Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen

Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen
Episode 39/ Syok berat


__ADS_3

Episode 39/ Syok berat


‘’Ekhem,’’ ucap Leo dengan terkekeh melihat Almira dan Damian yang sedang berpelukan dengan erat, padahal mereka sedang berada di rumah sakit. Almira yang baru tersadar jika sedang memeluk Damian, langsung melepaskan pelukan mereka.


‘’Maaf, Pak.’’ Ucap Almira dengan menundukkan kepalanya sendiri, betapa malunya Almira sekarang, bisa-bisanya dalam situasi dan kondisi seperti ini Almira malah memeluk Damian.


‘Tidak apa dan tidak masalah,’ batin Damian yang berusaha untuk tetap terlihat keren di hadapan Almira.


…..


Ibunya Almira sudah di pindahkan ke ruang inap, Damian dan Leo mereka mencari angin di luar dan membiarkan Almira untuk istirahat. Damian memberikan ruangan yang terbaik di rumah sakit, ia sama sekali tidak memperdulikan biayanya, yang penting ibu Almira bisa kembali sembuh seperti sedia kala.


Mereka berdua terus melangkah menuju ke kantin rumah sakit, dengan memesan kopi hitam. Leo yang tahu jika temannya ini sedang di mabuk asmara karena sebentar lagi akan melepas masa dudanya.


‘’Ekhem, yang sedari tadi senyam senyum tidak jelas, cieee yang bakal menikah nih ye.’’ Goda Leo.


Damian hanya tersenyum kepada Leo, ‘’Menurut lo, apakah sebaiknya gue mengadakan pesta?’’ tanya Damian yang teringat dengan bagaimana konsep pernikahannya dengan Almira nantinya.


Leo menyeduh kopinya sebelum memberi tanggapan akan pertanyaan yang di sampaikan oleh Damian, ‘’Hmm, terserah Almira saja. Jika dia mau mengadakan pesta, maka adakan. Jika tidak, jangan di paksa. Karena tujuan menikah kan bukan sekedar untuk pesta, namun ikatan suci sampai menua,’’


Damian hanya manggut-manggut saja mendengarkan saran dari Leo, ‘’Hmm, baiklah. Jika begitu lo harus bantu gue untuk menemui penghulu yang akan menikahi gue dengan Almira nantinya,’’


‘’Gila lo! Lo yang bakal nikah kok gue yang di bawa ribet sih!’’ kesal Leo, jika Damian pasti akan memperalat dirinya setelah ini.


‘’Hahah, lo kan satu satunya teman terbaik gue, seharusnya tidak masalah kan?’’ sahut Damian tanpa rasa bersalah, Leo hanya bisa mendengkus kesal dengan sikap Damian.


……


Sementara itu, di ruangan inap Ibunya Almira. Gadis itu sedang sholat malam, sembari mengucapkan banyak ucapan syukur kepada Tuhan yang masih memberikan kesempatan kepada ibunya,


‘’Ya allah, terima kasih karena masih memberikan Kesehatan kepada ibu hamba, jika bukan karena Mu, hamba tidak tahu akan mengadu kepada siapa lagi. Dan terima kasih juga karena telah mengirimkan Pak Damian yang dengan baik hati mau membantu membiayai semua biaya pengobatan ibu,’’

__ADS_1


Di luar sana, Damian tersenyum melihat jika calon istrinya begitu religious, ia teringat jika dirinya dan Almira berbeda, terlebih kepercayaan.


‘’Bisa-bisanya saya melupakan hal ini,’’ gumam Damian.


Leo yang baru saja kembali dari kamar mandi, melihat Damian yang hanya berdiri di ujung pintu, menatapnya dengan heran, ia melangkah mendekat dan menepuk Pundak temannya, yang membuat Damian menoleh, ‘’Kenapa tidak masuk?’’ tanya Leo yang heran, ia mengarahkan pandanganya ke dalam sana, dan melihat jika Almira sedang melaksanakan sholat.


Leo pun sama seperti Damian, ia melupakan hal yang begitu penting ini, masalah kepercayaan. Leo menatap kepada Damian, ‘’Sorry, bro. gue lupa untuk hal ini,’’ ucap Leo yang merasa bersalah, ia yang memberikan saran kepada Damian untuk menikah dengan Almira, namun melupakan satu hal penting, yaitu kepercayaan Almira dan Damian berbeda.


