Nikah Umur 14.

Nikah Umur 14.
Dua puluh satu


__ADS_3

"Jadi bagaimana keadaan istri saya dok?"tanya Hilmi saat setelah memeriksa keadaan Nadia.


"Istri bapak sedang mengandung, saya perkirakan usia kandungannya sudah 7 minggu tapi jika ingin lebih lanjut silakan tanya kepada dokter kandungan," Dokter bername tag 'Hanum' itu langsung pamit undur diri setelah mengatakan itu.


Hilmi menghela nafas nya dengan kasar. Bagaimana dia akan memeriksa ke dokter kandungan sementara Nadia sedang bersedih atas ini. Hilmi tau jika Nadia sangat peduli dan khawatir tapi apakah dia bisa mengajak Nadia untuk periksa?


Sudah lah urusan itu nanti saja dan untuk calon anaknya semoga kuat karena pasti ibunya sedang banyak pasti nanti akan mempengaruhi itu. Rentang keguguran pula.


****


Nadia menatap Ayahnya dengan nanar dan tak percaya. Dia sangat terpukul dengan ini. Bolehkah Nadia berharap untuk Ayahnya sembuh.


Dokter bilang kemungkinan kecil untuk Damar sadar apalagi jika satu minggu lagi Damar belum sadar juga dokter akan mencabut alat-alat bantu hidup Damar.


Nadia mengenggam tangan dingin dan rapuh Ayahnya, tangan yang dulu pernah memukul dia karena sebuah kesalahaan kecil sekarang tak berdaya.


Tangan kekar yang pernah merengkuh dia saat menangis karena dijaili oleh Arkan ini sekarang berbeda tak ada yang seperti dulu.


Cluning...Cluning...


Suara dering ponsel Nadia membuat gadis itu tersentak dan langsung menjawab telepon itu.


"Hallo, Assalmualaikum? ada apa Mas?"


Nadia menghapus air matanya dan menetrakan suara nya agar tak terdengar oleh kakaknya.


'Lagi dimana dek? Mas dirumah kamu kok enggak ada siapa-siapa?'


"Lagi diluar Mas, emang ada apa mas kok tiba-tiba datang ke rumah,"


'Mas mau ngomong,'


"Disini aja Mas kan bisa soalnya Nadia lagi jauh banget dari rumah,"

__ADS_1


'Dek, tau enggak? sebenernya Ayah itu enggak salah tapi semua yang Ayah lakuin itu karena ngikutin semua ucapan paman Danu,'


Tentu saja Nadia tau hal itu sebelumnya Nadia sudah mendengar itu sejak dulu saat Ayahnya bicara dengan pamannya itulah sebab mengapa Nadia tak pernah membenci Ayahnya.


'Dek kok diem? kok kamu kaya lagi diruma sakit,'


Ucapan Arkan membuat Nadai tersentak dan kikuk sendiri.


"Ahk iyya mas, udah dulu ya,"


Tanpa menunggu jawaban lagi Nadia langsung menutup saluran telepon itu.


******


Nadia tersentak kaget begitu pun Hilmi dan Laras saat ada pengerakkan di tangan Damar.


Sudah hampir tiga hari ini Hilmi dan Nadia pulang pergi rumah dan rumah sakit untuk menjaga Damar bergantian dengan Laras.


----


"Alhamdulilah, keadaan bapak Damar sudah pembaik walau harus dirawat inap agar memulihkan kesehatannya,"ucap dokter setelah memeriksa Keadaan Damar.


"Alhamdulilah,"Nadia, Hilmi dan Laras serempak mengucapkan itu.


Nadia sangat senang dan berterima kasih kepada Allah karena telah memberi kesempatan dia menemani Ayahnya diusia yang menua.


Setelah Dokter pergi mereka bertiga langsung masuk dan mendapati Damar yang sedang duduk bersandar diranjangnya menatap kosong ke arah depan.


"Assalamualaikum,"sapa Nadia memecahkan keheningan membuat Damar langsung menoleh.


Dengan langkah pelan Nadia menghampiri Ranjang Damar dan Hilmi yang mengerti akan keadaan jika ayah dan kedua putri itu butuh privasi, dia langsung keluar.


Tanpa diduga Nadia Ayahnya langsung menarik tangan dia untuk didekap menyalurkan rasa rindu.

__ADS_1


"Maafin ayah nak, maafin ayah yang bodoh ini karena telah membuatmu terluka selama ini,"


"Ayah, Nadia udah lupa sama itu jadi jangan bahas itu lagi,"


Tak ada kata-kata yang bisa mengambarkan suasana hati Nadia sekarang. Ayahnya sudah kembali seperti cerita ibunya dulu.


Sikap hangat ayahnya telah kembali tak ada lagi sikap kasar dan dingin yang membuat Nadia takut.


.


.


.


.


"Sekasar apapun orangtua kepada anaknya. Semua anak tidak ada hak untuk membenci atau membalas dengan cara yang tak masuk akal kerena pasti didalam hati semua orangtua sangat menyayangi anaknya melebih apapun tanpa bisa digambarkan,"~Nadia Prawira Putri.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca.


Semoga lancar puasanya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2