Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen

Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen
Episode 40/ Saingan baru.


__ADS_3

Episode 40/ Saingan baru.


Setelah Almira pingsan, Damian dan Leo saling tatap, ‘’Gue harus gimana sekarang?’’ gumam Damian yang terlihat begitu frustasi.


‘’Tenang Damian, ini pasti bisa berjalan dengan baik, kenapa kamu tidak mencoba mengenal agamanya saja sekarang?’’ saran dari Leo.


Damian terlihat berpikir keras, ia pun bangkit berdiri dan melangkah keluar. Leo mengejar Damian, mereka berdua pagi-pagi pergi ke tempat penjualan buku terdekat.


‘’Bro, semangat sih boleh. Tapi ingat waktu juga kali, ini terlalu pagi untuk sebuah toko buka, emangnya lo mau beli buku kemana di jam segini coba?’’ tanya Leo yang pagi-pagi sudah di Tarik tangannya oleh Damian untuk menemani dirinya membeli sebuah buku.


‘’Ini sudah terlalu siang, Leo. Lo tidak lihat apa sudah jam 7 pagi!’’ desak Damian yang masih bersikeras mencari toko buku yang buka.


Leo menguap dengan berkata, ‘’Terserah lo saja lah, kalo udah ketemu, nanti lo bangunkan gue.’’ Sambung Leo yang memilih untuk tidur, dirinya sangat mengantuk sekali.


Damian berdecak kesal, namun ia kemudian focus mengendarai mobil, dirinya yang sebenarnya juga sangat mengantuk, namun harus tetap bisa terjaga demi bisa mendapatkan yang ia inginkan.


‘’Apakah tidak ada toko buku yang buka di jam ini?’’ kesal Damian, sudah tiga puluh menit lamanya ia berkendara, namun sama sekali tidak terlihat ada toko buku yang buka.


Ia menghentikan mobilnya ke tepian dan menatap kesal kepada Leo yang asik tertidur di bandingkan membantu dirinya.


‘’Punya teman, tapi tidak ada gunanya!’’ kesal Damian.


…..


Sementara di rumah sakit, Almira sudah tersadar dari pingsan. Dirinya mengerjapkan mata dan melihat di sekeliling, ‘’Huaa, sudah pukul berapa ini?’’ pikir Almira yang merasakan kepalanya begitu sakit.


Ia bangkit duduk dan mencoba mengingat semua kejadian sebelum ia pingsan, ‘’Astagfirullah, apakah Pak Damian serius dengan ucapan yang ia katakan?’’ gumam Almira yang teringat alasan kenapa ia pingsan.


Dirinya memukul-mukul keningnya sendiri, ‘’Almira, Almira. Kenapa kamu sangat bodoh sekali, bagaimana ceritanya kamu menerima persyaratan yang di berikan oleh Pak Damian?’’ pikir Almira yang kesal kepada dirinya sendiri.


Namun ketika ia menoleh kepada ibu yang sedang berbaring, tangan ibu mulai bergerak, dengan sigap Almira melangkah mendekat. Mata ibu perlahan mulai terbuka, Almira sangat terharu ketika ia bisa melihat kembali senyum manis ibunya tercinta.

__ADS_1


‘’Amakk,’’ lirih Almira dengan mengenggam pergelengan tangan ibu dan air mata haru pun menjadi saksi rindu.


Ibu masih belum bisa berbicara dengan leluasa, dan Almira pun segera memanggilkan dokter untuk memberi tahu bagaimana kondisi ibunya.


…..


Sementara itu, di toko buku. Damian tengah mencari-cari buku yang ingin ia beli, Leo dengan masih menguap pun ikut membantu temannya.


Damian melirik kepada Leo dengan berkata, ‘’Lo ini gimana sih, Leo! Bantu cari ngapa!’’ kesal Damian.


‘’Iya, iya. Sorry. Habisnya gue ngantuk berat nih,’’ sahut Leo yang kembali menguap.


Namun ternyata ada seorang pria yang tidak sengaja menabrak Damian yang sedang sibuk mencari buku.


Bukk.


‘’Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja,’’ ucap pria muda itu yang memberikan buku tersebut kepada Damian.


‘’Tunggu sebentar, saya pikir kita pernah bertemu sebelumnya?’’ tanya Damian memastikan penglihatannya.


