Nikah Umur 14.

Nikah Umur 14.
15.(Revisi)


__ADS_3

Hilmi mengeliat panjang saat mendengar alarm ponselnya hal yang pertama ia lihat adalah istrinya yang sedang duduk didepan meja rias.


Setelah sholat subuh dan tadarusan Hilmi langsung tertidur kembali karena semalam insomia-nya kambuh dan kini jam 8 pagi dia baru saja bangun.


Nadia yang baru saja memasang jilbabnya langsung menghampiri suaminya memberikan sarapan yang sudah ia siapkan sejak tadi dibalkon. Perempuan berbalut gamis merah maroon dan jilbab panjang senada itu berniat sarapan dibalkon sembari menikmati udara pagi.


Hilmi tersenyum cerah melihat istrinya yang tampak cantik hari ini dan juga ya sangat berbeda.


"Kamu mau pergi?" tanya Hilmi saat Nadia sudah duduk didekatnya.


"Ck! emang salah ya aku pake gamis ini? padahal kan gamis ini dari seserahannya kakak," Nadia mencibik bibirnya padahal sadari tadi ia ingin pujian yang terlontar dibibir sang suami bukan pertanyaan.


"Gitu aja cemberut," kekeh Hilmi membuat Nadia semakin mencibik bibirnya.


"Sini deh," Nadia lebih mendekat dan saat sudah sangat dekat Hilmi langsung menarik istrinya kedalam dekapannya.


Cup.

__ADS_1


Hilmi mengecup pelipis Nadia dengan lembut lalu mengusap pipi bulat istrinya.


" 'ant jamiluh alyawm" ucap Hilmi mencium singkat bibir ranum sang istri dengan lembut.


" shukraan jazilaan" Balas Nadia. seperti ada sengatan listrik dan seketika wajah putihnya menjadi merah seperti tomat.


"Kakak mandi dulu kamu sarapan duluan aja," ujar Hilmi saat melihat makanan tertara rapih dimeja kotak yang ada dibalkon kamarnya.


Hilmi memang menyediakan itu untuk sekedar bersantai, meja yang hanya setinggi perutnya itu tidak memakai bangku duduk selojoran saja lebih nyaman.


"Bukannya kakak tadi subuh udah mandi ya,"


----***----


Nadia menghembuskan nafasnya karena sudah hampir 20 menit mobil sedan hitam milik Hilmi yang kini sedang ditumpangi dirinya dan sang suami terjebak macet.


Padahal ini baru jam 10 pagi tapi sudah macet saja.

__ADS_1


'Balonku ada lima rupa-rupa warnanya hijau kuning kelabu merah muda dan biru meletus balon hijau daaarrr.... hatiku sangat kacau,'.


Nadia menurunkan kaca mobil anak-anak yang beberapa minggu lalu ia beri coklat dan uang kembali bertemu.


"Assalamualaikum.... masih inget kakak enggak?" tanya Nadia dengan senyum manis dan ketiga anak itupun sama mereka tersenyum.


"Waalaikumsalam kakak cantik lagi,"


Nadia mengambil kantung kresek besar berlogo biru itu dia mengambil beberapa snack dan minum buat ketiga anak itu dan tak lupa perempuan cantik itu memberikan uang pecahan seratus ribu.


"Makasih kak,"


"Sama-sama,"


Hilmi tersenyum bangga melihat istrinya yang lagi-lagi tampa ragu memberikan uang dengan pecahan yang besar dan juga snack tadi adalah cemilan untuk istrinya tapi malah diberikan kepada pengamen bukan dia melarang hanya saja dia tidak pernah salah dengan keputusannya untuk mencintai dan mempersunting Nadia karena terlihat dari akhlak dan hatinya.


Kecantikan seorang perempuan terpancar karena akhlak dan hati bukan karena bedak atau skin care atau perewatan yang lainnya.

__ADS_1


-----***-----


__ADS_2