
Episode 21/ Hari yang Sial Untuk Damian.
‘’Masuk!’’ ujar Damian dengan wajah yang sangat menakutkan, Almira yang merinding, dengan kesal, ia masuk ke dalam mobil dosen killernya kembali.
Ana menyilangkan tangannya, dengan memberikan wajah cemberut, ia hanya menatap lurus saja ke depan, tidak memperdulikan pandangan Damian yang sedang mengejeknya.
‘’Kalo jadi anak gadis orang itu jangan cemberut-cemberut, nanti cepat tua, emang mau jadi perawan tua?’’ ledek Damian yang sedang focus berkendara.
Almira menatap kepada Damian, ia membalas ledekan Damian dengan berkata, ‘’Kalo jadi om-om itu jangan galak-galak, emang mau jadi duda selamanya!’’
Damian menatap kepada Almira dengan tatapan yang sangat lekat sekali, untung mereka berhenti di lampu merah, ‘’Maksud kamu apa dengan ucapan itu, Almira? Kamu meledek saya dengan sebutan duda?!’’
Raut wajah Damian benar-benar berubah, terlebih rahang tegasnya juga mulai menunjukkan ketidak sukaan atas ucapan yang di berikan oleh Almira. Ia langsung tertunduk, takut jika Damian akan semakin marah lagi.
‘Kamu ini memang gadis kecil yang menggemaskan Almira, akhh, seandainya saja kamu ini bisa jauh lebih cepat terlahir di dunia, pasti saya akan menikahi kamu. Namun sayang sekali, kamu terlalu kecil untuk menjadi pendamping saya,’ batin Damian yang sorot matanya tidak terelakkan untuk tidak menatap kepada Almira.
…..
‘’Lah kenapa berhenti disini, Pak?’’ tanya Almira.
‘’Saya ingin berbelanja sebentar, ibu kamu menitipkan beberapa hal yang perlu dibeli, katanya stok di dapur sudah mulai habis,’’ ucap Damian.
Melihat Almira yang tidak turun juga, membuat Damian heran dan bertanya, ‘’Kenapa tidak turun juga? Apakah kamu merasa ilfell untuk masuk ke pasar tradisional?’’
Almira dengan cepat mennggelengkan kepalanya dan menoleh kepada Damian.
‘’Kenapa? Apa ada yang salah?’’ tanya Damian yang berkerut keningnya.
…..
‘’Kenapa kamu tidak mau turun juga? Apakah kamu tidak pernah masuk pasar tradisional?’’ tebak Damian, Almira malah tertawa dengan ucapan Damian yang ia pikir terlalu tidak masuk akal.
Damian malah semakin berkerut keningnya ketika mendengar suara tawa yang sangat cempreng dari gadis mungil ini.
‘’Bapak itu ngomong apaan sih, yah tentu tidak lah, kan saya ini dari kampung, maka sudah pasti saya terbiasa dengan pasar,’’ sahut Almira yang berusaha untuk tenang.
……
‘’Lantas kenapa kamu tidak mau turun? Jika bukan maksudnya kamu tidak ingin masuk ke pasar tradisional?’’ tanya Damian.
‘’Bukan begitu maksud saya, Bapak sudah terlalu jauh berpikir tentang saya. Saya hanya tidak menyangka jika Bapak akan mau masuk ke dalam pasar tradisional, membeli banyak hal untuk bahan dapur, padahal Bapak ini kan seorang dosen dan juga Tuan saya jika di rumah, tapi malah mau belanja, itu terdengar sangat aneh sekali,’’ ucap Almira dengan memberikan senyum termanis di wajah imutnya, senyuman yang bisa mendamaikan hati Almira.
__ADS_1
‘Apakah ada pemanis di wajah cantik ini?’ pikir Damian yang seakan meleleh dan hilang semua sifat killernya dengan sifat gadis mungil yang berada di sampingnya.
…..
‘’Tidak jadi berbelanja kah?’’ tanya Almira.
‘’Oh, iya-iya. Maaf, mari.’’ Ajak Damian.
Mereka berdua masuk ke dalam pasar tradisional, yah sekalipun sebenarnya ini hanya akal-akalan dari Damian saja, ia hanya ingin berusaha untuk mengenal semua kepribadian Almira.
‘Heheh, ternyata manjur juga dengan cara mendekati ibunya, maka saya akan dengan mudah untuk mengenal sifat anaknya,’ batin Damian.
