
Entah sudah berapa kali Nadia menolak untuk di make up tapi pada ahkirnya di dia make up walau tidak tebal.
Nadia sangat tidak suka jika wajahnya memakai make up tapi karena hari ini adalah jari pernikahaannya jadi terpaksa dia memakai make up.
Gugup. Itulah satu kata yang di rasakan Nadia saat ini.
Tinggal hitungan menit dia akan menjadi seorang isteri. Isteri dari Muhammad Hilmi Sultan Akbar.
Saat ini Nadia duduk di masjid tempat akadnya tapi dia tidak bisa melihat jelas karena terhalang oleh tirai pembatas.
----***----
Tidak ada kata gugup dalam diri Hilmi karena dia sudah mempersiapkan diri untuk ini.
Tangan Hilmi sudah berjabad dengan Arkan untuk mengucapkan ijab kabul.
"Saya----"
“Saya Terima nikah dan kawinnya Nadia Prawira Putri binti Damar Prawira dengan seperangat alat sholat dibayar tunai, ” dalam satu tarikan nafas Hilmi dapat mengucapkan itu tanpa gagap.
“Bagaimana para saksi Sah?” tanya pak penghulu.
“SAH!!”
__ADS_1
Pak penghulu mulai berdoa diikuti oleh yang lain mengaminkan doa-doa untuk Hilmi dan Nadia.
Tak lama dari itu Nadia keluar dengan di himpit Risma dan Sarah dibelakangnya ada Bella yang memegangi ekor gaun Nadia sedangkan Ainil sibuk mempotret dan memvideo acara sakral ini bersama Aldo.
Risma dan Sarah mendudukkan Nadia tepat di samping Hilmi.
Pak penghulu memberikan surat-surat nikah untuk di tanda tangan oleh mereka.
Setelah itu tinggal memasang cin-cin saat Hilmi akan meraih tangan Nadia, Nadia tidak bergerak karena baru kali ini dia akan disentuh oleh laki-laki selain kakaknya.
“Nad,” bisik Risma yang masih berada di sisi Nadia menegur anaknya yang masih tidak mau bergerak saat Hilmi akan memasangkan cin-cin.
Pada ahkirnya Nadia pasrah saja walau jantungnya berdetak dengan cepat.
Dengan perlahan Nadia memasangkan cin-cin di jari Hilmi. Setelah itu Nadia mencium punggung tangan Hilmi.
Semua orang tersenyum melihat itu apalagi Risma dan Arkan yang tak luntur senyumannya.
Bahagia!. Itulah yang di rasakan Risma dan Arkan tak menyangka bahwa Nadia sudah menjadi seorang istri.
“Jadilah tulang rusukku dan aku akan menjadi tulang punggungmu. Izinkanlahk aku menjadi imam untuk membimbingmu dan membangun rumah tangga yang sakinah, wamardah dan warohmah,” bisik Hilmi mencium Kening Nadia cukup lama.
Nadia memejamkan matanya merasakan sesuatu yang hangat mendarat di keningnya.
__ADS_1
Otak Nadia tiba-tiba mengingat tentang mimpinya.
Apa? ini nyata? mimpinya nyata! apa Hilmi pangeran yang selama ini berada didalam mimpinya?
Nadia membuka matanya menatap wajah tanvan Hilmi yang tersenyum cerah.
“Ayo Nad,” ajak Hilmi membuat Nadia tersentak dari lamunannya.
Hilmi membawa Nadia mendekat kearah Arkan dan Risma untuk sungkeman dan meminta restu.
Suasana menjadi haru hampir semua meneteskan air matanya kata-kata pengantin itu benar-benar menyentuh.
Setelah kapada Arkan dan Risma pengantin baru itu melangkah kearah Sarah dan Hilman.
Acara sungkem sudah selesai kini mereka semuanya berjalan menuju Rumah Nadia yang sudah ramai karena ada sanak keluarga, tentangga dan teman-teman Hilmi maupun Nadia dan juga anak-anak yatim piatu.
Sedangkan diwaktu yang bersamaan seseorang berdiri tak jauh dari rumah Nadia.
Seorang laki-laki setengah baya berdiri dengan senyum tercetak dengan jelas laki-laki itu memakai baju rumah sakit disisi kanan laki-laki tersebut ada seorang gadis berambut sebahu ikut menatap itu dan disisi kirinya ada seorang gadis cantik berhijab biru tosca ikut tersenyum melihat itu.
"Semoga mereka bahagia," ujar laki-laki setengah baya tersebut.
"Amin..." sahut kedua gadis itu.
__ADS_1
-----****-----