
Nadia tersenyum bahagia saat melihat namanya dimading sekolah nilainya pun bagus malah dia masuk pringkat pertama.
"Yey!! selamat ya Nad masuk pringkat pertama," ujat Ainil.
"Makasih Ainillll...." Nadia mencubit kedua pipi bulat Ainil.
Ah iyya omong-omong soal pernikahaanya dengan Hilmi itu semua sudah siap semua tinggal tunggu seminggu lagi.
Nadia tida ikut nimbrung membantu karena dia hanya dititah fokus ujian dan belajar.
"Kamu pulang sama siapa Nad?" tanya Ainil saat sudah berada dihalaman sekolah.
Bella sudah pulang duluan karena katanya ada urusan keluarga.
Mobil alfard hitam berhenti di hadapan Nadia dan Ainil. Itu adalah mobil milik Aldo.
"Aku naik taksi aja,"Nadia hendak menyetop taksi namun tarikkan tangan Ainil membuat Nadia terpaksa ikut mobil Aldo.
Nadia sudah duduk dikuris penumpang sedangkan Ainil duduk kursi didepan sebelah kursi kemudi.
'Kak Hilmi?' batin Nadia saat melihat Hilmi duduk disisinya.
__ADS_1
Entah kenapa Nadia jadi gugup sendiri padahal seminggu lagi mereka akan menikah.
sepertinya Hilmi tidam menyadari jika Nadia sedang duduk disini, Mata Hilmi terus pokus ke ponselnya.
"Kita nyari makan dulu," ucap Ainil dan hanya dibalas anggukan kecil oleh Aldo.
Jalanan sangat macet didalam mobil pun hanya terdengar alunan musik religi dan ya Hilmi benar-benar tidak menyadari jika Nadia duduk disisinya karena jika menyadari pasti Hilmi sudah menyapa atau mengajak gadis berbalut gamis berwarna peach senada dengan jilbab panjangnya mengobrol.
Nadia menurunkan kaca mobil saat seorang anak kecil mengamen didekat mobil tepat dimana Nadia duduk saat ini.
Dengan pelan gadis itu membuka dompet warna pink dan menarik pecahan uang seratus ribu setelah menyimpan kembali dompetnya Nadia juga mengambil dua coklat yang tadi ia beli dimini market.
"Ini dek kakak punya coklat buat kalian dan ada uang nya berbagi sama temen yang lain ya," ujar Nadia menyodorkan uang dan coklat itu.
Memandangan itu tak luput dari iris mata hitam Hilmi laki-laki tersenyum bangga melihat Nadia tanpa ragu memberikan itu.
Ainil dan Aldo pun sama mereka menyaksikan itu apalagi saat Hilmi tersenyum bangga membuat mereka terkikik geli.
Nadia memang pencinta coklat jadi hal yang wajar jika didalam tas punggung sedang milik Nadia terdapat beberapa coklat.
"Jaga matanya Hil belum mahrom," tegur Aldo sedikit terkekeh.
__ADS_1
Hilmi langsung mengalihkan pandangannya saat Nadia menoleh ke arahnya.
"Ekhem...." dehem Hilmi menegakkan tubuhnya dalam hatinya dia merutuk karena bisa-bisanya salting karena Nadia tadi menatap.... bukan-bukan tapi hanya melihat.
-----***-----
Mungkin karena weekend restoran ramai sekali hari ini banyak sekali muda-mudi yang berduan hanya sekedar untuk menghabiska waktu malam minggu nya dengan kekasih mereka tapi tidak dengan Ainil perempuan itu mengandeng mesra tangan suaminya jika di lihat sepintas mereka berdua seperti bukan suami istri terlebih lagi usia Ainil yang baru saja menginjak 18tahun sedang Aldo 20tahun.
Pasangan suami-istri muda itu tampak menikmati sunset sepertinya mereka melupakan anak adam dan hawa berbeda gender yang kini sedang tampak bingung membuka topik membicaraan.
Hilmi hanya diam sembari menikmati makannanya dia membayangkan apa nanti setelah menikah mereka akan canggung seperti ini?
"Nad,"Nadia langsung menoleh kearah Hilmi merasa namanya terpanggil.
"Aku kak?" tanya Nadia menunjuk dirinya sendiri membuat Hilmi terkekeh.
"Iyya, emang ada lagi selain kamu," kekeh Hilmi.
"Hehehehehe.... ada apa kak?"
"Mau keliling enggak? disini bosen. Aldo sama Ainil malah asyik sendiri," tawar Hilmi membuat Nadia menimang. Mungkin ini awal mendekatnya dengan Hilmi agar nanti pas sudah menikah.
__ADS_1
"Boleh deh," Nadia mengangguk kecil.
----***----