
Jangan lupa tinggalkan jejak sebelum membaca
******
Dua bulan berlalu. Setelah kejadian di Bandung Hilmi jadi tau hal-hal kecil maupun besar dari istri nya.
Gadis ralat wanita itu kini sedang sedang menatap wajah tampan nan teduh suaminya.
Perlahan tangan Nadia mengusap wajah suaminya dengan ibu jarinya mulai dari Alis, mata, hidung, rahang, terakhir bibir tipis Hilmi. Setiap doa yang ia panjatkan tidak pernah berhenti bersyukur kepada Allah karena telah menjadi kan Hilmi imamnya.
Tak pernah sekalipun ia menyesal karena telah menikah di usia dini dari sini Nadia dapat tau bagaimana berat nya menjadi Istri tapi Nadia slalu berpikir dua kali untuk menyesali perbuatannya toh menikah itu ibadah jadi untuk apa dia menyesal.
"Dulu aku meminta kepada Allah agar mengirim kan lelaki pelindung ku selain mas Arkan dan kamu datang sebagai anak laki-laki dengan segala sikap yang membuat ku bahagia."
"Mungkin aku tidak perlu takut kehilangan mu karena sekarang kamu menjadi imam ku dan aku percaya kamu tidak akan pernah meninggalkan ku dalam hal apapun,"
"I love you, kak,"
Setelah mengatakan itu Nadia mengecup singkat bibir Hilmi lalu beranjak ke kamar mandi membersihkan dirinya sebelum memasak sarapan.
Tanpa Nadia sadari Hilmi tersenyum penuh arti saat dia pergi ke kamar mandi.
'Aku berjanji Akan slalu ada disisi mu dalam keadaan apapun,'gumam Hilmi dalam hati.
*********
__ADS_1
Hoek.... Hoek....Hoek...
Untuk kesekian kalinya Nadia memuntahkan isi perutnya saat mencium aroma menyengat.
Entahlah kenapa akhir-akhir ini hidung nya sangat sensitif dengan aroma yang menyengat.
Hilmi yang sadari tadi memperhatikan gerak-gerik Nadia langsung menghampiri Nadia memapah istri nya untuk duduk lalu mengambil air putih.
"Udah enak'an?"tanya Hilmi dan dibalas anggukan kecil oleh Nadia.
"Ke dokter aja yuk,"ajak Hilmi.
"Enggak ahk Kak, cuman mual doang"
"Aku enggak papa kak. Percaya deh,"
"Ya udah kalo nanti masih mual kita ke dokter,"
Nadia hanya mengangguk lalu merebahkan dirinya di sofa menjadi kan paha Hilmi bantalan.
Tangan Hilmi mengusap lembut puncuk kepala Nadia. Lama kelamaan Nadia mulai mengantuk lalu tak lama kemudian Nadia mulai tertidur padahal ini baru saja jam 8 pagi.
*********
Seorang gadis berjalan dengan tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Laras, Ya gadis itu sudah lama tidak pulang ke rumah Ayah dan saat sampai di sana Laras mendapatkan kabar bahwa Ayah nya masuk rumah sakit karena kecelakaan.
__ADS_1
Dengan rasa cemas dia langsung ke pergi ke rumah sakit melihat keadaan Ayah nya.
"Sus, ruangan pak Damar Prawira dimana?"tanyanya kepada suster yang baru saja keluar dari ruang inap.
"oh, bapak Damar Prawira, ruangan nya baru saja di pindahkan ke lantai dua," Tanpa ba-bi-bu Laras langsung berlari ke mencari ruangan Ayahnya.
Sesampainya di sana Laras langsung masuk ke ruang inap VVIP dia tidak akan salah pasti itu ruangan Ayahnya.
Seketika kaki Laras berasa seperti jelly, lemas sekali saat melihat keadaan Ayahnya terbaring lemah dengan alat-alat medis yang tertancap ditubuh Ayahnya.
"Ayah, Maafin Laras... kalau aja waktu itu Laras enggak pergi begitu aja pasti Ayah sekarang masih sehat-sehat aja,"lirih Laras menggenggam tangan rapuh itu.
.
.
.
.
.
Hallo apa kabar ada yang rindu novel ini enggak?
Kalo ada jangan lupa like, komen ya.
__ADS_1