
Budaya kan Like sebelum membaca.
.
.
.
.
Laras gadis itu menatap ragu rumah milik kakaknya. Niatnya ke sini hanya ingin memberi tahu tentang keadaan Damar, bagaimana pun Damar juga Ayah Nadia-kakaknya-.
Dia akan terima penolakan apapun dari Nadia maupun dari suami kakaknya.
Laras akan terima apapun konsekuensinya karena dia cukup sadar diri perlakuan apa saja yang membuat kakaknya terluka atau menangis.
"Mau cari siapa mbak?"Suara Nadia membuat Nadia tersentak kaget dan langsung menoleh melihat kakaknya yang sedang berdiri didekat pagar.
Nadia, perempuan berjilbab toska itu menatap rindu kepada Laras adik kembar nya ingin sekali dia memeluk tubuh itu namun dia tak mau kejadiannya masa lalu terulang lagi.
"Kak Nad,"Laras menundukkan kepalanya tak berani menatap kakaknya.
"Ahh, ayo masuk Ras,"ajak Nadia dan dibalas anggukan kecil oleh Laras.
Nadia mengajak Laras masuk lalu menyuruh Laras duduk sedangkan dia pergi ke dapur mengambil minuman.
"Loh Nad enggak jadi mini marketnya?" tanya Hilmi saat berpapasan di dapur.
__ADS_1
"enggak kak, diluar ada Laras,"jawab Nadia menyiapkan minuman.
"Ya udah sana temanin Laras aja biar aku aja yang bikin minuman,"
"Enggak papa nih,"
"Enggak papa sayang,"
Seketika Nadia langsung tersipu saat Hilmi memanggil nya 'Sayang'.
"Apaan sih kak," Nadia tersenyum kikuk dengan pipi merona lalu pergi meninggalkan Hilmi.
Dan Hilmi hanya tersenyum sembari geleng-geleng kapada sikap istri nya.
**********
"Jadi ada apa nih, tiba-tiba datang,"canda Nadia mengeluarkan sikap aslinya jika didepan adiknya.
"Ssssttt..... Ras, aku udah lupain itu. Lagi pula ngapain kita harus ungkit masa lalu yang harus kita ungkit adalah masa depan,"potong Nadia.
Laras menatap kagum kepada kakak nya. Diusianya yang baru menginjak 14 tahun kakaknya slalu bijak dalam apapun.
Lamunan Laras buyar saat Hilmi datang membawa nampan berisi kan minuman tiga gelas.
"Maaf ganggu,"ucap Hilmi menyimpan nampan itu dimeja.
"Enggak kok kak,"balas Nadia.
__ADS_1
Hilmi langsung duduk di sisi istri nya lalu tangannya terulur merangkul pinggang istrinya.
"Ahh... Iyya Ras, aku lupa nanya gimana kabar Ayah,"Nadia menatap Laras yang menundukkan kepalanya.
"Emmm.... itu kak Nad, Ayah udah hampir 3 bulan terakhir ini ko--ma karena kecelakaan,"Laras mengucapkan itu dengan terbata.
Nadia langsung lemas mendengar itu tak percaya sepertinya 3 bulan yang lalu Nadia menelpon Ayahnya untuk meminta restu tapi kenapa sekarang kabar itu sangat mengejutkan.
Hilmi dengan sigap mendekap tubuh istrinya dia tau dengan jelas bahwa Nadia Sangat menyayangi Ayahnya walaupun di masa lalu sikap ayahnya sangat tidak patut untuk dimaafkan tapi dibalik itu semua pasti ada penyebabnya.
"Laras baru aja dapet berita itu kemarin.
Kata dokter dan perawat saat dibawa ke rumah sakit Ayah manggil nama kakak terus," Laras menundukkan kepalanya tak kilasan saat Ayahnya meminta tolong untuk di bawa ke dokter karena jantung nya kambuh dan dia mementingkan teman-temannya dari pada sang Ayah yang sedang kesakitan.
"Kak, ini cuman mimpi kan,"Isak Nadia dalam dekapan Hilmi berharap ini mimpi buruknya perempuan cantik itu menggeleng kan kepalanya.
"Kak, bilang sama Nadia ini cuman mim--" belum juga Nadia menyelesaikan ucapan nya kesadarannya sudah hilang membuat Hilmi dan Laras panik bukan main.
Dengan cepat Hilmi langsung menggendong Nadia membawa nya kerumah sakit diikuti oleh Laras.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Note:Maaf semakin lama kalo cerita nya semakin enggak nyambung. Maklum masih pemula hehehe.....