Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen

Nikah Kontrak Dengan Pak Dosen
Episode 27/ Candu


__ADS_3

Episode 27/ Candu


Latif menoleh kepada Almira, ia seakan memberikan isyarat kepada Almira dengan mempertanyakan apakah kebenaran dari ucapan Damian. Almira hanya diam tanpa memberikan gelengan maupun anggukan, ia langsung menoleh kepada dosen killernya sendiri dengan tatapan tajam penuh intimidasi.


Namun Damian malah tetap santai saja, ia tidak memperdulikan tatapan yang di berikan oleh Almira, memang pria yang begitu egois dan ingin menang sendiri. Tanpa meminta izin, Damian meraih tangan Almira dan itu sungguh menyebalkan bagi Latif, ia saja tidak pernah menyentuh Almira, namun pria yang satu ini dengan tanpa rasa bersalah menyentuh jemari indah Almira.


Bukkk.


Dengan kasar, Latif memberikan pukulan yang sangat keras di pipi Damian, Almira yang kaget hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangan itu. Damian hanya terkekeh, dia tidak membalas pukulan yang menyebabkan bagian bibirnya mengeluarkan sedikit darah.


‘’Kamu tahu kan aturan kampus?’’ tanya Damian dengan santai.


‘’Yah, saya tahu. Dan anda sendiri tahu kan etika sopan santun kepada seorang gadis?’’ tanya balik Latif.


‘’Yah, saya tahu itu. Tapi apakah kamu lupa dengan hal apa yang sudah saya katakan? Jika say aini adalah calon suaminya Almira, so … kamu harus sadar diri dan ingat itu!’’ sahut Damian dengan memberikan intimidasi kepada Latif.


….


‘’Lepaskan tangan kotor Anda itu!’’ titah Latif yang sama sekali tidak takut jika ia akan bermasalah di hari pertamanya berada di kampus gadis pujaan yang ia cintai dalam diam. Bahkan dirinya juga tidak akan takut berhadapan dengan Damian.


‘’Ayo, Almira!’’ desak Damian dengan memberikan intimidasi kepada gadis kecil yang sedari tadi berusaha memberontak, namun takut dengan tatapan tajam yang ia berikan.


Latif hanya menatap kepergian Almira yang di bawa paksa oleh Damian, dirinya hanya bisa mengepalkan jemarinya dengan penuh kebencian di hari pertama kepada dosen yang bernama Damian, dosen killer yang sudah di pastikan akan banyak bermasalah dengannya.


‘’Lihat saja dia! Aku tahu jika kamu hanya mengintimidasi Almira!’’ gumam penuh kemarahan kepada pria yang sedang menarik lengan Almira pergi menjauh.


Drrtt, drttt, drtt.


Latif segera mengangkat sambungan telepon, namun tatapan mata itu masih memberikan tatapan penuh ketidak sukaan kepada Damian, ia menghela nafas panjang dan baru berkata.


‘’Hmm, lo ada dimana?’’

__ADS_1


[Bro, gue ada di belakang lo!] suara pria dengan tertawa, jelas hal itu membuat Latif heran, ia membalikkan tubuhnya dan benar saja, disana terlihat jika ada 2 pria yang seumuran dengannya sedang menertawai Latif.


‘’Shitt lo semua!’’ kesal Latif, ia tahu jika kedua temannya ini pasti sudah melihat semua keributan yang terjadi antara dirinya di hari pertama pindah kampus.


…..


Kedua pria itu memukul berkali-kali Pundak Latif sembari memberikan ejekan dengan berkata, ‘’Bro, bro. baru juga hari pertama lo masuk ke kampus ini, tapi lo udah bikin masalah aja. Emangnya lo nggak tahu jika lo itu akan banyak mengalami masalah jika berhadapan dengan dosen yang lo pukul itu?’’ ucap salah seorang pria dengan rambut berwarna pirang, kulit seputih susu, dan wajah yang kental wajah eropa, pria ini bernama jack. Ia sudah sangat lancar berbahasa Indonesia karena memang lahir dan di besarkan di Indonesia.


Latif malah memberikan wajah kesalnya dengan ejekan dari kedua temannya ini, ‘’Hahah, bro, bro. lagian masa iya sih, lo main pukul tuh dosen killer hanya karena seorang gadis sih?’’ sahut pria lainnya, pria itu keturunan timur tengah, lebih tepatnya turki. Dengan postur tubuh yang sangat bagus menjadi idola semua gadis-gadis, senyum manis yang terdapat lesung pipit begitu menggoda, nama pria ini Ali.


Hampir sama dengan Latif yang juga ada darah turki, bedanya Latif juga mendapatkan darah dari eropa, ibunya Latif seorang dokter cantik yang berasal dari inggris dan sang ayah tentara dari Turki.


