Nikah Umur 14.

Nikah Umur 14.
12.(Revisi)


__ADS_3

Nadia duduk menyandarkan kepalanya di bahu kokoh itu kini mereka sedang berada di ruang tengah menonton Televisi.


Selesai makan siang dan sholat Hilmi mengajaknya untuk menonton televisi.


Tidak ada rasa gugup atau canggung lagi antara Hilmi dan Nadia. Entahlah kedua rasa itu hilang dengan seketika.


"Kak, pernah pacaran apa enggak?" tanya Nadia mendongkakkan kepalanya guna menatap wajah sang suami.


"Pacaran? enggak pernah. Jatuh cinta aja enggak pernah," kekeh Hilmi.


"Terus kenapa kakak bisa tau atau kenal aku kan kita belum pernah ketemu?"Nadia menatap iris hitam itu rasanya tak asing. Rasanya dia pernah mengenal iris mata hitam itu.


Flashback on.


4 tahun yang lalu.


Seorang gadis berjalan beriringan bersama temannya, gadis cantik terbalut baju gamis hitam hijab panjang melekat di tubuh mungil nan tinggi tersebut. Dia adalah Nadia dan disisinya ada Bella.


Kedua gadis itu tampak bahagia hingga tak sadar jika dijalan yang berlawanan arah sebuah motor ninja melaju dengan cepat.


" Awas!!!"teriak seorang wanita paruh baya berhasil menarik tangan Bella namun tidak dengan Nadia.


"Aaaaaaaaa!!!!!!" teriak Nadia memejamkan matanya saat motor itu hampir menyentuh nya.

__ADS_1


Seorang laki-laki berjaket hitam langsung membuak helm fullpachnya.


"Kalau nyebrang itu hati-hati," sungutnya membuat Nadia langsung menatap iris mata hitam tajam itu.


"Kok jadi aku sih harusnya kakak tuh yang bawa motornya enggak hati-hati," ketus Nadia mendecak sebal.


"Bukanya minta maaf malah ngajak ribut," cetus Nadia.


"Harus kamu yang minta maaf bukan saya karena kamu yang enggak liat jalan kalau nyebrang," sarkasnya membuat Nadia kesal bukan main.


Ingin rasanya Nadia mencabik muka songong itu tapi dia tahan karena kakaknya selalu mengajarkan sabar tapi kalau dengan cowok ini rasanya tidak.


"Udah songong, nyebalin, belagu ehh... atagfirullah enggak boleh ngehujat," Nadia bermonolog sendiri membuat cowok yang ada di hadapanya mengulum senyum lalu berkata dalam hati.


Menarik. batinya.


Sebelum cowok itu memakai kembali helm-nya Nadia sempat menarap iris hitam nan tajam itu.


Dan di hari keduanya Nadia bertemu kembali dengan cowok itu namun ditempat yang berbeda.


Hari-hari berikutnya Nadia tidak menyadari jika Cowok yang dianggap musuhnya sudah menjadi pengemar rahasianya dan slalu memperhatikannya dari jauh.


Flashback of

__ADS_1


Nadia tertegun saat baru saja mengingat pemilik iris mata hitam nan tajam itu adalah Hilmi berarti cowok yang anggap musuhnya adalah cowok yang kini menjadi suaminya.


"Kak Hilmi itu cowok songong yang hampir nabrakkan aku kan." Nadia berkacak pinggang membuat Hilmi terkekeh.


"Kalo iyya kenapa? dan kamu adalah perempuan yang bisa membuat hati aku menghangat dan bergetar," kekeh Hilmi membuat Nadia mengeleng.


"Gombal,"


"Enggak gombal sayang," Hilmi mencubit pipi cabit nan putih Nadia membuat sang empu meringis.


"Kamu dulu pernah bilang 'Kenapa sih hari ini aku sial banget ketemu sama kakak songong plus nyebelin. Untuk hari ini aku benci sama kakak dan aku juga akan nulis nama kakak jadi M U S U H' inget enggak? itu pertemuan kita yang kedua di cafetaria." Hilmi tersenyum geli saat mengingat Nadia sedang macak-macak emosi kepadanya.


"Ihk... itukan karena kakak jailin aku terus," Mendengar itu Nadia langsung tersipu karena saat itu dia sedang polos dan emosi.


"Assalamualaikum....." Nadia dan Hilmi langsung menoleh ke arah pintu namun detik selanjutnya Nadia beranjak membukakan pintu.


clek...


Nadia tersenyum manis saat kedua sahabatnya berdiri dihadapannya membawa ukulele dan gitar.


"Mau main apa manggung segala bawa yang begituan," kekeh Nadia.


"Kan kamu belum beres ngajarin kita main ini," sahut Bella menunjukkan gitar kesayangan gadis itu.

__ADS_1


"Yuk masuk yuk," ajak Nadia.


----***----


__ADS_2