Damian pun semakin bimbang dengan langkah berikutnya, ‘’Menurut lo gue harus gimana sekarang?’’ tanya Damian dengan wajah frustasi.


…..


Almira yang telah selesai menyelesaikan ibadah malam nya, ia menatap kepada pintu, terlihat dari kaca jika ada Damian dan Leo yang berdiri di luar, Almira melepaskan mukenah yang Ia kenakan dan membukakan pintu.


‘’Maaf, pak. Saya baru selesai sholat, kenapa tidak langsung masuk saja?’’ ucap Almira yang merasa tidak hormat kepada Damian yang sudah membantunya.


‘’Tidak apa, Almira. Lagian kami tidak ingin menganggu kamu yang sedang beribadah, bagaimana kondisi ibu kamu? Apakah sudah membaik?’’ tanya Damian.


Damian dan Leo hanya manggut-manggut mendengarkan ucapan Almira, mereka berdua ikut masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa panjang. Namun suasana canggung malah terjadi, terlebih dari Damian.


‘’Saya mau ke kamar mandi dulu, Pak.’’ Ucap Almira yang melangkah setelah mendapatkan anggukan kepala dari Damian dan Leo.


Mereka berdua menatap kepergian Almira, dan setelah itu saling pandang satu sama lain.


‘’Huhh, kenapa malah semakin runyam seperti ini?’’ gumam Damian yang menghela nafas kasarnya dan memijit pelipis nya yang terasa begitu sakit.


‘’Sabar, bro. kenapa lo tidak masuk saja ke agamanya? Pindah keyakinan untuk bisa menikahi Almira?’’ saran dari Leo, yang membuat Damian Nampak berpikir keras dengan saran dari temannya.


…..


Almira sudah kembali, dan sekarang dirinya sudah berada di antara Damian dan Leo yang kembali menjadi canggung, hal itu malah membuat Almira heran, ada apakah gerangan ini semua.

__ADS_1


‘’Almira,’’ panggil Damian dengan memberikan tatapan yang begitu dalam.


‘’Iya Pak,’’ sahut Almira dengan wajah heran dan bingung kenapa Damian menatapnya dengan tatapan aneh.


Damian menghela nafas dan baru kemudian melanjutkan ucapannya, ‘’Ini menyangkut kesepakatan kita,’’


Suasana pun berganti menjadi sangat serius, ‘’Bapak tenang saja, saya akan menjaga Putri dengan baik, tapi … saya baru bisa kembali ke kota, setelah memastikan ibu saya keluar dari rumah sakit,’’ ucap Almira yang masih berpikir jika kesepakan antara dirinya dengan Damian sama sekali tidak mengarah kepada pernikahan.


‘’Baiklah, saya menghargainya. Tapi yang ingin saya tanyakan apakah kamu ingin saya berpindah keyakinan?’’ tanya Damian dengan wajah serius.


‘’Berpindah keyakinan? Tapi untuk apa, Pak?’’ heran Almira.


‘’Untuk menikahi kamu,’’ jawab Damian.


Deggg.


Mata Almira melotot kaget dan tidak percaya dengan ucapan dari dosen sekaligus majikannya, ‘’Menikahi saya? Bapak pasti sedang bercanda sekarang,’’


Damian memberikan gelengan kepala, ‘’Tidak, saya tidak sedang bercanda Almira. Sekarang jawab pertanyaan saya, apakah kamu ingin saya berpindah keyakinan dan baru kita menikah?’’


Almira masih syok berat dengan ucapan dari Damian, ‘’Kenapa kita harus menikah, Pak? Masih banyak wanita yang jauh lebih baik di bandingkan saya di luar sana, saya hanya seorang gadis kampung, dan tidak cocok bersama Bapak.’’


….


‘’Saya hanya ingin kamu Almira, dan sesuai dengan kesepakatan kita sebelumnya, saya akan membantu kamu untuk membiayai semua pengobatan ibu kamu, maka kamu akan membantu saya untuk menjaga Putri,’’ ucap Damian yang semakin membuat Almira syok.


‘’Bukannya saya harus menjadi pengasuh Putri?’’ tanya Almira.


Damian memberikan gelengan kepala, ‘’Tidak, bukan sebagai pengasuh, namun … sebagai istri saya dan ibu untuk Putri.’’


Almira langsung pingsan di tempat setelah mendengarkan ucapan Damian.

__ADS_1


~Bersambung.


__ADS_2