Namun tiba-tiba, Damian menghentikan langkahnya. Almira menoleh dan terlihat jika Damian malah berlari dengan kekuatan penuh unuk kembali ke mobilnya yang sudah terparkir rapi, Almira yang bingung, lantas mengejar Damian.
‘’Ada apa, Pak? Apakah ada copet?’’ tanya Almira yang ikut panik juga.
‘’Atau mungkin preman? Atau begal?’’ sambung Almira yang sangat cemas.
…..
Damian menghela nafasnya, dan menatap kepada Almira, ‘’Apakah semua pasar tradisional seperti itu?’’
‘’Hehehe, maaf untuk itu. Saya hanya penasaran saja, mumpung ada kamu juga, apa salahnya saya mencoba untuk masuk ke dalam,’’ elak Damian yang sudah jelas tertangkap basah dengan rencananya.
‘’Dasar om-omo modus!’’
….
‘’Jadi bagaimana? Apakah mau masuk atau tidak?’’ tanya Almira yang jadi kasihan setelah melihat jika Damian muntah.
‘’Sebentar, saya perlu bernafas dan berpikir jernih,’’ ucap Damian.
‘’Mau saya belikan masker wajah?’’ tanya Almira.
Damian memberikan anggukan, ia duduk di pinggir jalan, sudah seperti pengemis yang sangat membutuhkan bantuan.
Tidak lama Almira sudah kembali, ia memberikan air mineral kepada Damian.
‘’Kamu jadi membelikan saya masker wajah untuk saya?’’ tanya Damian.
‘’Hmm, ini.’’ Ucap Almira yang menyerahkannya kepada Damian.
__ADS_1
…..
Akhirnya Damian mencoba untuk pertama kalinya masuk ke dalam pasar tradisional, padahal ia tidak berpikir jika pasar tradisional akan seperti ini.
‘’Yakin mau masuk?’’ tanya Almira memastikan.
‘’Hmm, yakin. Yah walaupun ….’’ Ucap Damian yang terpotong.
Namun tiba-tiba brakkk.
Ada satu baskom hitam dengan ukuran besar yang tidak sengaja menabrak Damian, dan alhasil semua ikan-ikan hidup yang ada di dalam baskom hitam itu pun jadi tumpah dan tepat mengenai tubuh Damian.
‘’Akhhhhh!’’ teriak Damian dengan sangat keras, ia tidak menyangka jika dirinya akan mengalami hari yang begitu sulit sekarang, hari sial yang sangat menyita emosinya.
Almira melihat wajah kesal yang berusaha ditahan oleh Damian, ia hanya tidak ingin dosen killernya ini malah marah-marah di tengah pasar.
‘’Pak,’’ ucap Almira yang mendekat dan berbisik.
Damian mengepalkan tangannya untuk meredam semua emosi yang sudah sangat memuncak dan butuh untuk di keluarkan saat ini juga.
‘’Astagfirullahal adzim,’’ bisik Almira.
Damian yang pertama kali untuk mendengar kata itu, langsung menoleh kepada Almira dengan berkata, ‘’Apa kamu lupa jika saya ini seorang ateis?’’
Almira melotot kaget karena baru menyadari akan kesalahan yang sudah ia perbuat, ‘’Astagfirullah, maaf Pak. Saya lupa untuk hal itu,’’
seorang pedagang yang tidak sengaja pun mendekati Damian, dengan wajah yang sangat takut, ia berusaha untuk menebus semua kesalahannya.
"Maaf, Pak. saya tidak sengaja," ucap pria yang sudah berumur lanjut, bahkan saking takutnya dengan Damian, kaki pedagang itu sampai bergetar dengan hebat.
Damian masih mengepalkan tangannya, ia sangat marah sebenarnya, sudah mobil kesayangan lecet dan harus di bawa ke bengkel, dan sekarang, kejadian di pasar juga sangat membuatnya semakin marah saja.
pakaian yang sangat mahal harus kotor, bahkan sudah bau amis sekali.
"Tidak apa, Pak. lain kali hati-hati jika sedang bekerja, untung hanya saya yang kena," sambung Damian.
ia menoleh kepada Almira, "Astaghfirullah hal adzim,"
Almira hanya bisa menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal.
Bersambung.
__ADS_1