
Setelah menyiapkan semua barang-barangnya dan Hilmi untuk dibawa ke Bandung, Nadia langsung turun menghampiri suaminya yang sedang sibuk dengan laptopnya
Itulah Hilmi jika sakalipun sibuk pasti akan menyudahi perkerjaannya jika Nadia ada di sisinya. Saat melihat Nadia duduk di sisinya Hilmi langsung menyudahi pekerjaannya bukan apa-apa dia hanya takut merasa jika di acuhkan.
“Aku lagi nyari ide buat buka usaha baru,” ucap Hilmi menarik lembut tangan Nadia hingga jatuh di pangkuannya.
Tangan Nadia terulur merapikan rambut Hilmi tangan satunya mengalung bebas di tengkuk leher Hilmi. “Bukanya cabang Coffy Shop yang disini baru buka kak?” tanya Nadia menatap bola mata Hilmi.
“Hmm... Cabang yang disini emang baru dan besok saat di Bandung aku mau buka cabang lagi,”
“Hah?! Berarti ntar di bandung lama dong?”
“Enggak, kan nanti ada Noval sama Aldo yang bantu,”
“Terus kakak rencananya mau buka usaha apalagi?”
“Belum kepikiran,”
Nadia memendamkan wajahnya di ceruk leher Hilmi kedua tangan nya sudah memeluk tubuh Hilmi erat.
Sedangkan tangan Hilmi terus membelai belakang kepala Nadia mengecup beberapa kali puncuk kepalanya.
“Nad,”
“Iya, apa?”
“Mau lanjutin kuliah dimana?”
Nadia menengak tubuhnya lalu menatap Hilmi dalam-dalam lalu sedetik kemudian menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Nadia enggak akan kuliah, Nadia mau jadi ibi rumah tangga aja lah,,”
“Sama ngurus anak-anak kita,” goda Hilmi mencubit hidung Nadia membuat sang empu meringis.
“Kakak sakit ihk...” ringis Nadia membuat Hilmi terkekeh.
Hilmi mengecup sekilas bibir Nadin sebelum ia mendekap tubuh mungil Nadia.
“I LOVE YOU HUMAIRAKU,” bisik Hilmi.
“I LOVE YOU TOO MY HUBBY,” balas Nadia mencium kedua pipi Hilmi.
(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ
Hilmi tidak menyetir sendiri dia membawa pak Sahril-sopir keluarganya untuk mengemudi.
Sedangkan Nadia hanya diam saja karena tiba-tiba perutnya seperti di kocok dan kepalanya serasa pening sekali.
Lemas, Ingin, Muntah. itulah yang di rasakannya saat ini. Dengan memakai selimut Nadia meringkuk di kursi penumpang dengan disisi nya Hilmi yang siap siaga.
“Masih pusing enggak?”tanya Hilmi.
“Sedikit,” jawab Nadia.
Hilmi berpikir tentang makanan yang di makan oleh Nadia seharian ini. Setelah berpikir lama Hilmi sudah memastikan jika makanan yang di makan oleh Nadia sehat semua lantas mengapa Nadia mendadak lemas gini? padahal enggak demam terus kanapa?
“Kak,” Suara serak Nadia mampu membuat Hilmi menoleh menatap Nadia.
__ADS_1
“Apa?”
“Nanti pas di bandung pingin baso cabe yaa,”
“Enggak boleh Nad, kamu kan punya maag,”
“Tapi aku pingin,”
“Emangnya pingin banget ya?”
“Banget, entah kenapa jadi kepikiran itu,”
“Jangan ya, cari makan yang lebih sehat,”
Entah sejak kapan mata Nadia mulai mengeluarkan air mata membuat Hilmi heran lalu dengan cepat mendekap tubuh Nadia.
“kenapa, hmm?” tanya Hilmi sembari membelai belakang kepala Nadia.
“Hiks... hiks... kakak jahat! kakak enggak ngizinin aku makan baso isi cabe,” isak Nadia membuat Hilmi tambah heran.
“Aku bukan enggak ngizinin tapi kakak cuman engga mau kamu sakit, ”
“Sama aja! pokoknya aku enggak mau makan kalo enggak makan baso itu,”
Hilmi Benar-benar di buat heran oleh istri kecilnya karena mood Nadia tiba-tiba berubah begini yang biasanya selalu nurut tapi hari ini? Nadia sangat manja dan selalu merengek.
Sebenarnya ada apa dengan Nadia?
(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ
__ADS_1