
Malam harinya setelah tadarus Hilmi mengajak Nadia ke Coffy shop.
Hilmi membawa Nadia dengan mobilnya karena jika dia memakai motor takut apa-apa.
Walau belum genap sahari Hilmi sudah memanjakan Nadia dari hal apapun.Nadia tidak risih hanya saja ada sedikit rasa canggung jika Hilmi memanjakannya.
Sesampainya di Coffy shop Hilmi mengandeng tangan Nadia masuk ke ruangannya tak lupa dia menyapa karyawannya sebelum masuk ruangan.
“Kak Hilmi, ini Cafe punya siapa?"Tanya Nadia karena masih belum tau banyak tentang suaminya ini bahkan dia juga belum tau jelas nama panjang suaminya karena saat akad dia sangat gugup.
“Punya ku,”jawab Hilmi yang masih baru saja duduk di mejanya.
“Kok namanya Sultan Coffy Shop?”
“Itu di ambil dari nama tengah kakak, Muhammad Hilmi Sultan Akbar,”
Nadia terdiam karena otaknya tiba-tiba mengingat sesuatu. Nama yang tak asing. Batinnya.
‘*Hai nama aku Muhammad Hilmi Sultan Akbar panggil aja Aku Sultan, ’
‘Wleee kejar aku,’
‘Huh! dasar payah masa baru gitu aja udah cape,’
‘Kamu cantik,’
‘Gadis kelincinya kakak jangan nangis,’
__ADS_1
‘Mau es krim enggak cil?’
‘Kak Sultan janji kalo bakal balik lagi,’
‘Maafin kak Sultan udah ingkar janji, ’
‘Kak Sultan harus pergi kamu baik-baik ya. Kalo ayah kamu sama Laras jahatin kamu lawan aja,’
‘Enggak boleh lemah! harus kuat!’
‘Kakak yakin suatu saat nanti kita akan ketemu lagi*,’
Nadia mengingat sesuatu orang yang membuat dia bisa melawan Laras itu sudah pergi jauh pindah dari kota ini.
Tapi mengapa nama itu sama dengan Hilmi.
“Kak Hilmi boleh nanya?” Nadia mendekat ka arah Hilmi duduk di kursi yang ada di hadapan Hilmi hanya terhalang meja besar saja.
“Boleh,”
“Kakak pernah enggak temenan sama anak kecil usianya 5 tahun. Gadis rapuh yang sering dijahatin ayah dan adiknya sendiri.”
“Kalian ketemu di rumah pohon yang ada di ujung kompleks saat anak perempuan itu lagi nangis di rumah pohon itu.” ucap Nadia pula.
Hilmi mulai berpikir mencoba mengingat apa yang katakan Nadia.
*Flash back on.
__ADS_1
Hilmi kecil berjalan melihat-lihat kompleks yang ditempati orang tuanya. Dia berhenti di sebuah rumah pohon dan mendengar isak tangis seseorang.
“Masa sih jam segini hantu udah berkeliaran,” gumam Hilmi kecil lalu menaiki rumah pohon itu.
“Hai, nama aku Muhammad Hilmi Sultan Akbar panggil aja aku Sultan”
“Aku Nadia,”
“Kenapa nangis?”
“Ayah pukul aku karena enggak sengaja dorong Laras,”
“Ck! payah! Harusnya kamu itu jangan nangis, harusnya kamu lawan dan jujur kalo kamu enggak sengaja,”
“Ayah enggak percaya,”
Hilmi kecil merasa iba kepada anak perempuan ini dan mulai hari itu dia menghabiskan waktu liburannya untuk bermain dengan Nadia-gadia kecil yang cantik nan manis.
Flash back of*.
Hilmi tertegun dengan apa yang baru saja dia ingat, gadis kecilnya yang rapuh, manis, manja, cantik sudah tidak ia temui lagi sejak 9 tahun yang lalu.
Karena waktu itu dia menghabiskan waktu masa kecilnya di pesantren milik kakeknya jadi dia jarang pulang dan saat kembali lagi ke rumah umi dan abahnya Hilmi sibuk kuliah hingga lupa tujuan awalnya.
Mencari gadis manis nan cantik itu yang membuat pikirannya kalang kabut.
“Jangan bilang.....”
__ADS_1