Pria muda itu mengulurkan tangan dan berkata, ‘’Yah, kita pernah bertemu sebelumnya di acara tahunan khusus untuk pengusaha.’’ 


Damian pun manggut-manggut, ‘’Jadi … apa yang membawa Anda kembali ke Indonesia?’’ tanya Damian.


Pria itu terkekeh dan menjawab, ‘’Hmm, saya kebetulan ada urusan bisnis yang harus di lakukan, dan … saya sedang mencari seorang gadis.’’


Kening Damian berkerut heran, ‘’Mencari seorang gadis? Maksud Anda?’’


‘’Anda masih mengenalnya, Tuan. Karena dia datang bersama dengan Anda kala acara malam itu.’’ Sambung pria muda yang justru membuat Damian mengepalkan tangannya dengan kuat, karena ia tahu siapa gadis yang di maksud.


…..

__ADS_1


Leo yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi, ia memilih diam dan hanya menjadi pendengar yang baik saja ketika melihat Damian berbicara dengan pria asing.


‘’Hmm, kenapa wajah Anda seakan sedang emosi, Tuan? Apakah ada kata-kata saya yang salah atau menyinggung?’’ tanya pria mud aitu.


Damian yang orangnya berbicara langsung ke intinya, ia pun berkata, ‘’Jangan pernah mencari gadis itu! Dia adalah calon istri saya!’’


Ucapan Damian begitu dingin, sorot mata tajam yang di berikan oleh Damian benar-benar menakutkan, namun tidak untuk pria muda tersebut. Kelihatannya ia sangat tertantang, ‘’Calon isri?’’


‘’Yah, dia adalah calon istri saya. Jadi jangan berniat merebut satu hal yang sudah jelas di miliki oleh orang lain, jika tidak mau berurusan terlalu jauh dengan saya!’’ ancam Damian.


Namun kelihatannya, pria muda itu tidak takut dengan ancaman yang telah di berikan oleh Damian, ia melangkah mendekat dan berucap dengan berbisik, ‘’Gadis manis itu baru hanya calon saja, belum tentu juga Anda dan dia akan Bersatu. Dan saya tertarik dengan gadis manis itu di awal pertemuan, saya pikir … dia pasti akan jauh lebih memilih saya di bandingkan Anda, Tuan.’’


Tangan Damian meremas sangat erat, pria muda itu tersenyum tipis dan kembali berbisik, ‘’Lihatlah diri Anda, Tuan. Anda terlalu tua untuk dirinya, dan jelas tidak akan cocok di sandingkan sebagai pasangan suami istri, sementara saya sendiri, masih muda, jelas cocok dengan gadis manis itu.’’


Brakk, bukk.


Damian memukul pria muda itu dengan sangat bringas, ia tidak peduli jika akan mengacaukan toko buku, dirinya sudah terlalu emosi dengan ucapan pria muda tersebut yang dengan jelas mengajaknya untuk bertarung demi bisa menjadi pasangan bagi Almira.


Bukk bukkk bukk.


Mereka berdua saling pukul satu sama lain, Leo berusaha melerai kedua pria yang sedang bertarung di dalam toko buku, namun sialnya Leo malah mendapatkan serangan di bagian wajah.


‘’Awhgg!’’ rintih Leo yang kesakitan, ketika dirinya menyentuh sudut bibir, tertinggal bekas darah di telunjuknya.


Sementara itu, Damian dan pria tersebut semakin bringas, pria muda yang jauh lebih unggul dalam bertarung berhasil membuat Damian tersungkur ke lantai.


Dirinya menyeka sudut bibirnya yang terasa begitu perih akibat terkena pukulan Damian, pria muda itu melangkah mendekat dan berkata, ‘’Sikap Anda yang seperti ini membuat saya semakin penasaran dengan gadis manis itu, se istimewa apa dirinya hingga membuat seorang Mr. Damian mudah terpancing emosinya,’’


Setelah berkata, pria muda itu melangkah pergi meninggalkan Damian yang menatapnya dengan penuh kebencian, dirinya bangkit berdiri dan berkata, ‘’Sial! Kenapa dia juga tertarik kepada Almira?’’ kesal Damian.


‘’Tidak ada yang bisa mendapatkan Almira, selain saya! Apalagi dengan pria yang menyebalkan itu!’’

__ADS_1


~Bersambung.


__ADS_2