‘’Astaga, Damian! Focus Damian! Focus!’’ ujar Damian yang berusaha untuk berbohong pada relung hati terdalam, jika ia sedang jatuh cinta dan membutuhkan seorang wanita yang tulus untuk melengkapi perjalanan cinta.


Damian akhirnya menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan, dekat sungai tempat ia pernah mengajak Almira untuk ikut. Ia melangkah turun dari dalam mobil dan melangkah ke ayunan yang tersedia disana.


Duduk sendirian di ayunan, di temani oleh angin sepoi-sepoi yang berusaha untuk menentramkan jiwa Damian yang kosong. Damian membuka mata yang sedang terpejam, sebuah senyuman terukir di pahatan wajah tampan sang dosen killer, dirinya menengadahkan kepalanya ke atas, dan menatap awan yang begitu indah.


‘’Apa iya orang yang tepat itu Almira?’’ gumanya, Damian kembali memejamkan mata dan berusaha mengingat semua kejadian yang terjadi antara dirinya dan Almira, dari awal mereka pertama kali bertemu.


…..


Drrt drrttt drttt.


Ponsel Damian berdering, ia melihat nomor baru. Kening Damian berkerut, ia mengabaikan panggilan dari nomor tersebut. Namun ponselnya masih terus berdering, bahkan tidak mau berhenti, sekalipun sudah panggilan yang ke 4.


‘’Nomor siapa sih?’’ pikir Damian, ia memeriksa nomor itu di aplikasi whatsapp, dan betapa terkejutnya Damian, ternyata nomor baru itu adalah nomor mantan istrinya.


‘’Rahayu!’’ geram Damian, bayangan di saat dirinya di selingkuhi kembali terngiang-ngiang di memori kepalanya, dan itu sungguh menyakitkan sekali untuk di ingat.


Damian segera memblokir nomor baru itu, ia memasukkan ponselnya di saku celana dan kembali menikmati udara segar di sore hari.


‘’Hmm, Almira memang hanya gadis kecil, namun sikapnya sungguh dewasa bahkan akan jauh lebih dewasa dari saya di saat bertindak,’’ gumam Damian yang kembali teringat dengan beberapa kejadian antara dirinya dan Almira.


‘’Hahahah, kenapa juga aku mendadak malah memikirkan gadis kecil itu sekarang? Kamu sudah di buat gila karena gadis itu, Damian!’’


….

__ADS_1


Damian berada disana hingga pukul 6 sore, ia benar-benar menikmati masa menyendirinya, menyendiri dari kebisingan kerja dan kebisingan ucapan orang lain. Namun siapa sangka Damian akan kembali di pertemukan dengan Almira.


‘’Bukannya itu Pak Damian?’’ pikir Almira, ia sedang berada disana juga bersama dengan Putrinya dosen killer itu.


Almira menghentikan langkahnya, ia terpesona dengan wajah tampan yang sungguh syahdu untuk ditatap, tanpa sadar senyuman manis terukir di ujung bibir Almira. Hingga malah mengabaikan Putri yang menatap kepadanya dengan heran.


‘’Ma, kenapa Mama berhenti?’’ tanya Putri.


Almira masih belum tersadar akan lamunannya untuk memuji ciptaan tuhan yang satu ini, sungguh sempurna di mata manusia.


‘’Ma!’’ ujar Putri dengan mengeraskan suaranya, barulah Almira tersadar jika ia sedang melamunkan dosennya sendiri, bahkan bukan hanya Almira yang kaget, Damian di ujung sana pun juga tersadar, bahkan ia bangkit berdiri setelah mendengar suara sang putri, ia berusaha mencari dari mana asal suara tersebut.


‘’Tidak mungkin aku salah dengar, itu pasti memang suara putri, tapi dimana dia?’’ gumam Damian yang masih berusaha mencari darimana asal suara tersebut.


‘’Atau mungkin aku salah dengar yah? Lagian ini kan sangat jauh dari rumah, tidak mungkin Putri ada disini, jika pun ada, sama siapa ia akan pergi? Apa mungkin sama Almira?’’ pikir Damian yang kembali duduk karena ia yakin jika suara yang di dengarkannya, mungkin hanya sebatas halusinasi belaka.


…..


‘’Almira,’’ gumam Damian dari ujung sana, ia sangat kaget, di saat dirinya sedang memikirkan gadis kecil yang sudah berhasil memperak-porandakan perasaannya, di saat yang bersamaan Almira berada di dekatnya.