‘’Sudah, sudah. Dari pada kita semua ini meributkan hal yang tidak semestinya, mendingan lo ikut gue sekarang, Latif!’’ ucap Jack.


‘’Kemana?’’ tanya Latif yang merasa tidak enak dengan kedua temannya ini.


Jack dan Ali tidak langsung memberikan jawaban, namun ia malah langsung menarik tubuh Latif untuk ikut bersama mereka.


…..


‘’Bro, lo sudah lihat kan, betapa dekatnya gadis itu dengan dosen killer yang lo pukul tanpa rasa bersalah?’’ ujar Jack yang menunjuk ke arah Almira dan Damian.


Latif hanya memberikan deheman, ‘’Bro, lo tuh harus tahu, jika dosen killer itu idola di kampus ini, jika ada banyak dari penggemarnya yang tahu jika idola mereka mendapatkan pukulan dari orang asing, maka lo harus siap-siap terkena masalah besar dengan fansnya itu,’’ sambung Ali yang kebetulan teman sekelas Almira.


‘’So … hubungannya sama gue itu apa? Memang lo pikir gue akan takut jika hanya berhadapan dengan dosen yang tidak punya etika sama sekali kepada mahasiswinya sendiri!’’ ujar Latif, ia kembali emosi di saat mengingat gengaman tangan Damian.


‘’Yah, itu yang jadi masalah bagi lo Latif!’’ ujar Jack.


Latif memberikan wajah herannya, apa maksud dari ucapan Jack. ‘’Maksud lo itu apaan sih? Dia yang salah dan sudah melanggar etika seorang dosen kepada murid, kenapa lo malah berkata jika seakan akan gue yang bermasalah dalam kasus ini?’’


…..

__ADS_1


Sementara di ujung sana, Almira sedang ngambek parah kepada Damian, bisa-bisanya ia berkata jika dia adalah calon suaminya, Damian dengan santai mendengarkan semua celotehan panjang Almira, bahkan di saat Almira sedang marah kepadanya, bagi dosen killer ini wajah Almira sungguh menggemaskan, ingin sekali ia cubit pipi yang cukup chubby itu, padahal sebelum bertemu dengan Almira.


Damian jauh lebih tertarik dengan gadis yang memiliki pipi tirus, mata biru dan wajah yang ke barat-baratan, namun setelah bertemu dengan Almira, tipe wanita yang ia sukai perlahan bertukar. Sekarang Damian malah tertarik dengan gadis yang memiliki kulit sawo matang, kulit khas gadis Indonesia, dengan bola mata berwarna hitam, tubuh kecil yang sungguh menggemaskan.


Ia malah tersenyum-senyum sendiri di saat melihat betapa menggemaskannya Almira di matanya, terlebih Almira tidak sadar diri jika sedari tadi Damian terus menatap kepadanya.


‘’Bapak, ngapain bilang segala jika Bapak ini calon suami saya?!’’ kesal Almira, barulah kemudian ia menoleh kepada Damian.


‘’Kenapa Bapak melihat saya seperti itu? Apa ada yang salah dengan saya, makanya Bapak sedang menertawakan saya?’’ tanya Almira yang tidak mengerti sama sekali.


….


‘’Maaf, coba kamu ulang lagi perkataan kamu barusan, saya sedang tidak focus,’’ sahut Damian yang tidak mendengarkan apapun ucapan yang keluar dari mulut Almira.


‘’Bapak itu kenapa sih? Jangan-jangan sedari tadi Bapak sama sekali tidak mendengarkan ucapan saya yah?’’ curiga Almira.


Damian memberikan anggukan, dan itu sungguh menyebalkan sekali bagi Almira.


‘’Maafkan saya untuk itu, tapi … saya benar-benar tidak bisa untuk focus memperhatikan kamu yang sedang berbicara,’’ sahut Damian.


Almira mengerutkan keningnya karena heran dengan ucapan sang dosen, ‘’Maksud Bapak?’’ tanya Almira dengan heran.


‘’Bapak sakit? Jika iya, maka mari saya antarkan ke ruangan uks,’’ panik Almira.


Damian malah terkekeh mendengar kepanikan yang di berikan oleh Almira.


‘’Almira, Almira. Kamu ini memang sangat lucu dan menggemaskan sekali, jika begini terus, bisa-bisa saya benar-benar masuk rumah sakit karena kamu.’’ Sahut Damian dengan tersenyum.


Almira malah semakin bingung dengan ucapan Damian, maklum ia sama sekali tidak pernah dekat dengan seorang pria, sekalinya dekat malah dengan dosen killernya sendiri.


~Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2