Nikah Umur 14.

Nikah Umur 14.
04.(Revisi)


__ADS_3

Terkadang yang salah di mata kita belum tentu salah dan yang benar pun belum tentu benar.


Selalu menilai orang dari kesalahannya tanpa menilai orang dari kebaikannya.


Bagaimana seorang anak perempuan bisa percaya kepada pria sedangkan peria yang pertama menyakitinya adalah Ayah-nya sendiri.


Ayah adalah Figur terbaik dalam diri seorang anak perempuan mau pun laki-laki. Seorang anak bisa memaafkan kesalahan sang Ayah tapi mengapa Seorang anak tidak bisa mendapatkan maaf dari seorang Ayah?


Nadia, Gadis itu menatap bingkai foto sang keluarganya saat masih lengkap.


Tawa bahagia, Tawa sedih, dan Tawa haru selalu Nadia dapatkan. Kelembutan dan kasih sayang orang sang Ayah dan Ibu selalu Nadia dapatkan.


Hingga suatu ketika Ayah nya tiba-tiba berubah menjadi kasar, jarang pulang, foya-foya, mabuk-mabukan dan banyak lagi.


Semua sikap Ayahnya lenyap yang sebelum nya begitu saja hingga pada ahkir Ibunya memutuskam untuk bercerai


"Nad kok belum tidur?" tanya Arkan memasuki kamar adik perempuannya.


"Belum Mas, enggak ngantuk," jawab Nadia menyimpan kembali bingkai foto itu di atas nakas.


Arkan hanya bisa menatap itu semua sejujurnya di juga rindu sang ayah namun mau bagimana lagi semua ini sudah kehendak ayahnya yang tidak mau menemui mereka ah bukan-bukan Ayahnya tapi istri baru-nya. Mungkin.


Arkan mengambil bingkai foto itu lalu tersenyum sedih. Itu foto 6 tahun yang lalu saat keluarganya berlibur ke pantai.

__ADS_1


Kebahagian terpancar dengan jelas di mata di dalam foto. Arkan ingin mengembalikan ini semua tapi apa mungkin semua nya akan kembali?


"Kamu rindu Ayah yah?" tanya Arkan.


"Iyya," jawab Nadia.


"Udah coba telepon,"


"Udah tapi selalu di tolak atau enggak diluar jangkauan,"


"Mas, terahkir komunikasi sama Ayah 1 tahun yang lalu."


"Mungkin ayah Sibuk yah Mas,"


"Mungkin. Yaudah sekarang kamu tidur besok kan harus sekolah,"


Nadia mulai menempatkan posisi tidurnya lalu memejamkan matanya.


Arkan langsung menyimpan bingkai foto itu lalu mematikan lampu kamar adiknya.


"Selamat malam, Putri cantik," bisik Arkan tepat di telinga Nadia lalu mencium kening adiknya.


-----****-----

__ADS_1


Siang itu, Nadia berjalan beriringan bersama Bella. Ehh.. mereka tidak hanya berdua diantara mereka ada Ainil -sahabat Bella dan Nadia yang baru saja masuk sekolah setelah meliburkan diri.


“Wow amazing!!” pekik Ainil yang masih setia menatap layar ponselnya.


“Kenapa Nil? kamu gila kah?" tanya Bella memegang kening Ainil yang tiba-tiba berteriak.


“Ishh.... Ndak! aku lagi liat sosmed ehh... tiba-tiba ada postingan tentang coffy shop terbaru di daerah sini.” Ujar Ainil.


“Tuh baru hari ketiga aja udah rame gini, kesana yul!” ajak Ainil menarik tangan kedua sahabatnya lalu menyetop taksi tanpa menunggu jawaban Nadia dan Bella.


“Pak ke jalan xxxxx sekarang!” titah Ainil.


“Ainil aku belum izin ke ibu,” kesal Nadia mencubit pelan lengan Ainil.


“Heheheheh... kalian lama,” kekeh Ainil.


“Telepon aja Bu Risma-nya Nad, ” titah Bella kepada Nadia karena tau betul tentang pergaulan Nadia yang di batasi oleh Risma dan Arkan.


Jangan tidak izin telat satu menit aja langsung di cariin oleh sang kakak padahal sang kakak nya itu sedang flight .


“Iyya Bell,”


-----****------

__ADS_1


Jangan lupa Vote, Like, and Komen dan juga jangan lupa tambahkan ke favorit biar enggak ketinggalan sama cerita ini.


Mampir juga ke cerita ku yang lain


__ADS_2