Sorot mata Damian dan Almira saling pandang dalam waktu yang lama, bahkan tanpa sadar Putri sudah berlari untuk menemui papanya saking gembira.


‘’Putri!’’ pekik Damian dan Almira secara serentak di saat putri terjatuh, mereka berdua berlari melangkah mendekat kepada Putri yang sedang menangis.


‘’Sakitt, Ma!’’ rintih Putri dengan tangis yang semakin keras, bukan hanya Almira yang panik, melainkan Damian pun ikut panik juga.


Almira segera menggendong tubuh Putri kecil dan berusaha untuk menenangkannya, ‘’Putri sayang, berhenti menangis yah, giman kalo kita naik itu,’’ tunjuk Almira ke sebuah kapal yang berada di ujung sana.


Putri berhenti menangis, ternyata ide yang di berikan oleh Almira berhasil membuat Putri senang, bahkan dirinya menarik tangan Almira dan Damian untuk bisa naik perahu kecil.


‘’Ma, Pa, ayo naik!’’ pekik bahagia Putri.

__ADS_1


Almira menatap kepada Damian yang sepertinya tidak setuju dengan ucapannya, dan ternyata benar saja, Damian melarang Putri untuk naik ke atas perahu dengan alasan sudah hampir malam dan mereka harus segera pulang.


‘’Putri, Putri jangan nakal yah. Kan Putri anak pintar, sekarang kan Putri lihat sendiri jika langit ini sudah mulai gelap, dan kita harus pulang sekarang,’’ bujuk Damian, namun putrinya malah semakin menangis kencang, yang membuat Almira ikut kebingungan bagaimana cara membujuk Putri pulang dan tidak menangis lagi.


‘Haduhh, Almira, Almira. Kamu bodoh sekali sih, masa iya kamu membuat keadaan semakin buruk saja, sudah pasti Pak dosen bakal marah lagi, jangan sampai kemarahan ini berujung membuat nilai ku di gagalkan oleh dosen killer!’ batin Almira dengan harap-harap cemas.


….


‘’Putri sayang, kita pulang dulu yah sekarang. Besok Kakak janji deh bakal ngajak Putri untuk main kesini lagi, gimana?’’ Almira pun ikut andil untuk membujuk Putri.


‘’Enggak! Putri maunya sekarang, kalo besok pasti Papa akan sibuk dan tidak akan mau menemani Putri untuk main disini,’’ rengek Putri yang menarik-narik tangan Almira dan Damian untuk mau naik ke atas perahu.


Almira menatap kepada Damian, ia mengedipkan satu matanya, seakan mereka berdua sedang berbicara melalui bahasa isyatat.


Damian berlutut dan membelai pipi gembul putrinya yang sudah seperti bakpau saja, ‘’Putri sayang, maafkan Papa yah, jika selama ini Papa nggak pernah bisa menemani Putri untuk bermain. Tapi … besok Papa janji, Papa akan mengajak Putri main kesini lagi. Tapi … sekarang kita pulang dulu yah, besok Papa janji bakal ngajak Putri untuk naik perahu, gimana Sayang?’’ bujuk Damian yang berhasil membuat Putri mulai luluh.


‘’Hmm, besok naik perahunya sama Mama juga kan, Pa?’’ tanya Putri yang menatap kepada Almira dan Damian dengan penuh harap.


Damian menoleh sejenak kepada Almira, kemudian ia berkata, ‘’Hmm, besok kita naik perahunya sama Mama. Benar kan, Ma?’’


Almira kaget, namun ia memberikan anggukan agar Putri mau pulang kembali ke rumah.


‘’Yeahhh,’’


Putri meloncat-loncat kegirangan, dan memeluk Almira serta Damian, pelukan itu sudah seperti pelukan keluarga bahagia. Detak jantung Almira dan Damian sedang tidak karuan, mereka saling pandang satu sama lain, namun tidak ada yang terucap dari bibir mereka, hanya tatapan lekat yang menggambarkan jika Damian dan Almira sudah saling jatuh cinta seiring berjalannya waktu.


‘’Pa, nanti malam Mama tidur sama kita, kan?’’


Almira dan Damian sama-sama kaget oleh ucapan yang dilontarkan oleh Putri, ingin marah bagaimana caranya, sementara Putri itu masih sangat kecil.


~Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2